
Malam harinya di puncak gunung tepatnya di depan gubuk kecil, Jaka sedang membuat perapian. Sebelumnya Jaka telah berhasil menangkap tiga ekor kelinci hutan. Jaka sudah tidak sabar ingin segera menikmati daging kelinci panggang itu. Sesekali matanya melirik ke arah gubuk, di dalam gubuk itu terlihat gurunya sedang duduk memandangi rembulan.
"Guru sedang memikirkan apa ya, tidak biasanya guru bersikap begitu." gumam Jaka.
"Mungkin guru sedang memikirkan seseorang." gumamnya lagi.
Jaka membolak balikkan daging kelinci yang sedang di panggang itu, aroma daging kelinci perlahan menyeruak memaksa keluar. Setelah merasa cukup matang, Jaka mengambil dua ekor kelinci dan membawanya menuju gubuk.
"Guru, daging kelincinya sudah matang. Ini ku bawakan satu." ucap Jaka seraya memberikan satu ekor kelinci panggang.
"Wahh.. seperti sangat enak." jawab sang guru, tangannya menerima pemberian Jaka.
Lalu keduanya mulai memakan daging kelinci panggang, perlahan tapi pasti. Jaka telah menghabiskan satu ekor daging kelinci, kini Jaka mengambil satu ekor kelinci panggang yang tersisa. Resi Danurwinda hanya menggeleng melihat kelakuan muridnya itu.
"Guru.. apa ada yang sedang guru pikirkan?" tanya Jaka setelah menghabiskan dua ekor kelinci panggang. Tidak biasanya gurunya bersikap seperti itu.
Mendapat pertanyaan itu Resi Danurwinda memandang Jaka sejenak, kemudian melanjutkan memandangi rembulan. Ada keraguan untuk memberi tau Jaka apa yang sedang Resi itu rasakan.
"Tidak ada apa-apa Jaka, guru hanya sedang memandang betapa indahnya rembulan di atas sana." jawab gurunya sambil tersenyum.
Sudah tentu Jaka tidak percaya jawaban gurunya itu, tapi mau bagaimana lagi dirinya tidak mungkin memaksa, "Ahh sudahlah, aku tidur saja, hoaam.... " Jaka pun mulai tidur dengan pulasnya.
***
"Guru.. guru sedang membuat apa?" tanya Jaka ketika melihat gurunya tengah sibuk membuat sesuatu.
"Guru sedang membuat pedang kayu, kita akan berlatih teknik pedang hari ini." jawab gurunya.
"Benarkah guru?" tanya Jaka lagi. Jaka sangat senang ketika gurunya menganggukkan kepala, Jaka sudah tidak sabar ingin menjadi pendekar pedang yang handal.
__ADS_1
Saat ini Resi Danurwinda telah selesai membuat lima belas pedang kayu, Resi Danurwinda sengaja membuat banyak sebagai persediaan apabila sewaktu-waktu pedang kayu itu patah saat digunakan.
Ketika matahari mulai beranjak naik, Resi Danurwinda mulai mengajarkan teknik berpedang kepada Jaka. Untuk pelajaran pertama Resi Danurwinda mengajarkan bagaimana memegang pedang dengan benar, Resi Danurwinda memberikan contoh agar Jaka mudah mengerti. Tidak butuh waktu lama untuk Jaka, dirinya langsung memahami dan bisa mempraktikkan dengan benar.
Setelah itu Resi Danurwinda mengajarkan bagaimana memasang posisi kuda-kuda yang benar agar pertahanan kaki menjadi kokoh dan tidak mudah ditembus lawan. Sesekali Resi Danurwinda mengetuk kepala Jaka karena masih salah dalam memasang kuda-kuda.
"Lutut mu itu terlalu rendah Jaka, jarak kedua kaki juga masih terlalu lebar." suara Resi Danurwinda mengomentari latihan Jaka. Segera Jaka memperbaiki posisi kuda-kudanya hingga benar.
"Jaka.. guru rasa pelajaran dasar ini telah kau mengerti. Sekarang guru akan mengajarkan teknik pedang kepada mu." ucap Resi Danurwinda.
"Dengarkan dan perhatikan lah dengan baik, teknik pedang ini dinamakan Teknik Pedang Naga Langit. Teknik ini mengandalkan kecepatan gerak tangan dan kelenturan tubuh penggunanya. Teknik ini hanya memiliki tujuh jurus namun setiap jurusnya mengandung hawa kematian bagi lawan-lawannya. Sulit mencari tandingan dari jurus ini.
Kelebihan lainnya dari teknik ini adalah bisa digunakan tanpa menggunakan pedang artinya teknik ini juga bisa disebut teknik bertarung tangan kosong. Jari-jari mu bisa berubah sekuat cengkeraman cakar naga." ucap Resi Danurwinda menjelaskan panjang lebar.
Kemudian Resi Danurwinda mulai mempraktikkan jurus pertama yang diberi nama Naga Membelah Gunung. Pertama-tama Resi Danurwinda menyalurkan tenaga dalam ke pedang kayu, perlahan warna pedang berubah lebih cerah. Setelah itu Resi Danurwinda bergerak sangat cepat bahkan sulit diikuti oleh kecepatan mata Jaka.
Resi Danurwinda kemudian mengulangi jurus ini dengan gerak lambat agar Jaka mudah memahaminya. Jujur saja, untuk menguasai jurus pertama ini Resi Danurwinda butuh waktu tiga kali purnama lamanya.
"Jaka.. kau sudah mengingat setiap gerakannya?" tanya Resi Danurwinda.
"Sudah guru." jawab Jaka.
"Jika begitu tunggu apalagi, tunjukkan pada guru." pinta Resi Danurwinda.
Pertama-tama Jaka menutup mata mencoba mengingat gerakan demi gerakan dengan teliti. Setelah cukup yakin Jaka lantas mempraktikkan jurus pertama.
"Teknik Pedang Naga Langit, Naga Membelah Gunung" terlihat Jaka mulai mempraktikkan jurus itu.
Terlihat beberapa butir keringat menetes di wajah Jaka, "Jurus ini sangat menguras tenaga... " gumam Jaka. Jaka merasa gerakannya masih sangat lambat dan kaku, kemudian ia mengulangi jurus itu sampai beberapa kali.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Resi Danurwinda sedang terkagum-kagum melihat jurus pertama yang dipraktikkan Jaka. Resi Danurwinda tidak menyangka Jaka mampu mengingat gerakan jurus itu dengan sangat baik, walaupun gerakan tangan dan tubuhnya masih sangat lambat.
"Ini hanya masalah waktu, aku yakin Jaka bisa menguasai jurus ini dalam waktu singkat." gumamnya.
"Jaka.. berlatih lah terus. Jangan berhenti ketika kau masih sanggup berdiri." seru Resi Danurwinda lalu melesat pergi.
"Baik guru." jawab Jaka padahal yang diajak bicara sudah tidak ada di tempatnya.
"Jangan berhenti ketika kau masih sanggup berdiri, begitu saja terus... " gerutu Jaka mengikuti suara gurunya.
"Baiklah, begini pun tidak buruk. Aku harus menguasai jurus ini dengan cepat." Jaka berucap sendiri lalu melanjutkan latihannya.
***
Di tempat lain Resi Danurwinda sedang duduk di bawah pohon, tangannya mengelus-elus janggut putihnya yang panjang.
Beberapa waktu yang lalu Resi Danurwinda bermimpi tentang kerusuhan yang terjadi di wilayah Kerajaan Matraman.
Sejauh yang Resi Danurwinda ketahui adalah saat ini Kerajaan Matraman telah terpecah menjadi empat wilayah mata angin.
Dari masing-masing wilayah itu dipimpin oleh murid-murid Resi itu sendiri. Dirinya pun mengetahui bahwa hubungan dari setiap muridnya tidak lah baik, selalu saja ada yang membuat mereka bertengkar hingga adu jotos.
Pada akhirnya masing-masing dari mereka telah menjadi raja di kerajaannya masing-masing, tentu akan ada pertarungan yang lebih besar di masa yang akan datang.
Dari ke empat muridnya itu, Raja Angga adalah yang paling baik sifatnya, bahkan hampir mirip dengan mendiang ayahnya. Jika disuruh memilih, suatu hari nanti Resi Danurwinda akan membantu kerajaan yang dipimpin oleh Raja Angga mencapai kejayaan.
"Entah kapan hari itu akan tiba... " gumam Resi Danurwinda seraya memandang ke arah timur.
"Ada baiknya sesekali aku harus menemui murid-murid ku itu... " lanjutnya.
__ADS_1