
Saat terjadi pertarungan sengit antara Ki Rana dan Gundul Hitam, Gundul Putih yang telah patah kedua tangannya bergegas menyingkir. Gundul Putih menyelinap di antara rumah penduduk lalu pergi menuju hutan di ujung desa. Kepergian Gundul Putih lepas dari pengawasan Jaka, karena saat itu terjadi Jaka tengah mengamati jalannya pertarungan.
“Maafkan aku paman, aku melewatkan yang berbaju putih.. ” ucap Jaka menyesal.
"Tidak apa-apa Jaka, mungkin ini adalah keberuntungannya. Toh dia tak akan berbuat banyak hanya dengan menggunakan kedua kakinya." jawab Ki Rana.
Keduanya kemudian meminta penduduk untuk membereskan dua mayat Setan Gundul, tak lupa Ki Rana memberikan beberapa koin perak kepada penduduk tersebut. Setelah itu Jaka dan Ki Rana berpisah. Jaka akan melanjutkan perjalanannya ke arah barat sedangkan Ki Rana mengejar ke arah perginya Gundul Putih. Sebelum mereka berpisah, Ki Rana kembali mengingatkan Jaka untuk berhati-hati.
***
Jarak antara Desa Batang Hari dengan desa selanjutnya cukup jauh, kedua desa itu dipisahkan oleh beberapa hutan kecil dan hutan besar. Jarang ada penduduk yang berani melalui hutan ini seorang diri. Kemungkinan mereka untuk bisa mencapai desa selanjutnya sangatlah kecil bahkan mendekati nol persen.
Ada kabar yang beredar bahwa di wilayah hutan itu banyak terdapat hewan buas. Ada juga yang mengatakan bahwa hutan itu telah dijadikan sarang oleh perampok. Ah entahlah, Jaka tidak ingin ambil pusing. Jaka tetap melanjutkan perjalanannya dengan santai.
Tidak terasa matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya. Sinar-sinar jingga melukis indah di ufuk barat. Saat ini Jaka telah tiba di tepi hutan yang sangat besar. Hutan ini dikenal dengan nama hutan Godong Surgo. Hutan ini terlihat begitu indah dengan pohon-pohon menjulang tinggi dan burung-burung yang terbang kembali ke sarangnya.
Jaka mulai memasuki hutan itu ketika hari mulai gelap. Segera dirinya mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat. Setelah mencari kesana kemari akhirnya Jaka menemukan pohon angsana yang cukup besar, lalu duduk di bawahnya.
"Kriuk.. kriuk.. " suara perut Jaka mulai meronta.
"Baru saja duduk, kau ini... " Jaka berbicara kepada perutnya, lalu tertawa sendiri.
Jaka beranjak bangkit dan menyusuri hutan yang agak dalam. Jaka sudah terbiasa hidup di hutan jadi saat ini tidak ada perasaan takut di dalam dirinya. Tidak lama Jaka melihat sekawanan kelinci hutan berlari menjauhi dirinya. Jaka berjongkok lalu mengambil dua buah batu kecil seukuran ibu jari tangannya, dengan cepat Jaka mengarahkan batu-batu itu ke arah kelinci.
Terdengar suara kelinci mengerang di ujung sana ketika batu yang Jaka lemparkan tepat mengenai kepalanya. Jaka segera berlari kecil dan mengambil dua ekor kelinci yang sudah tidak bernyawa.
"Maafkan aku, aku harus memakan mu malam ini.." gumam Jaka lalu kembali ke bawa pohon angsana.
__ADS_1
Jaka kemudian mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk dibuat perapian. Setelah cukup menghasilkan bara api, Jaka mulai memanggang kelinci hutan buruannya. Kedua tangannya mulai sibuk membolak-balikkan panggangan, tidak lama aroma daging panggang mulai menyeruak keluar.
"Sedapnya.. " tak henti-hentinya hidung Jaka mengendus aroma kelinci panggang itu.
Setelah dirasa sudah matang, Jaka mengambil satu ekor kelinci panggang dan mulai memakannya. Perlahan tapi pasti satu per satu cuilan daging kelinci masuk ke mulut Jaka.
Tiba-tiba dari arah samping Jaka mendengar suara ranting kering patah terinjak. Jaka tidak terlalu menghiraukannya, malah semakin asik untuk menghabiskan daging kelinci panggang itu. Menurut perhitungan Jaka, meskipun ada penjahat yang sedang mengintai dirinya saat ini bukanlah sesuatu yang membahayakan nyawanya.
Bagaimana tidak, jika orang itu adalah penjahat yang berilmu tinggi tidak mungkin akan menginjak ranting kering hingga patah. Berbeda hal jika ilmunya masih rendah, tentu ranting kering itu tak akan mampu menahan beban tubuhnya.
Baru saja Jaka ingin mengambil kelinci yang masih tersisa satu ekor itu, kini dari arah samping telah muncul lima orang laki-laki berbadan kekar. Wajah mereka dipenuhi berewok hitam yang acak-acakan. Kelimanya membawa sebilah golok yang terselip di pinggangnya.
Kelima orang itu menatap Jaka tajam dan seketika beralih ke perapian. Dari penampilannya Jaka menebak mereka adalah perampok yang digosipkan oleh penduduk.
"Hahaha.. ternyata hanya ada seorang bocah, ku kira ada pedagang yang lewat." ucap seseorang yang badannya paling besar dengan wajah kecewa. Mungkin dia adalah pemimpinnya.
"Hei bocah.. sedang apa kau di hutan ini?" tanya pemimpin rampok itu.
"Sedang duduk dan memakan daging kelinci panggang." jawabnya acuh, mulutnya masih penuh dengan makanan.
"Setan.. aku bertanya serius."
"Aku juga serius."
"Setan alas.. bunuh bocah ini!" perintah pimpinan perampok itu.
Keempat orang itu segera menyerang Jaka dengan tangan kosong. Mereka mengira bahwa Jaka hanyalah bocah kecil yang tersesat di hutan Godong Surgo ini. Salah satu dari mereka berniat menampar wajah Jaka, namun segera ditahan dengan gagang tusukan daging. Orang itu segera melenguh kesakitan, jari-jarinya rasanya seperti hancur. Sontak ketiga lainnya segera bergerak mundur.
__ADS_1
"Bodoh!" seru pemimpin mereka.
Pemimpin rampok itu sudah menyadari bahwa tidak mungkin Jaka adalah bocah biasa. Tidak ada sejarahnya seorang bocah biasa berani bersantai di tengah hutan malam-malam begini. Pemimpin itu kemudian menyuruh rekan-rekannya untuk menyerang dengan goloknya.
Mereka mulai menyerang Jaka dengan goloknya, satu demi satu sambaran itu dihindari oleh jaka. Sedangkan Jaka masih diam tak menggeser tempat duduk.
"Uahhh.. " Jaka bangkit berdiri sembari merentangkan kedua tangannya, sedangkan mulutnya mulai menguap lebar.
"Aku sedang tidak ingin bertarung, pergilah kalian!"
"Hahaha.. kami akan pergi setelah memenggal kepalamu."
"Kalau begitu, majulah!"
Mereka berlima kemudian menyerang Jaka secara bersamaan, tidak ada rasa malu sedikit pun walaupun mereka tengah menyerang seorang bocah. Deru suara golok mengarah cepat ke tubuh lawannya, Jaka berjumpalitan mundur ke belakang.
Jaka kemudian mengambil ranting kecil untuk dijadikan senjata, "Aku akan melawan kalian dengan ini."
"Serang!"
Baru selesai pemimpin rampok itu bersuara, keempat rekannya sudah menyerang dengan golok terhunus. Serangan demi serangan berhasil Jaka hindari sembari memukul kepala mereka dengan ranting pohon.
Mereka memekik tertahan lalu maju menyerang lagi. Namun kali ini Jaka bergerak sangat cepat tanpa mereka sadari golok-golok mereka sudah sudah lepas dari tangannya. Jaka kemudian melemparkan golok itu tepat di ujung jari-jari kaki mereka hingga membuat mereka tidak berani bergerak.
Pemimpin perampok dan keempat rekannya segera menjatuhkan diri dengan posisi berlutut, mereka berteriak meminta ampun.
Jaka mengaku sedang berbaik hati malam itu sehingga membiarkan mereka semua pergi. Namun alasan yang sebenarnya adalah Jaka sengaja membiarkan mereka pergi untuk menunjukkan sarang mereka yang sebenarnya. Setelah mereka bergerak menjauh Jaka mengikutinya dengan hati-hati.
__ADS_1