
Kembali ke peperangan besar yang sedang terjadi antara tuan rumah Kerajaan Matraman Barat melawan musuhnya yakni Kerajaan Matraman Utara. Kini perang besar itu telah memasuki hari ke tujuh, sudah tak terhitung lagi jumlah korban yang jatuh dari kedua belah pihak.
Di daerah bekas pertempuran terlihat ribuan mayat prajurit bergelimpangan dimana-mana, menyisakan rasa ngeri bagi siapapun yang memandangnya.
Saat ini, pasukan Kerajaan Matraman Utara tengah mengepung pasukan Kerajaan Matraman Barat. Pasukan musuh berhasil memukul mundur pasukan tuan rumah hingga mendekati kotaraja.
Hasil ini tidak terlepas dari keputusan dari Kelompok Jubah Hitam yang memutuskan untuk terlibat perang sedari awal.
Keputusan ini tentu berakibat buruk bagi tuan rumah yang memang sedari awal sudah kalah dalam hal jumlah pasukan. Apalagi dari masing-masing anggota Kelompok Jubah Hitam rata-rata berada pada tingkat pendekar kelas ahli tahap awal, sedangkan dari pihak tuan rumah rata-rata masih berada pada tingkat pendekar kelas satu. Sungguh perbedaan kekuatan yang sangat jauh.
Setiap satu pendekar kelas ahli tahap awal mampu menghadapi lima pendekar kelas satu sekaligus. Hal ini sangat menguntungkan bagi pihak musuh.
Dari 50.000 pasukan musuh, kini masih tersisa setengahnya. Sedangkan dari pihak tuan rumah mungkin masih sekitar belasan ribu. Jumlah yang tidak berimbang.
Hari ini perang kembali berkobar, para prajurit Matraman Barat berusaha semaksimal mungkin untuk memukul pasukan musuh menjauhi wilayah kotaraja. Namun itu bukanlah hal yang mudah sebab saat ini musuh masih unggul dalam hal jumlah dan kekuatan.
Suara denting senjata kembali beradu dan debu-debu kembali berterbangan menghiasi jalannya pertempuran. Pedang-pedang lawan menyasar tubuh lalu dibalas pula dengan tusukan yang mematikan. Akhirnya, dua prajurit yang sedang berhadapan rubuh tak bernyawa.
Di lain sisi, Mahapatih Kemuning Banyu terlihat risau akibat situasi perang yang tidak menguntungkan. Semakin lama korban semakin banyak yang berjatuhan dari pihaknya.
__ADS_1
Hal ini sedikit memaksa sang mahapatih untuk turun langsung ke medang perang.
Mahapatih Kemuning Banyu sudah siap dengan perlengkapan perang serta dua bilah pedang di tangan kanan dan kirinya. Hal ini menunjukkan bahwa sang mahapatih merupakan pengguna senjata dua pedang kembar. Dengan penuh keberanian, sang mahapatih langsung masuk ke arena pertempuran.
Tidak butuh waktu lama, kedua pedang yang semula berwarna putih polos langsung dihiasi oleh warna merahnya darah. Korban demi korban mulai berjatuhan akibat ketajaman pedang sang mahapatih.
Mahapatih Kemuning Banyu bertarung bak singa yang sedang terluka. Setiap ayunan pedangnya selalu meminta korban dari pihak lawan. Hal ini secara tidak langsung mampu mengurangi jumlah musuh dengan sangat cepat.
Sang mahapatih terus menyasar musuh yang berada di jangkauan pedangnya, sesekali sang mahapatih memilih lawan yang berada di tingkat pendekar kelas ahli. Lambat laun akhirnya Mahapatih Kemuning Banyu bentrok langsung dengan Kelompok Jubah Hitam.
Mahapatih Kemuning Banyu saat ini berada pada tingkat pendekar kelas sakti tahap menengah. Tidak sulit bagi dirinya untuk melawan belasan pendekar kelas satu tahap awal sekaligus. Satu demi satu anggota kelompok jubah hitam tewas bermandikan darah.
“Aku lawanmu tua bangka!” seru Pendekar Topeng Merah seraya menahan laju dari pedang Mahapatih Kemuning Banyu.
“Oh? Akhirnya kau muncul juga. Aku memang sedang menantikan dirimu.” jawab sang mahapatih.
“Benarkah? Aku cukup tersanjung bisa melawanmu hari ini. Apakah kau tau pak tua? Harga untuk kepalamu sungguh mahal.”
“Kalau begitu, silahkan ambil sendiri kepalaku jika kau mampu.”
__ADS_1
Usai berkata demikian, Mahapatih Kemuning Banyu maju menyerang dengan kedua pedang terhunus. Setiap serangan yang dilancarkannya sungguh mematikan. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, keduanya telah bertukar belasan jurus.
“Jaga kepalamu dengan baik, tua bangka!” seru Pendekar Topeng Merah.
Kali ini gantian Pendekar Topeng Merah yang menyerang setelah berhasil keluar dari kepungan jurus Mahapatih Kemuning Banyu. Serangannya kali ini langsung mengarah ke kepala lawan.
Mahapatih Kemuning Banyu yang diserang, dengan cepat memundurkan badannya sedikit ke belakang. Setelah itu bergerak ke samping dan maju menyerang balik. Pendekar Topeng Merah yang tidak siap, mau tidak mau menahan serangan itu dengan gagang tombaknya.
“Trang..”
Akibat beradunya kedua senjata itu menimbulkan efek kejut di antara mereka. Sekilas Pendekar Topeng Merah memperhatikan tangannya yang sedikit gemetar. “Tenaga dalamnya berada di atas ku.” gumamnya.
Di saat keduanya ingin melanjutkan pertarungan, samar-samar terdengar suara gaduh dari sisi lain.
Pasukan Matraman Utara yang berada di sisi berlainan tiba-tiba diserang oleh pasukan besar yang baru saja tiba.
Awalnya mereka mengira pasukan itu adalah sekutunya, namun setelah pasukan besar itu semakin dekat justru malah menyerang mereka.
Akibat serangan yang mendadak itu, pihak pasukan Matraman Utara kocar kacir melarikan diri.
__ADS_1
"Hm? Siapa mereka?" gumam Mahapatih Kemuning Banyu.