
Mahapatih Argadana memperhatikan pertarungan Jaka dengan dua orang bawahannya, sesekali dirinya berdecak kagum atas kemampuan yang Jaka perlihatkan.
“Kemampuannya sangat tinggi untuk pendekar seusianya. Sangat disayangkan bahwa pemuda itu bukan bagian dari Matraman Utara.” gumam Mahapatih Argadana.
Mahapatih Argadana kembali memperhatikan Jaka yang mampu mengalahkan lawannya dengan sangat mudah. Sedetik kemudian dengan sangat cepat, Mahapatih Argadana meninggalkan Jaka dan yang lainnya.
Mahapatih Argadana sebenarnya masih ingin melanjutkan pertarungannya dengan Jaka, namun niat itu segera diurungkan ketika dirinya teringat dengan keamanan Raja Putra.
Saat pertempuran masih berada pada puncaknya, seluruh pasukan Kerajaan Matraman Utara kocar kacir akibat kehilangan pemimpin pasukan. Para senopati yang menjadi pemimpin pasukan rata-rata telah dikalahkan dan sebagian lagi ada yang terbunuh.
Peta pertempuran ini bergeser semenjak kedatangan Jaka dan Tantra Langit, terutama kedatangan Jaka dengan seruling sakti di tangannya. Alunan irama serulingnya itu mampu membunuh hampir seribu orang dari pasukan lawan.
Di dalam suatu pertempuran, jika hanya mengandalkan jumlah pasukan belum tentu bisa menjamin kemenangan akan mudah didapatkan. Hal ini sudah dibuktikan langsung oleh Jaka dan Tantra Langit. Kedua orang ini mampu memberikan pertolongan kepada pasukan Matraman Barat tepat pada waktunya.
Para prajurit Matraman Barat yang merasa posisinya di atas angin mulai menyasar lawan-lawan yang berada di dekat mereka, termasuk juga Raja Putra yang terlihat mulai pasrah atas hasil pertempuran yang akan diperoleh pihaknya.
__ADS_1
Raja Putra yang lepas dari kawalan Mahapatih Argadana memberikan perlawanan dengan sangat sengit. Kemampuannya tidak buruk, saat ini Raja Putra berada pada tingkatan pendekar ahli tahap menengah, satu dua jurus berhasil dikuasainya dengan sangat baik.
Permainan pedang yang ditunjukkan Raja Putra merupakan bagian dari Teknik Pedang Naga Langit, teknik yang sama sesuai dengan yang Jaka kuasai. Teknik itu begitu ampuh ketika Raja Putra pergunakan untuk melawan prajurit-prajurit kelas bawah.
Namun keberuntungan itu segera sirna seiring dengan kedatangan Mahapatih Durada. Walaupun masih dalam keadaan terluka cukup parah, Mahapatih Durada merasa mampu jika hanya harus melumpuhkan Raja Putra.
Pertarungan di antara keduanya tidak bisa dielakkan lagi, jurus demi jurus mulai mereka keluarkan. Akan tetapi pertarungan itu berjalan sangat singkat, tanpa diduga sama sekali Raja Putra berhasil memberi luka sekaligus mengalahkan Mahapatih Durada.
Setelah pertarungan itu selesai, Raja Putra bergegas meninggalkan lokasi pertempuran.
**
Raja Angga telah memperintahkan seluruh pelayan dan para prajurit yang tidak ikut bertempur untuk membersihkan mayat-mayat yang tersisa. Sedangkan bagi prajurit yang terluka dipersilahkan untuk beristirahat dan mendapatkan pengobatan yang layak.
Pertempuran besar yang berlangsung hampir sepekan itu memang telah usai dan Matraman Barat berhasil keluar sebagai pemenangnya.
__ADS_1
“Tunggu dulu! Pemenang?”
“Tidak!”
“Apakah ini pantas disebut sebagai sebuah kemenangan?” gumam Raja Angga yang sedang berada di pendopo istana.
Meskipun berhasil memukul mundur pasukan musuh, tetapi korban yang diterima pasukan Matraman Barat juga sangat banyak. Lebih dari tiga perempat kekuatan tempur Matraman Barat lumpuh total.
Belum lagi kerugian yang diterima dengan banyaknya rumah-rumah penduduk yang rusak parah akibat ulah pasukan musuh. Ribuan penduduk yang harus mengungsi dan juga kehilangan lapangan pekerjaan.
Raja Angga mengepalkan tangan kanannya dan diangkat sampai sebatas dada, “Aku harus menjadi lebih kuat, agar aku bisa melindungi seluruh rakyat sesuai dengan cita-cita ayahanda.” ucap Raja Angga dengan semangat yang telah berkobar di dada.
“Memang sudah seharusnya seperti itu, Gusti. Aku akan membantu Gusti Prabu untuk mewujudkan cita-cita itu.” ucap Jaka yang baru saja tiba.
Raja Angga mengangkat sebelah alisnya ke atas, dirinya belum mengerti dengan perkataan yang Jaka ucapkan.
__ADS_1
“Apa maksudmu, Jaka?” tanya Raja Angga.
“Lepas tiga hari dari sekarang, aku akan memimpin pasukan untuk menaklukan Matraman Utara. Aku mohon izinmu, Gusti Prabu.” ucap Jaka seraya mengambil sikap berlutut.