
Pertarungan antara Tantra bersaudara dengan Pendekar Topeng Putih berlangsung sengit, beberapa kali mereka terlihat saling mendominasi. Kini pertempuran mereka sudah lebih dari dua puluh jurus, dan sudah banyak luka yang diterima oleh Pendekar Topeng Putih. Hanya tinggal menunggu waktu untuk menerima kekalahan.
Tantra bersaudara sedikitpun tidak ingin menurunkan intensitas serangan mereka, walaupun Pendekar Topeng Putih sepertinya sudah tidak sanggup untuk bertarung. Mereka segera ingin menghabisi musuh secepat mungkin.
Ketika Tantra bersaudara ingin maju menyerang, tiba-tiba mereka merasa ada yang aneh dengan aura di sekeliling mereka. Tubuh mereka seperti ditekan oleh batu yang sangat berat. Mereka menoleh ke arah samping dan mendapati Mahesa sedang menatap tajam diiringi dengan aura membunuh yang sangat pekat.
“Aura yang menakutkan..’’
Tantra Langit menoleh kepada adiknya, lalu dengan sebuah isyarat mereka mengubah target serangan mereka kepada Mahesa. Walalupun kemungkinan mereka untuk menang terbilang kecil, setidaknya mereka berdua bisa memberikan jeda waktu kepada Jaka untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Tantra bersaudara tidak ingin meremehkan lawannya sebab mereka sudah mengetahui sendiri tingkatan ilmu dari lawannya kali ini. Oleh sebab itu, mereka menyerang Mahesa dengan kekuatan penuh.
Tantra bersaudara menyerang Mahesa dari dua arah yang berlainan. Mereka mencoba memecah konsentrasi dari lawannya. Dua pedang tajam dengan sangat cepat mengarah ke tubuh Mahesa, satu ke arah kepala dan sisanya mengarah ke dada.
Mahesa tersenyum melihat serangan mereka, namun masih cukup percaya diri dengan kemampuannya. “Mainan anak-anak.. beri aku hiburan yang lain.”
Ketika kedua pedang Tantra bersaudara sejengkal lagi menyentuh tubuh Mahesa, tiba-tiba arah pedang berubah seketika. Mahesa mengumpat kesal lalu sedikit memutar tubuhnya dan menahan salah satu pedang lawan dengan sarung pedangnya.
__ADS_1
Serangan yang dilancarkan Tantra bersaudara sesungguhnya sangat berbahaya, namun lawan mereka pun tidak kalah berbahaya. Sehingga serangan mereka gagal mendapatkan sasarannya.
Mahesa bukanlah pendekar yang baru mengenal rimba persilatan, dirinya sudah malang melintang mengarungi kejamnya rimba persilatan. Segala jenis musuh mungkin sudah pernah dirinya hadapi, termasuk segala jenis tipuan serangan yang berbahaya dari lawan.
“Sekarang adalah giliran ku!”
Mahesa menyerang Tantra Langit terlebih dahulu. Menurut pengamatannya, Tantra Langit sedikit lamban dalam hal kecepatan sehingga memungkinkan serangannya bisa mencapai tubuh lawan.
Tidak salah memang, namun bukan berarti Mahesa dapat menang dengan mudah. Tantra Langit memiliki kekuatan fisik yang sangat bagus, sehingga mampu menahan serangan Mahesa dengan pedangnya.
Akibat benturan senjata mereka mengakibatkan efek kejut yang lumayan besar. Tantra Langit terpental mundur beberapa langkah dan segera menancapkan pedangnya ke tanah agar tubuhnya tidak limbung ke tanah.
Tantra Bumi segera mendekati kakaknya dan membantu berdiri. Jika ingin menang, mereka harus menyerang secara bersamaan. Ilmu kanuragan Mahesa bukanlah sesuatu yang harus dihadapi seorang diri. Tidak ada cara lain.
Pertarungan mereka kembali dimulai. Denting suara pedang mengadu di udara. Semua yang berada di sekitar lokasi pertarungan segera pergi menghindar, salah-salah mereka malah terkena serangan yang nyasar.
Mahesa terlihat sangat menikmati pertarungan itu, tidak jarang senyum tersimpul di kedua sudut bibirnya. Hal ini tentu saja membuat Tantra bersaudara dibuat kesal olehnya. Padahal ini adalah trik yang digunakan Mahesa untuk meruntuhkan mental lawan.
__ADS_1
Tantra bersaudara menyerang kembali dengan beringas, satu serangan yang gagal langsung disusul dengan serangan beruntun lainnya. Namun belum satupun yang berhasil mengenai lawannya. Hal ini tanpa mereka sadari sangat menguras tenaga mereka.
Ketika Tantra bersaudara sedang mengatur nafas, Mahesa bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah mereka. Serangan yang sangat cepat itu tidak bisa mereka hindari dengan baik, akibatnya punggung Tantra Langit terkena serangan yang cukup lebar.
Serangan itu tidak berhenti cukup di sana, Mahesa kembali menyerang Tantra Langit dengan sangat ganas. Tantra Langit menahan serangan lawan dengan pedangnya namun itu semua tidaklah cukup. Tantra Langit terpental ke belakang lalu terguling di tanah, mencoba bangkit namun justru mengeluarkan darah segar dari sela bibirnya.
“Sayang sekali kalian harus mati hari ini. Itulah akibatnya jika berani berurusan dengan Kelompok Jubah Hitam... hahaha...”.
Tantra Bumi begitu murka melihat kakaknya jatuh tak berdaya, dengan emosi yang sudah sampai kepala, Tantra Bumi maju menyerang.
Naas, ini adalah keputusan yang salah. Pedang Mahesa menusuk dada Tantra Bumi hingga menembus ke punggung. Mahesa mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya, lalu menendang tubuh Tantra Bumi hingga terpental jauh. Tubuh Tantra Bumi menabrak pohon yang satu ke pohon lainnya dan baru berhenti ketika menabrak batu besar. Tantra Bumi jatuh tak bergerak lagi. Mati.
Mahesa tertawa kegirangan melihat kematian lawannya. “Satu tikus sudah mati.” ucapnya.
Mahesa lalu menoleh ke arah Tantra Langit berada, namun hal ini justru membuatnya terkejut. Tantra Langit yang sudah tak berdaya itu sudah tidak lagi berada di tempatnya.
“Setan!!!”.
__ADS_1
Mahesa kembali mencari keberadaan Jaka, juga tidak berhasil dirinya temukan. Mahesa sangat marah, dirinya mengamuk memporak-porandakan hutan kecil yang sebenarnya sudah rusak itu.
“Setan alas! Ku bunuh kalian!!!”