Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 21. Kisah Ki Rana


__ADS_3

Setelah cukup lama memperhatikan Jaka, lelaki bercaping bambu itu mendekati Jaka dan duduk di satu meja yang sama. Jaka terheran dengan kedatangan lelaki tua itu, Jaka merasa belum pernah bertemu dengannya. Selain menggunakan caping bambu, lelaki tua itu memakai pakaian berwarna hitam.


"Maaf Kisanak, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Jaka.


"Pernah.. walaupun baru sekali. Apakah kau sudah melupakanku?” lelaki tua itu balik bertanya seraya membuka caping bambunya lalu memakainya kembali. Jaka terkejut dengan lelaki tua yang sekarang berada di hadapannya. Hampir saja mulut Jaka keceplosan menyebut nama lelaki tua itu namun segera diurungkan setelah melihat tanda isyarat untuk tetap diam. Ya, lelaki tua inilah yang bergelar pendekar Sang Pencabut Nyawa.


"Paman, apa yang sedang paman lakukan di desa ini?" tanya Jaka.


"Aku hanya sedang menunggu anak-anak tikus yang sudah lama aku cari." jawabnya enteng.


Anak tikus? Jaka sebenarnya belum paham dengan apa yang dikatakan oleh pendekar di depannya, namun Jaka tidak ingin membahas lebih lanjut. Jaka kemudian memesan lagi seguci arak berkualitas bagus untuk mereka minum berdua.


"Oh iya, kau bisa memanggilku dengan nama Ki Rana." lalu dijawab dengan anggukkan kepala oleh Jaka.


"Kau sendiri apa yang sedang kau lakukan di desa ini?" tanya Ki Rana.


"Oh.. kalau aku hanya sekedar lewat paman. Aku ingin menuju Kerajaan Matraman Barat." jawab Jaka.


Ki Rana mengerenyitkan keningnya setelah mendengar jawaban Jaka, dirinya tidak menyangka bahwa Kerajaan Matraman Barat lah yang menjadi tujuan Jaka. Kerajaan itu kondisinya bisa dibilang cukup menghawatirkan, sedikit demi sedikit wilayah itu diinvasi oleh pasukan Kerajaan Matraman Utara.


Ki Rana kemudian menanyakan alasan Jaka menuju kerajaan itu. Jaka pun menjelaskan bahwasanya Jaka baru saja menyelesaikan pelatihannya, kemudian Jaka diminta oleh gurunya untuk turun gunung sekedar mencari pengalaman serta membantu rakyat yang kesulitan. Tidak lupa juga Jaka menjelaskan permintaan khusus gurunya yaitu untuk menemui Raja Angga dari Kerajaan Matraman Barat.

__ADS_1


"Siapa gurumu Jaka?" tanya Ki Rana.


"Eyang Resi Danurwinda." jawab Jaka singkat.


Seketika Ki Rana tersedak dengan nafasnya sendiri, lalu menuangkan arak ke gelas perunggu kemudian meminumnya hingga habis. Ki Rana masih tidak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar, Ki Rana lalu menanyakannya sekali lagi dan lagi-lagi mendapat jawaban yang sama dari Jaka.


"Jaka, ada baiknya kita mencari tempat yang lebih leluasa." Ki Rana beranjak meninggalkan kedai namun sebelumnya membayar semua hidangan yang dipesan dirinya dan Jaka. Jaka lalu mengikuti kaki Ki Rana melangkah.


Kini mereka telah berada di hutan dekat Desa Batang Hari. Ki Rana menjelaskan bahwa Desa Batang Hari adalah bagian dari Kerajaan Matraman Utara. Dirinya khawatir di desa itu ada orang-orang dari Kerajaan Matraman Utara. Di tempat ini mereka berdua dapat berbincang sepuasnya tanpa takut ada yang mendengar. Keduanya lalu mencari tempat duduk yang nyaman di bawah pohon yang rindang.


Ki Rana sungguh tidak percaya, sepengetahuan dirinya Resi Danurwinda telah menghilang dari rimba persilatan lebih dari sepuluh tahun lamanya. Saat ini malah di hadapannya muncul seorang pemuda yang mengaku sebagai murid dari Resi Danurwinda.


"Tidak paman, aku berani bersumpah atas nama langit." jawab Jaka meyakinkan.


Jaka kemudian menjelaskan awal mula pertemuannya dengan Resi Danurwinda, diawali dari kisah desanya yang direbut paksa oleh pasukan Kerajaan Matraman Utara. Jaka yang masih kecil kemudian memutuskan meninggalkan desa dan malah pingsan di tengah hutan. Resi Danurwinda lah yang menolongnya dan mengajarkan ilmu kanuragan kepada dirinya.


"Mungkin ini adalah takdir mu Jaka."


"Kelak kau akan menjadi pendekar tanpa tanding di masa depan." ucap Ki Rana.


Jaka hanya menatap Ki Rana tanpa berniat menjawab pernyataannya.

__ADS_1


Ki Rana kemudian menceritakan kepada Jaka tentang dirinya. Ki Rana berasal dari Desa Rawa Embun yang kini menjadi wilayah Kerajaan Matraman Selatan. Suatu ketika Ki Rana sedang meninggalkan desa untuk menjadi seorang pendekar, dirinya bertapa di sebuah gua yang dekat dengan lereng gunung Rawa Embun.


Sebelumnya Ki Rana telah bermimpi menjadi seorang pendekar yang hebat, dirinya menolong orang-orang yang lemah dan membasmi keangkara murkaan. Mimpi itu terjadi selama tiga malam berturut-turut. Ki Rana menjadi bimbang tentang kebernaran dari mimpinya. Dirinya menganggap bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur.


Lalu Ki Rana menceritakan mimpi itu kepada istrinya, tak disangka sang istri justru menyarankan untuk mengikuti petunjuk dari mimpinya. Sang istri berpendapat bahwa mimpi itu bukanlah sekedar bunga tidur jika kejadiannya berulang-ulang seperti yang dialami oleh suaminya.


Akhirnya dengan langkah mantap Ki Rana meninggalkan desa dan mencari tempat yang sesuai dengan petunjuk mimpinya. Tempat itu adalah sebuah gua yang berada di lereng gunung. Gua itu ditutupi oleh semak belukar, di dekat pintu masuk ditumbuhi rerumputan yang menjulang hingga menutup pintu masuk gua itu. Setelah menemukan pintu gua tersebut, Ki Rana mulai memasukinya.


Gua itu seperti telah lama tidak ada yang menghuninya, terlihat dari banyaknya sarang kelelawar dan jaring laba-laba. Ki Rana masuk lebih dalam dari gua itu, dirinya menemukan sebuah ruangan yang cukup luas.


Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah batu hitam yang cukup rata, batu hitam ini bisa dijadikan tempat untuk bersemedi.


Di gua itu Ki Rana mendapat pencerahan tentang ilmu kanuragan dan kesaktian setelah bertapa selama tiga kali purnama. Di gua itu pula Ki Rana belatih sangat giat selama lima tahun, hal ini bisa terjadi karena Ki Rana sudah tidak muda lagi dan bakatnya yang tidak seberuntung orang lain.


Di dalam gua itu pula Ki Rana mempelajari Ajian Brajamusti, ajian ini sangatlah hebat. Menurut kitab yang ditemukannya di dalam gua itu, Ajian Brajamusti terbagi menjadi empat tingkatan. Tingkatan itu adalah tingkat pemula, menengah, puncak, dan tingkat sempurna. Ajian ini memungkinkan penggunanya mampu meluluh lantahkan target yang menjadi incarannya, baik itu benda mati seperti batu, pohon, dan pendekar sekalipun jarang ada yang bisa menandingi ajian ini.


Saat ini Ki Rana telah mencapai tingkatan puncak dari Ajian Brajamusti. Dengan ajian ini Ki Rana telah banyak membunuh pendekar dari aliran hitam. Hingga suatu ketika Ki Rana bertemu dengan Resi Danurwinda, keduanya sempat terlibat pertarungan sengit akibat terjadi salah paham di antara mereka.


Ki Rana yang sudah percaya diri dengan Ajian Brajamusti miliknya mampu dikalahkan oleh Resi Danurwinda. Beruntung Resi Danurwinda tidak ada niat untuk membunuhnya waktu itu. Resi Danurwinda kemudian menasehati Ki Rana untuk tidak mengikuti hawa nafsunya dalam membunuh. Ki Rana ingin mengucapkan terimakasih kepada Resi Danurwinda namun sang resi sudah tidak ada di hadapannya. Setelah pertemuan itu dirinya tidak pernah bertemu lagi hingga saat ini.


"Begitulah kisah ku Jaka hingga aku bertemu dengan gurumu."

__ADS_1


__ADS_2