Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 49. Pasukan Kecil


__ADS_3

Malam hari itu di perkemahan pasukan Kerajaan Matraman Utara sedang berlangsung ritual yang selalu mereka lakukan sebelum peperangan dimulai.


Ritual itu tidak lain adalah pesta minum arak hingga mabuk. Mereka begitu percaya diri dengan kekuatan tempur mereka sehingga selalu melakukan ritual itu tanpa takut bahaya menyerang.


Di tengah-tengah perkemahan terlihat panglima tempur kerajaan yaitu Mahapatih Argadana sedang memegang kendi arak. Di sekelilingnya berkumpul juga seluruh senopati kerajaan dan juga ada seseorang yang mengenakan jubah hitam serta topeng berwarna merah. Mereka begitu asyik menikmati pesta sembari ditemani oleh wanita-wanita cantik.


“Ayo.. minum.. minum.. minum.” ucap Mahapatih Argadana seraya mengarahkan kendi arak kepada setiap orang yang ada di sekelilingnya.


“Kita harus merayakan kemenangan yang sebentar lagi kita raih.” lanjutnya lalu kembali mendekatkan mulut kendi ke bibirnya.


“Glek glek glek.. ahhh.”


Malam itu menjadi malam yang begitu meriah di wilayah perbatasan. Para pasukan Kerajaan Matraman Utara selain pesta minum, mereka juga pesta kembang api. Langit-langit di sekitar perbatasan terlihat terang berwarna-warni.


Sungguh ironis memang, mereka sangat percaya diri sehingga telah merayakan kemenangan yang belum pasti mereka raih.


Di antara seluruh pasukan, mungkin yang paling menderita adalah beberapa kelompok pasukan kecil yang ditugaskan untuk berjaga-jaga. Kelompok kecil itu berjumlah sepuluh orang. Mereka diberi tugas untuk berpatroli dan memeriksa keadaan sekitar. Masing-masing dari kelompok itu dibagi per dua orang untuk patroli secara bergantian.


“Sialan.. kenapa tugas ini diberikan kepada kita?” gerutu seorang penjaga kepada anggota kelompoknya.


“Tenanglah.. kita laksanakan saja. Kau mau kepala mu dipenggal karena melanggar perintah?”

__ADS_1


“Ya tidak mau.. wong aku belum kawin kok.” jawab penjaga tadi sembari tertawa cekikikan. “Aku hanya kesal gara-gara tugas ini, kita tidak bisa minum arak.” lanjutnya.


“Ya sudah, setelah perang ini selesai aku akan mentraktir dirimu untuk minum arak sepuasnya.”


“Sungguh?”


“Sungguh. Tapi ada syaratnya.”


“Apa itu?”


“Kau harus tetap hidup.. hahahaha.”


“Sialan. Aku pastikan tetap hidup hingga perang ini selesai.”


Belum sempat rekan penjaga menyadari hal yang barusan terjadi, sebuah pukulan keras mengarah ke tengkuk kepala. Penjaga itu lalu pingsan tak sadarkan diri. Untuk menghindari kecurigaan pasukan lainnya, sang penyerang menyeret kedua penjaga itu ke semak-semak yang cukup jauh lalu memastikan keduanya tak bernyawa lagi.


Penyerang itu kemudian mengambil pakaian dari sang penjaga, kemudian memakainya. Beruntung bagi sang penyerang, pakaian itu sangat pas di tubuhnya. Pakaian yang satu lagi dirinya ambil untuk diberikan kepada rekannya.


Penyerang itu dan rekannya kembali mencari penjaga yang sedang berpatroli. Hal yang sama tentu mereka lakukan berulang-ulang, setidaknya bisa mengurangi pasukan lawan sedikit demi sedikit.


Setelah berselang lama, para penyerang itu berhasil membunuh dua puluhan penjaga. Hal itu tentu sedikit menimbulkan kecurigaan kepada kelompok-kelompok yang anggotanya tidak kunjung kembali setelah berpatroli.

__ADS_1


Akhirnya, kelompok kecil itu memutuskan berpencar untuk mencari penyebabnya. Naas, di tengah perjalanan masing-masing kelompok kecil itu dibantai oleh prajurit yang mengenakan pakaian yang sama.


“Kalian berlima bawa semua mayat-mayat ini ke tempat yang jauh, jangan sampai meninggalkan jejak.” ucap sang penyerang yang ternyata pemimpin pasukan kecil itu.


“Sendika Gusti Senopati.” jawab mereka dengan suara yang sangat pelan lalu bergegas pergi seraya membawa mayat-mayat penjaga.


“Kalian yang tersisa ikut aku, kita akan menggantikan posisi penjaga-penjaga itu.”


Orang yang dipanggil senopati itu tidak lain adalah Senopati Bagas Aji yang merupakan senopati Kerajaan Matraman Barat. Senopati ini bersama sepuluh pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh terbaik, pergi menyusup ke perkemahan musuh demi mempelajari situasi. Selain itu, mereka juga berharap dapat mengurangi jumlah musuh sebanyak mungkin.


Senopati Bagas Aji bersama pasukan kemudian tiba di posisi pos penjaga. Lokasi itu tampak kosong karena seluruh prajurit yang bertugas sebagai penjaga telah berhasil mereka bunuh.


“Kalian tetaplah di sini. Aku akan menyusup lebih jauh. Aku akan mengirim beberapa prajurit ke sini dan tugas kalian adalah menghabisi mereka. Apa kalian mengerti?”


“Sendika Gusti.”


Senopati Bagas Aji mulai memasuki perkemahan agak dalam, dirinya melihat banyak prajurit yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil yang di tengahnya banyak makanan dan arak. Rata-rata dari prajurit itu berada pada tingkatan pendekar kelas satu tahap awal. Ada juga yang sudah memasuki tahap menengah namun jumlah mereka tidak banyak.


Bagas Aji kembali berkeliling, kini dirinya bisa melihat sekelompok pasukan yang berbeda dengan prajurit lainnya. Mereka mengenakan jubah hitam. Dan yang paling mengejutkan senopati ini adalah pasukan itu rata-rata berada pada tingkatan pendekar kelas ahli tahap awal.


“Celaka.. mereka pasti Kelompok Jubah Hitam. Jumlah mereka mungkin mencapai seratus orang. Keberadaan mereka sangat berbahaya. Aku harus segera melaporkan ini kepada Gusti Patih.”

__ADS_1


Senopati Bagas Aji bergegas pergi meninggalkan lokasi perkemahan itu. Namun, baru saja beberapa langkah, ada seseorang yang menghadang langkah senopati itu.


“Berhenti.. Bukankah kau?”


__ADS_2