Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 39. Memperkenalkan Diri


__ADS_3

"Siapa mereka?" tanya Ki Jagad Roso yang melihat adiknya membawa dua orang asing ke kediamannya.


"Nanti akan aku jelaskan Kang, sekarang izinkan kami masuk dulu.."


Ki Jagad Roso kemudian membawa mereka semua ke ruang belakang. Di ruangan itu terdapat beberapa kursi rotan dan tiang kayu yang berada di tengah ruangan. Penyusup yang Jaka bawa diikat di tiang kayu itu, sedangkan bocah kecil yang hampir menjadi korban penculikan didudukkan di kursi rotan. Tidak lupa Jaka melepaskan totokan yang ada di leher bocah kecil itu.


"Ini kan Banu, anaknya Ki Slamet. Bagaimana bisa bersama kalian?" Ki Jagad Roso bertanya dengan penuh keheranan, lalu dirinya meraih tubuh anak itu yang kembali mulai merasa kerakutan. Setelah dipeluk oleh Ki Jagad Roso, bocah yang bernama Banu itu tampak lebih tenang.


Wirabumi yang ingin menceritakan semua hal yang telah terjadi sejenak menatap Jaka seperti ingin meminta persetujuan, Jaka yang seakan mengerti isyarat itu segera menganggukkan kepalanya.


Wirabumi kemudian menjelaskan peristiwa yang terjadi secara detail, diawali dari dirinya yang mengejar dua orang penyusup, pertemuannya dengan Jaka, hingga pertarungan Jaka yang berhasil meringkus kedua penyusup itu.


Ki Jagad Roso yang mendengarkan penjelasan Wirabumi sesekali menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu dirinya menatap Jaka dengan penuh selidik, "Bukankah kau pemuda yang baru datang kemarin sore?"


Jaka mengangguk lalu tersenyum, "Dan aku juga pemuda yang kalian curigai.."


Ki Jagad Roso yang telah mengetahui kesalahannya segera meminta maaf kepada Jaka, "Maafkan sikap kami jika telah menyinggung tuan pendekar.." ucap Ki Jagad Roso seraya menundukkan kepalanya.


"Lupakan saja, lagipula aku tidak mengambil hati. Masih banyak yang lebih penting.." jawab Jaka seraya menatap tajam penyusup yang telah sadar dari pingsannya.


Jaka ingin mengintrogasi penyusup yang ada di hadapannya, namun sebelum itu Jaka mengambil benda misterius yang ada di sela-sela gigi penyusup itu.


"Racun.. ternyata benar dugaan ku.." gumam Jaka.


Setelah berhasil menghilangkan racun yang sangat berbahaya itu, Jaka mulai mengintrogasi sang penyusup. Butuh waktu yang cukup lama untuk mendapatkan sebuah informasi yang Jaka inginkan. Penyusup itu selalu menolak memberi keterangan, dirinya lebih memilih mati daripada memberikan informasi yang bersifat rahasia itu.


Setelah empat jam lamanya, barulah Jaka berhasil mendapatkan beberapa informasi. Informasi ini pun tidaklah mudah Jaka dapatkan, Jaka perlu menggunakan beberapa cara agar bisa membuka mulut penyusup itu. Setelah mendapatkan informasi yang diinginkan, Jaka membunuh penyusup itu.


Semua orang yang melihat perbuatan Jaka hanya diam tak bergerak, tidak berani mencegah apalagi menentang. Terlebih lagi setelah melihat langsung cara Jaka mengintrogasi, membuat mereka semakin takut akan sosok pemuda yang ada di hadapan mereka.


"Sungguh berbahaya jika penyusup itu kita lepaskan, bisa jadi dia menggagalkan rencanaku untuk menyerang ke sarang mereka." ucap Jaka setelah melihat perubahan raut wajah orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya tuan pendekar ini?" Ki Jagad Roso memberanikan diri bertanya kepada Jaka.


"Namaku Jaka, aku seorang pengembara, orang-orang memanggilku Pendekar Seruling Bambu. Selain itu aku juga seorang Senopati Kerajaan Matraman Barat."


"Jederr.." bagai ada suara petir di telinga Ki Jagad Roso dan Wirabumi ketika mendengar pengakuan pemuda yang sedang berdiri di hadapan mereka. Sebelumnya memang telah tersiar kabar bahwa Yang Mulia Raja Angga telah mengangkat seorang senopati baru, namun Ki Jagad Roso tidak pernah menduga bahwa senopati baru itu ternyata usianya masih sangat muda.


“Ampun.. ampuni kami Gusti Senopati. Kami sungguh tidak mengetahui.." Ki Jagad Roso berkata dengan tergagap, lalu menjatuhkan diri berlutut hormat yang juga diikuti oleh Wirabumi.


Jaka yang menyaksikan hal itu langsung membantu Ki Jagad Roso serta Wirabumi untuk berdiri, "Tidak perlu sungkan Ki.." ucapnya.


Ki Jagad Roso kemudian menyuruh Wirabumi untuk menguburkan mayat penyusup, dan mengantarkan Banu untuk pulang ke rumahnya. Sedangkan Ki Jagad Roso mengajak Jaka ke ruang tamu. Di ruang tamu itu, Ki Jagad Roso menjamu Jaka dengan berbagai hidangan dan arak manis.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuan Gusti Senopati.." ucap Ki Jagad Roso.


"Tidak perlu sungkan Ki, sudah menjadi kewajiban ku." jawab Jaka.


Namun lagi-lagi Ki Jagad Roso mengucapkan banya-banyak terimaksih. Jaka hanya menggeleng dibuatnya, lalu meneguk arak yang telah dirinya tuangkan ke dalam gelas perunggu.


***


Di bagian dalam hutan yang bernama Hutan Larangan, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar. Di sekelilingnya berdiri juga bangunan-bangunan yang lebih kecil, jika dihitung jumlahnya mungkin berjumlah lima bangunan kecil.


Di dalam bangunan yang paling besar, nampak seseorang sedang berlutut menghadap kursi yang menyerupai singgasana kerajaan.


Di kursi itu tengah terduduk seseorang yang memakai jubah hitam hingga menutupi kepala, dan orang itu memakai topeng berwarna kuning di wajahnya.


Dari perawakan tubuhnya yang terlihat menonjol di beberapa bagian, menunjukkan bahwa orang itu adalah seorang wanita. Wanita itu tengah kecewa karena anggotanya gagal melaksanakan tugas.


“Siapa orang yang telah menggagalkan rencana kita?


"Ampun Nyi.. dugaan hamba itu adalah orang yang sama yang telah menghancurkan markas anggota kita di puncak Bukit Buah Batu."

__ADS_1


"Apa kau yakin?"


"Sangat yakin Nyi.. hamba telah dua kali hampir kepergok orang itu."


"Baiklah, perketat penjagaan di sekitar pintu masuk. Firasatku mengatakan bahwa orang itu cepat atau lambat akan menyatroni wilayah kita."


"Baik Nyi, akan hamba laksanakan.."


***


Jaka yang telah berhasil mengetahui sarang dari Kelompok Jubah Hitam segera bergerak menuju Hutan Larangan. Hutan itu tidak terlalu jauh dari perbatasan Kerajaan Matraman Barat dengan Matraman Utara, mungkin membutuhkan waktu sehari perjalanan dari lokasi Jaka yang sekarang.


"Terimakasih karena telah mengantarku.." ucap Jaka seraya menepuk bahu Wirabumi.


"Sudah menjadi kewajiban hamba Gusti Senopati.."


"Sekarang kembalilah ke desa, lepas dari sini aku akan bergerak sendiri."


"Tapi Gusti... "


Wirabumi diam sejenak, dirinya berharap akan diajak dalam pertarungan Jaka kali ini, namun sepertinya langit belum mengizinkan. "Baiklah Gusti, berhati-hatilah.."


Jaka tersenyum lalu melompat pergi, saking cepatnya Jaka sekilas terlihat seperti bayangan putih di mata Wirabumi. "Ilmunya sangat mengagumkan.." gumamnya.


Jaka meneruskan perjalanan dengan hati-hati, khawatir jika pergerakannya telah diketahui musuh. Tidak jarang Jaka berhenti barang sebentar mengamati wilayah sekitar, setelah dirasa aman Jaka melanjutkan perjalanan.


Setelah menempuh waktu satu hari lamanya, Jaka telah tiba di tepi Hutan Larangan. Hutan itu begitu sepi, bahkan suara burung nyaris tidak terdengar.


Jaka melangkah masuk ke dalam hutan, selangkah demi selangkah. Hening.


Jaka hendak melangkah lebih dalam, namun ada seberkas cahaya keperakan melaju ke arahnya.

__ADS_1


"Tring.. "


__ADS_2