
Serangan yang dilancarkan pasukan kecil itu sungguh merepotkan, bagaimana tidak? Hanya dengan empat puluh orang pemanah, mereka mampu membakar hampir seratusan tenda-tenda musuh. Banyak jeritan pasukan yang terdengar, jeritan yang diiringi dengan bau daging yang terbakar.
Pemanah-pemanah itu sangat lihai dalam mengarahkan bidikannya, mereka berpindah-pindah tempat mencari lokasi sasaran. Tidak butuh waktu lama, perkemahan itu menjadi lautan api. Mereka baru berhenti membidik ketika persediaan anak panah mereka telah habis.
“Senopati, celaka. Kita kehabisan anak panah.” lapor salah satu dari penyerang itu.
“Mundur. Kembali ke posisi semula.”
Belum lama pasukan penyerang itu bergerak mundur, langkah mereka dihentikan oleh sekelompok pasukan musuh yang berjumlah sekitar seratus orang. Aura membunuh segera menyelimuti daerah sekitar perkemahan.
“Oh? Inikah orang-orang yang berani mengacau di perkemahan kami?” ucap seseorang yang berbadan tegap, kumis tipis melekat di atas bibirnya, dan matanya yang tajam menatap tepat ke arah Senopati Bagas Aji.
Senopati itu tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan maju menyerang dengan pedang terhunus di tangan. Samberan pedangnya sangat berbahaya, sekali pedang terayun maka dapat dipastikan akan memakan korban.
Pasukan penghadang itu memberikan perlawanan yang sengit, namun tetap saja mereka bukanlah lawan yang sepadan untuk pendekar sekelas senopati kerajaan. Dalam waktu yang sebentar saja, Senopati Bagas Aji mampu mengurangi jumlah pasukan musuh hingga separuh jumlahnya.
Namun hasil itu tidak serta merta membuat sang senopati gembira sebab ratusan prajurit yang lain sedang menuju ke arahnya. “Sial, mereka datang terlalu cepat.”
__ADS_1
“Kalian segera pancing pasukan musuh ke lokasi yang telah direncanakan.” perintah sang senopati kepada pasukannya. “Aku akan menahan sebisa ku.”
Pasukan kecil itu dengan cepat berlari menuju hutan, sedangkan senopati itu terus bertarung untuk mengurangi jumlah musuh.
“Seraaaaaaangggg....” teriak pasukan musuh yang baru saja tiba.
“Argh.. sial. Aku tidak akan mampu bertahan lebih lama. Sebaiknya aku jalankan rencana berikutnya.” gumam Senopati Bagas Aji.
Senopati itu sekali lagi memberikan perlawanan sebelum melompat menjauhi pertempuran lalu menyusul pasukannya.
“Kejar terus! Mereka kabur ke arah hutan. Kepung mereka!”
**
Di dalam tenda yang cukup besar, terlihat Mahapatih Argadana sedang menikmati arak dan sebuah tarian. Namun kesenangan sang mahapatih harus terusik ketika ada seorang prajurit yang tiba-tiba memasuki tendanya.
“Ampun, Gusti. Ada kabar buruk. Ketiwasan, Gusti.” lapor prajurit itu.
__ADS_1
“Ada apa? Berbicaralah yang lengkap!” bentak sang mahapatih.
“Per.. per.. perkemahan kita diserang.” jawab prajurit itu ketakutan.
Mahapatih Argadana bukannya terkejut malah menyunggingkan senyuman di bibirnya. Dirinya seperti terlihat begitu senang dengan laporan prajuritnya itu.
“Oh.. si tua itu bertindak lebih cepat rupanya. Sepertinya perang ini akan lebih menarik.”
Mahapatih Argadana bangkit dari tempatnya dan langsung menuju sumber kebakaran. Setibanya di lokasi kejadian, beberapa prajurit menyambutnya dengan wajah panik.
Senopati Surya Wisesa yang lebih dulu berada di lokasi segera memberikan laporan. Saat ini pasukannya sedang mengejar orang-orang yang telah berani mengganggu kesenangan mereka. Alih-alih senang dengan laporan yang diberikan, Mahapatih Argadana justru marah besar.
“Bodoh! Apa kau tidak belajar dari perang yang telah kau jalani sebelumnya, Surya Wisesa? Mereka sengaja berlari ke arah hutan agar kalian mengejarnya, setelah itu kalian pasti akan mati sebab hutan itu pasti sudah dipenuhi jebakan yang mematikan.”
Setelah mendengar panjang lebar penjelasan dari Mahapatih Argadana, Senopati Surya Wisesa baru menyadari kesalahannya. Pantas saja ketika dirinya bertarung dengan pimpinan penyerang itu, dirinya tidak mendapatkan perlawanan yang berarti.
Saat ini pasti sudah terlambat untuk menarik pasukan yang telah dikerahkan. Walaupun demikian, Senopati Surya Wisesa tetap menuju ke hutan untuk memastikan kondisi pasukannya.
__ADS_1
Setibanya di tepi hutan, senopati itu disuguhkan dengan mayat-mayat yang bergelimpangan. Surya Wisesa memutuskan untuk masuk lebih dalam, pemandangan yang dilihatnya pun hampir sama. Pasukannya tewas dengan tubuh tertembus panah, ada yang terjerumus ke dalam lubang, dan sebagian lagi ada yang tersangkut di batang pohon.
“Strategi yang menarik. Aku pastikan kalian semua akan menerima pembalasan ku.”