
Ribuan prajurit segera menepi memberi ruang untuk para senopati yang akan saling unjuk kebolehan. Halaman utama kerajaan yang biasa digunakan prajurit berlatih seketika berubah menjadi arena latih tanding. Sorak sorai prajurit mewarnai arena latih tanding itu.
Senopati Surya Benggala adalah lawan pertama yang akan Jaka hadapi, senopati ini usianya sekitar 40-50an tahun. Perawakannya tinggi besar dengan kumis rapi menghiasi wajahnya serta sebilah pedang tersarung rapi menggantung di pinggang.
Senopati Surya Benggala segera melompat dan mendarat dengan sempurna di tengah-tengah arena. Sikapnya ini seperti ingin memberi kesan bahwa ilmu meringankan tubuhnya sudah berada pada tingkat tertingi, bahkan ketika kedua kakinya mendarat di lantai arena debu-debu tidak bergerak sedikitpun. Ribuan prajurit yang menyaksikan ini lantas berteriak memberikan semangat kepada Senopati Surya Benggala.
Apa yang ditunjukkan oleh Senopati Surya Benggala memang bisa dikatakan cukup sombong, namun itu adalah cara terbaik untuk meruntuhkan mental lawan. Kadangkala di setiap pertempuran tidak cukup hanya bergantung kepada kemampuan ilmu kanuragan yang dikuasai seorang pendekar, tetapi juga bagaimana pendekar itu mampu menjatuhkan mental bertarung dari lawannya.
Jaka yang juga ikut menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum kecil, dirinya juga ikut memberikan pujian di dalam hatinya. Walaupun ilmu meringankan tubuh lawan sangat tinggi, namun Jaka yakin masih bisa menang dari lawannya itu.
Setelah meminta izin kepada Raja Angga, Jaka lalu melangkah pelan ke tengah arena. Langkahnya pelan tetapi baru sebentar saja Jaka sudah berada di depan lawannya.
Sebagian prajurit yang menyadari kecepatan langkah Jaka segera meneriakkan namanya untuk memberikan dukungan, kini ribuan prajurit itu terbelah menjadi dua sisi yang berlawanan. Sebagian mendukung Senopati Surya Benggala, sebagian lagi mendukung Jaka.
"Hormat kepada paman Senopati Surya Benggala." ucap Jaka seraya membungkuk hormat.
Senopati Surya Benggala menanggapinya dengan senyum mengejek, "Tidak perlu sungkan tuan Senopati Muda.. " lanjutnya.
Jarak antara Jaka dengan Senopati Surya Benggala hanya sejauh tiga batang tombak, keduanya saling diam mengamati lawannya. Belum ada yang bergerak menyerang lebih dulu, keduanya ingin bertindak hati-hati.
Senopati Surya Benggala kemudian mempersilahkan Jaka untuk menyerang lebih dulu. "Majulah.. "
"Baiklah paman, aku tidak akan ragu.. "
Baru selesai Jaka berkata begitu, dirinya dengan kecepatan kilat melayangkan serangan tangan kosong ke arah kepala lawan. Serangan yang sangat cepat ini cukup mengagetkan Senopati Surya Benggala, namun dengan cepat dapat menguasai diri dan bergerak menghindar ke samping. Akhirnya serangan Jaka hanya menghantam tempat kosong.
Senopati Surya Benggala mengumpat dalam hati, "Sialan.. hampir saja kepalaku remuk." Gerakan tangan senopati muda ini sangat cepat, pikirnya.
Tidak menunggu lebih lama, Senopati Surya Benggala gantian bergerak menyerang. Serangan-serangan yang dilepaskannya mengincar titik-titik vital tubuh lawan, namun Jaka mampu menghindari semua serangan itu dengan mudah.
__ADS_1
Jurus demi jurus telah berlalu, namun belum ada satupun yang berhasil mendesak lawannya. Senopati Surya Benggala berkali-kali menggeram marah, serangannya dapat dengan mudah dipatahkan lawan. Dirinya pun merasa bahwa lawannya ini belum sepenuh hati melayaninya.
Hingga suatu ketika Senopati Surya Benggala dengan sengaja menahan pukulan Jaka, tanpa dirinya sadari ini adalah kesalahan yang fatal baginya.
Akibat benturan itu, Senopati Surya Benggala terpental ke belakang sejauh lima tombak, tangannya bergetar menahan rasa nyeri sedangkan Jaka masih kokoh di tempatnya tidak kurang suatu apapun.
Dari benturan yang barusan terjadi semua orang yang ada di sekitar arena itu dapat mengetahui bahwa Jaka berada pada tingkatan yang sangat tinggi, mungkin lebih tinggi dibandingkan seluruh orang yang ada di Kerajaan Matraman Barat.
Hal ini juga dirasakan oleh Senopati Surya Benggala, bagaimana tidak? Orang yang mampu memukul mundur dirinya bisa dihitung dengan jari, itupun harus melakukan pertarungan yang sangat sengit. Namun yang terjadi saat ini adalah Jaka mampu melakukannya dengan sangat mudah.
"Jika dia serius, mungkin aku sudah lama dikalahkan.. " gumam Senopati Surya Benggala.
Dengan segera Senopati Surya Bengggala mengakhiri latih tanding mereka, lalu senopati ini menjura ke arah Yang Mulia Raja dan kembali ke tempatnya. Sorak sorai menggema meneriakkan nama Jaka, para prajurit terlihat sangat bahagia.
"Hidup Senopati Muda Jaka.. "
"Hidup Senopati Muda Jaka.. "
Selepas kepergian Raja Angga, kembali terjadi kegaduhan di barisan prajurit. Para prajurit itu sangat kagum atas kemampuan senopati muda itu. Hal yang sama juga terjadi di barisan senopati, "Setidaknya anak muda ini setara dengan pendekar sakti.. "
gumam Senopati Arya Kemuning.
"Aku setuju denganmu.. " jawab Senopati Surya Benggala.
"Harusnya kita tidak perlu heran, anak muda itu adalah murid dari guru Resi Danurwinda. Aku yakin dia telah mewarisi seluruh ilmu kesaktiannya."
Keempat senopati itu mengangguk bersamaan, sekilas ada raut bahagia terpancar dari masing-masing wajah mereka. Hari ini telah muncul satu lagi pendekar yang akan melindungi Kerajaan Matraman Barat.
***
__ADS_1
"Jaka, aku harap kau tidak mengambil hati atas apa yang telah terjadi.. " ucap Raja Angga setelah keduanya tiba di aula kerajaan.
"Tidak sedikitpun, Raka. Lagipula aku sudah lama tidak menggerakkan tubuhku, rasanya kaku sekali." jawab Jaka seraya menggerak-gerakkan tubuhnya.
Raja Angga tertawa melihat kelakuan adiknya itu, satu sisi dirinya sangat kagum atas ketinggian ilmu kanuragan adiknya, di sisi yang lain dirinya tidak tega jika harus melibatkan adiknya ke medan pertempuran.
Raja Angga kemudian menjelaskan bahwa selain kelima senopati yang sudah Jaka temui, masih ada dua senopati lainnya. Kedua senopati ini jarang sekali menampakkan diri jika tidak ada hal-hal yang sangat penting.
Kedua senopati ini seperti menjaga keamanan kerajaan dari balik bayangan. Tidak satupun yang berani meragukan kemampuan mereka, kemampuan mereka bahkan mendekati kemampuan Mahapatih Kemuning Banyu.
Tidak ada yang pernah melihat wajah mereka berdua kecuali Yang Mulia Raja Angga dan Mahapatih Kemuning Banyu. Keberadaan senopati-senopati inilah yang membuat Kerajaan Matraman Utara belum bergerak ke wilayah mereka.
"Aku akan membuatkan mu sebuah lencana, sebagai tanda pengenal agar kalian tidak saling menyerang." ucap Raja Angga.
"Dimana aku bisa bertemu dengan mereka, Raka?"
"Tidak ada yang tau, mereka selalu berpindah-pindah tempat. Satu hal yang harus kau ingat adalah mereka selalu bergerak bersama dan memakai topeng yang sama.”
"Baiklah.. aku akan mengingat itu dengan baik."
Keesokan harinya Jaka berniat meninggalkan Kotaraja, dirinya hendak menelusuri jejak dari Kelompok Jubah Hitam. Tujuan utamanya adalah wilayah perbatasan. Kepergian Jaka kali ini diantar oleh Raja Angga, Mahapatih Kemuning Banyu, dan seluruh senopati. Mereka baru saja bertemu namun seperti sudah memiliki ikatan yang sangat kuat.
"Kau sungguh ingin pergi sendirian, Jaka?" tanya Raja Angga, wajahnya terlihat sangat berat melepaskan kepergian adiknya.
"Ada apa dengan wajahmu, Raka? Aku akan baik-baik saja, percayalah.. "
Raja Angga tersenyum lalu memeluk Jaka dengan erat, "Kau harus berhati-hati.. " ucapnya lalu melepaskan pelukan.
Jaka mengiyakan dan segera melompat ke atas kuda putih milik Raja Angga, hari ini kuda itu telah resmi menjadi miliknya. Dengan sekali hentakan, kuda itu berlari kencang ke arah utara.
__ADS_1