
Tidak lama setelah matahari menghilang di ufuk barat, Jaka baru saja tiba di puncak gunung. Tubuhnya sangat lelah akibat berlari tanpa henti, sejenak ia ingin istirahat dengan merebahkan tubuhnya.
"Ah... aku sangat lelah...." gumam Jaka.
"Ada baiknya aku tidur barang sebentar, setelah itu baru aku mencari guru." ucap Jaka sembari mencari tempat untuk tidur.
Dari atas sebuah pohon ada seorang kakek yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Jaka. Kakek itu berambut putih panjang, rambutnya diikat dengan kain putih dan pakaiannya pun serba putih. Sekilas penampakan nya seperti hantu di tengah malam. Tak salah lagi kakek itu adalah Resi Danurwinda, guru dari Jaka.
"Tidur lah Jaka, istirahatkan tubuh mu." gumam Resi Danurwinda.
Setelah bergumam demikian, Resi Danurwinda melesat dari cabang pohon yang satu ke cabang pohon lainnya. Resi ini ingin mencari binatang hutan dan buah-buahan untuk dijadikan makanan malam ini.
Untungnya malam ini bulan bersinar terang sehingga penampakan di puncak gunung masih terlihat jelas, ini menguntungkan bagi Resi Danurwinda.
Baru beberapa tarikan napas, Resi Danurwinda telah kembali dengan dua ekor ayam hutan di tangan kiri dan beberapa buah-buahan di tangan kanan. Setelah itu Resi Danurwinda mengumpulkan ranting untuk membuat perapian dan segera memanggang ayam hutan tersebut.
Tidak butuh waktu lama, aroma nikmat ayam panggang segera menyebar ke seluruh penjuru puncak gunung, tak terkecuali ke hidung Jaka.
"Uh.. aroma apa ini, sepertinya sangat enak." gumam Jaka dengan mata yang masih terpejam, hidungnya bergerak-gerak mencium aroma itu.
Karena sudah tidak tahan menahan aroma sedap itu, ditambah lagi suara perut yang semakin kuat meronta, Jaka membuka mata dan bergerak bangun. Pertama kali yang dilakukannya adalah mencari sumber aroma ayam panggang, dan pandangannya seketika berhenti ke satu arah.
"Guru... " teriak Jaka seraya berlari menghampiri gurunya.
"Ah... Jaka, kau sudah bangun. Ini makan lah, kau pasti sudah lapar." ucap sang guru sembari menyerahkan satu ekor ayam panggang.
"Iya guru, terimakasih." jawab Jaka singkat.
Sekarang Jaka tengah sibuk memakan ayam panggang itu, dimakannya satu per satu bagian dari ayam itu hingga habis tak tersisa. Namun perutnya masih terasa lapar, Jaka melirik ke arah perapian dan melihat masih ada satu ekor ayam panggang lagi, namun Jaka tidak berani meminta kepada gurunya.
"Kau masih lapar Jaka?" tanya sang guru yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik muridnya.
__ADS_1
"Emm... iya guru." jawab Jaka malu-malu.
"Itu masih ada satu ekor, ambil dan makan lah." ucap sang guru seraya menunjuk ke perapian.
"Tapi guru... itu kan bagian guru. Murid tidak berani." jawab Jaka menunduk.
"Hahaha... dasar murid baik, masih memikirkan perut gurunya. Guru sudah tidak lapar Jaka, guru sudah memakan buah-buahan, dan itu masih ada beberapa di sana." jari telunjuk gurunya mengarah ke atas rerumputan.
"Nah makan lah ayam itu, puaskan rasa lapar mu." lanjutnya.
Tanpa menunggu lama Jaka segera mengambil ayam panggang itu dan segera memakannya. Setelah kenyang Jaka diminta gurunya untuk kembali tidur sebab pelatihannya akan dimulai esok pagi.
***
Keesokan paginya di atas puncak gunung, matahari pagi mulai menunjukkan dirinya. Angin berhembus perlahan menggerakkan setiap ujung dedaunan. Tidak lupa pula di atas pohon telah bertengger beberapa ekor burung, burung itu bernyanyi bersahutan menambah keindahan puncak gunung ini.
Jaka mulai membuka matanya ketika beberapa carik sinar mentari mengenai wajahnya. Jaka pun terbangun dan segera melenturkan otot-otor tubuhnya. Pagi itu tubuhnya telah kembali bugar seperti sebelumnya.
"Guru... guru sedang membuat gubuk?" tanya Jaka.
"Iya, gubuk sederhana, setidaknya gubuk ini bisa melindungi kita dari air hujan." jawab gurunya.
"Mari guru, Jaka bantu." Jaka bergerak mengambilkan beberapa kayu.
"Tidak perlu Jaka, kau harus mulai berlatih. Latihan pertama mu adalah kau harus berlari naik turun puncak gunung ini hingga mencapai lereng. Lakukan latihan ini secepat yang kau bisa dan ingat, jangan mencoba berhenti jika kau masih sanggup berdiri. Mengerti?" sang guru memberikan arahan untuk latihan pertama muridnya.
"Baik guru, murid mengerti." jawab Jaka.
"Kau pergilah ke bawah pohon besar itu, di bawahnya ada beberapa buah, kau boleh memakannya sebelum mulai berlatih." ucap sang guru.
"Terimakasih guru." jawab Jaka. Jaka lantas mengambil beberapa buah dan memakannya. Setelah mereasa cukup, Jaka pamit untuk memulai pelatihannya. Resi Danurwinda hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pembuatan gubuk kecilnya itu.
__ADS_1
***
Di sisi lain, tepatnya di aula Kerajaan Matraman Barat, duduk di singgasana adalah Yang Mulia Raja Angga Kesuma Jaya.
Raja Angga berhasil naik tahta setelah membagi Kerajaan Matraman menjadi empat wilayah mata angin.
Sesungguhnya kehidupan rakyat di kerajaan ini cukup makmur, Raja Angga memimpin dengan sangat baik, mirip sekali dengan mendiang ayahnya. Kehadirannya selalu dinanti dan dielukan setiap rakyat.
Namun ketenangan kerajaan ini sedikit tercoreng akibat ulah saudara-saudara Yang Mulia Raja.
"Paman Patih... Ketiga saudara-saudara ku kini sudah mulai berani bertindak secara terang-terangan. Beberapa desa yang berada di dekat perbatasan telah mereka rebut, yang terbaru adalah Desa Jati Ayu." ucap Raja Angga kepada Patih Kemuning. Sebelum menjadi patih, dulunya Kemuning menjabat sebagai senopati kerajaan.
"Benar Yang Mulia, menurut laporan dari beberapa senopati kita, Raja Putra dari Matraman Utara yang sangat gencar menekan perbatasan." jawab Patih Kemuning.
"Menurut paman apa yang harus kita lakukan?" tanya Raja Angga seraya memijat kepalanya yang mulai sakit.
"Untuk sementara hamba akan mengirimkan beberapa senopati untuk memperkuat wilayah perbatasan. Selain itu, hamba juga akan mencari pendekar-pendekar aliran putih untuk membantu memperkuat kerajaan kita."
jawab Patih Kemuning menjelaskan langkah-langkah antisipasi yang akan diambil.
"Baiklah paman, aku harap paman bisa menemukan pengganti Resi Danurwinda. Aku sangat merindukan kehadirannya...." ucap Raja Angga.
".... " Patih Kemuning hanya diam tak tau harus menjawab apa. Sebelumnya Patih Kemuning sudah menyusuri wilayah kerajaan Matraman namun tidak bisa menemukan jejak Resi Danurwinda.
Tidak lama kemudian, Patih Kemuning pamit meninggalkan aula kerajaan, gerakan patih ini diikuti oleh senopati dan lainnya.
Sebelum Resi Danurwinda tinggal di tengah hutan, Resi Danurwinda sempat tinggal beberapa waktu di istana kerajaan saat masih dipimpin oleh Maha Raja Jaya Kesuma.
Pada saat pelariannya dari wilayah Kerajaan Surasena, Resi Danurwinda memasuki wilayah Kerajaan Matraman. Secara tak sengaja, Resi Danurwinda yang dalam kondisi terluka bertemu dengan Maha Raja. Maha Raja kemudian menolongnya dan mengajak Resi Danurwinda ke istana.
Setelah pertemuan itu, Resi Danurwinda merasa memiliki hutang budi kepada Maha Raja. Untuk membalas kebaikan Maha Raja, Resi Danurwinda menjadi guru bagi anak-anak Maha Raja sekaligus Penasihat kerajaan. Atas campur tangan Resi Danurwinda lah, Kerajaan Matraman mencapai puncak kejayaannya.
__ADS_1
Sampai sekarang masih menjadi misteri sebab kepergian Resi Danurwinda dari Kerajaan Matraman, hingga kerajaan itu pecah menjadi empat wilayah mata angin.