
"Hei.. siapa kau yang cukup bodoh berani bermain-main dengan ku?" seru Gajah Ireng.
Bukannya berhenti, alunan suara seruling itu masih tetap saja mengalun merdu. Sejenak suara alunan seruling menghibur hati para penduduk yang sedang bersedih, irama seruling seperti menyiratkan ketenangan. Tanpa gerombolan perampok sadari, saat ini para penduduk memasang senyum di wajahnya. Mereka seolah yakin akan ada seseorang yang mampu menolong.
"Hei.. kunyuk sialan! Tunjukkan batang hidung mu!" suara Gajah Ireng terdengar nyaring.
"Hahaha.. kunyuk teriak kunyuk, menyedihkan sekali." tiba-tiba suara seruling berhenti berganti suara tawa mengejek.
"Setan alas, jika memang kau punya nyali tunjukkan dirimu!" teriak Gajah Ireng semakin marah.
"Aku dari tadi ada di sini, kenapa kau tidak bisa melihat ku, dasar kunyuk rendahan." suara mengejek itu berasal dari sosok pemuda yang berada di atas pohon, kemudian sosok itu melompat turun.
Sekarang di hadapan Gajah Ireng telah muncul seorang pemuda berambut hitam panjang sebahu, tubuhnya tegak tinggi, hidungnya mancung, dan wajahnya sangat tampan. Jika saja Gajah Ireng seorang wanita, sudah tentu akan terpesona oleh ketampanan pemuda ini.
Pemuda itu memakai jubah lengan panjang berwarna putih kebiruan, serta ada sebuah seruling bambu menggantung di pinggangnya. Ya, pemuda itu bernama Jaka murid dari Resi Danurwinda.
"Siapa kau?" hardik Gajah Ireng.
"Seekor kunyuk tidak pantas berbicara kepada ku." balas Jaka dengan senyum mengejek. Jaka meminta gerombolan perampok itu untuk mengembalikan semua harta benda yang mereka rampas dari para penduduk. Namun, permintaan Jaka segera ditolak mereka. Lalu terjadilah pertarungan antara Jaka dan gerombolan perampok.
"Matilah kau setan." seru Gajah Ireng lalu maju menyerang.
Gajah Ireng menyerang Jaka dengan nafsu membunuh, ia ingin segera memenggal kepala Jaka. Gajah Ireng lalu mengarahkan golok besarnya ke arah kepala, Gajah Ireng memasang senyum kemenangan saat sedetik lagi goloknya akan mengenai kepala Jaka. Namun senyum di wajah Gajah Ireng seketika sirna seiring dengan gerakan Jaka menggeser kepalanya ke samping dengan santai.
Gajah Ireng mengumpat setengah mati, lalu kembali menyerang Jaka dengan mengarahkan goloknya ke titik-titik vital tubuh Jaka. Namun serangan mematikan Gajah Ireng tidak mampu mengenai sasaran, hal ini membuat Gajah Ireng menyerang Jaka dengan membabi buta. Pola serangan Gajah Ireng saat ini terkesan asal-asalan sehingga Jaka dengan mudah dapat menghindar. Gajah Ireng sudah sangat kelelahan namun sampai saat ini serangannya tidak menghasilkan apa-apa.
__ADS_1
"Hei kalian, kenapa diam saja. Cepat bantu aku menghabisi kunyuk ini." seru Gajah Ireng meminta bantuan kepada anak buahnya.
Walaupun Gajah Ireng telah dibantu oleh sepuluh orang anak buahnya, tetap saja serangan kombinasi mereka tidak cukup untuk menyentuh ujung jubah Jaka sekalipun.
Sampai saat ini Jaka belum berniat menjatuhkan tangan jahat kepada mereka, Jaka masih ingin sedikit bermain-main.
Jaka tentu berharap para perampok ini mau bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Namun sepertinya keinginan Jaka hanya menjadi harapan, para perampok itu tetap tak mau mendengar permintaan Jaka, bahkan mereka tetap saja menyerang dengan ganas.
"Sepertinya kunyuk-kunyuk seperti kalian tidak bisa dikasih hati. Aku akan memberi kalian sedikit pelajaran." ucap Jaka, lalu tubuhnya bergerak cepat bagai kilat ke arah para perampok dan sedetik kemudian kembali ke posisi semula.
Gajah Ireng belum menyadari bahwa tiga dari sepuluh anak buahnya telah tergeletak tak bernyawa. Ketiga orang yang tewas itu tidak lagi memiliki kepala.
Hal ini membuat tujuh orang anak buah Gajah Ireng yang tersisa gemetar ketakutan. Mereka tak menyangka bahwa pemuda yang berada di hadapannya mampu membunuh tiga orang kawannya hanya dalam waktu satu kedipan mata. Dengan segera mereka bersujud meminta ampun, nyali garang mereka runtuh seketika.
Gajah Ireng yang melihat kelakuan anak buahnya seketika marah dan memakai mereka dengan sumpah serapah.
"Kau adalah pendekar kelas rendahan, kau bahkan tidak mampu melihat tingginya gunung. Mereka bahkan lebih pintar dari mu." ucap Jaka ke Gajah Ireng seraya tangannya menunjuk anak buahnya yang tersisa.
Gajah Ireng seketika marah besar mendengar ucapan Jaka, dengan segera Gajah Ireng menyerang Jaka dengan kekuatan penuh. Belum sempat Gajah Ireng bergerak lebih jauh, tiba-tiba tubuh Gajah Ireng jatuh tergeletak tanpa kepala.
Seharusnya Gajah Ireng sudah bisa memastikan bahwa ilmu kanuragan dirinya jauh berada di bawah Jaka, namun karena mata hatinya telah tertutup oleh kesombongan membuat Gajah Ireng tidak lagi mampu berpikir jernih.
Gajah Ireng terus saja menyerang Jaka, hal ini kemudian membuat Jaka menarik pedang dan menebas leher Gajah Ireng hingga kepalanya terlepas dari badan.
Sisa-sisa anak buah Gajah Ireng bertambah takut terhadap Jaka, mereka kembali bersujud meminta ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
__ADS_1
Jaka memandangi mereka sekali lagi, ada perasaan kasihan terhadap mereka. Akhirnya hati Jaka pun luluh, Jaka mengampuni mereka dan meminta mereka bersungguh-sungguh dalam berjanji untuk tidak mengulangi melakukan kejahatan.
Mereka pun mengangguk setuju dan segera mengembalikan semua harta yang mereka rampas.
Setelah selesai mengembalikan semua harta rampasan, para perampok itu menemui Jaka lagi untuk meminta izin meninggalkan desa. Jaka pun mengizinkan dan mereka bergegas berlalu pergi.
"Tuan pendekar, terimakasih telah menolong kami." ucap salah satu lelaki tua yang datang mendekati Jaka bersama dengan penduduk lainnya.
"Sama-sama ki.. " jawab Jaka terpotong karena Jaka belum tau nama laki-laki tua yang berada di hadapannya.
"Nama saya Darno, tuan pendekar bisa memanggil saya Ki Darno." ucap laki-laki tua itu memperkenalkan diri. Ki Darno ini merupakan kepala desa di wilayah ini.
Kemudian Ki Darno mengajak Jaka untuk singgah barang sebentar di kediamannya sebagai ucapan terimakasih. Jaka ingin menolak namun Jaka tidak sampai hati bila tindakannya malah mengecewakan Ki Darno, akhirnya Jaka bersedia menerima tawaran itu.
Setelah sampai di kediaman Ki Darno, Jaka dipersilahkan untuk duduk di ruang tamu sedangkan Ki Darno pamit masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian Ki Darno keluar lagi dengan membawa air minum dan sepiring ubi rebus. Jaka menikmati hidangan itu sembari berbincang dengan Ki Darno.
Menurut cerita Ki Darno, desa ini bernama Banjar Sari. Desa Banjar Sari ini terletak di wilayah Kerajaan Matraman Utara. Kehidupan penduduk di desa ini kurang bisa untuk dikatakan baik. Hal ini terjadi karena pihak kerajaan menarik upeti dalam jumlah yang besar. Tentu penduduk desa sangat kesulitan untuk memenuhi aturan tersebut.
Tidak jarang juga wilayah desa ini diserang gerombolan perampok, contohnya ya baru saja kan terjadi, untung ada Jaka.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, sang mentari telah menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Ki Darno meminta Jaka untuk bermalam di rumahnya, Jaka pun mengiyakan.
Setelah peristiwa heroik Jaka melawan gerombolan perampok di Desa Banjar Sari, nama Jaka segera terkenal di seluruh penjuru desa. Penduduk desa kemudian memberi gelar kepada Jaka yaitu Pendekar Seruling Bambu. Penduduk memilih nama ini disebabkan karena Jaka selalu membawa seruling bambu bersamanya.
Inilah awal kisah, cerita Jaka sang Pendekar Seruling Bambu. Selamat menyaksikan..
__ADS_1