
Jaka bergerak memeriksa ke segala penjuru Kotaraja demi memastikan tidak ada lagi musuh yang membahayakan. Jika masih ada satu orang saja pendekar yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi, itu sudah lebih dari cukup untuk merepotkan para prajurit Matraman Barat.
Setelah memeriksa ke sana kemari, Jaka menghembuskan nafas dengan berat. Jaka sudah tidak menemukan lawan yang sepadan untuknya, rata-rata musuh yang tersisa berada di tingkat pendekar kelas satu ke bawah.
“Akhirnya aku kembali gagal menghabisi petinggi-petinggi Kerajaan Matraman Utara itu. Mereka berhasil melarikan diri. Sial.” umpat Jaka seraya menendang batuan kerikil yang ada di dekatnya.
Jaka kemudian memutuskan untuk kembali ke lokasi pertarungan antara Mahapatih Argadana dan Tantra Langit. Pertarungan itu masih berlangsung sengit, mungkin sudah berjalan hampir seratus jurus. Saat ini, banyak luka-luka sabetan pedang yang sudah mampir di tubuh mereka.
Mahapatih Argadana dan Tantra Langit sama-sama berada pada tingkat pendekar sakti, namun yang membedakan antara keduanya adalah lamanya mereka berada pada tingkatan ini.
Mahapatih Argadana telah lebih dahulu memasuki tahap ini, sehingga kemampuan dan penguasaan tenaga dalamnya lebih unggul dibandingkan dengan Tantra Langit.
“Trang...”
Untuk kesekian kalinya pedang mereka kembali beradu. Setiap benturan pedang yang terjadi menimbulkan percikan api dan efek kejut yang cukup besar. Sejenak keduanya melompat mundur dan saling menjaga jarak.
“Hemph! Sepertinya kau mengalami kemajuan yang cukup besar, Tantra Langit. Jika kita bertarung satu atau dua tahun lebih awal, aku tidak yakin kau bisa mengimbangiku sampai sejauh ini.” ucap Mahapatih Argadana seraya melayangkan senyum termanisnya.
Tantra Langit tertawa kecil sebelum menjawab provokasi lawannya itu, “Aku tidak menganggap itu sebagai pujian, Mahapatih Argadana. Akan tetapi, semua yang kau ucapkan adalah benar adanya. Setiap pertarungan yang aku jalani berhasil menjadikan kekuatanku meningkat dari sebelumnya.”
“Oh, begitu rupanya. Aku sedikit lupa jika kau adalah penjaga Matraman Barat dari balik bayangan, sudah barang tentu kau lebih sering bertarung. Tidak heran jika ilmu kanuragan mu bisa meningkat dengan sangat pesat.”
Tantra Langit tertawa kecil lalu memandang Mahapatih Argadana dengan tatapan penuh selidik, “Apakah obrolan sampah ini sudah cukup, Mahapatih Argadana? Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?” tanya Tantra Langit seraya menaikkan salah satu alisnya.
Tantra Langit bertanya seperti itu sebab dirinya merasa bahwa Mahapatih Argadana sedang menunggu sesuatu. Hal ini juga terjadi ketika mereka bertarung, Mahapatih Argadana terlihat tidak fokus dan sedang memikirkan hal yang lain.
__ADS_1
Tepat setelah Tantra Langit berfikir demikian, ada seseorang yang datang entah dari mana asalnya langsung mendekati Mahapatih Argadana. Orang itu memakai penutup kepala seperti anggota Kelompok Jubah Hitam.
Orang itu lalu membisikkan sesuatu dan sepertinya memang orang itulah yang sedang ditunggu oleh Mahapatih Argadana. Mahapatih Argadana terlihat manggut-manggut menanggapi informasi yang disampaikan kepadanya.
Jarak antara Tantra Langit dan Mahapatih Argadana cukup jauh sehingga dirinya tidak bisa mendengar apa yang sedang orang itu bisikkan. Namun berbeda dengan Jaka, walaupun jarak Jaka lebih jauh, nyatanya samar-samar Jaka bisa mendengar apa yang orang itu bisikkan.
“Paman, lumpuhkan orang itu! seru Jaka kepada Tantra Langit. “Dia mengetahui lokasi persembunyian musuh.” lanjutnya.
Usai berkata demikian, Jaka melompat mendekati Mahapatih Argadana. Sedangkan Tantra Langit bertugas menghadang sisanya.
Pertarungan di antara mereka kembali pecah. Aura dingin langsung memenuhi lokasi pertarungan itu.
“Kau bocah yang menarik. Tidak salah jika kau menjadi musuh utama Kelompok Jubah Hitam.” ucap Mahapatih Argadana.
“Kau sangat arogan, bocah. Terima serangan ku, hiaaattt-.”
Mahapatih Argadana melakukan serangan tangan kosong. Mula-mula serangan mengarah ke dada lawan, terus berlanjut ke bagian-bagian lainnya namun tidak satupun yang tepat sasaran.
Mahapatih Argadana mendengus kesal, lalu kembali maju menyerang. Serangannya kali ini dengan menggunakan pedang kesayangannya. Jurus demi jurus dikeluarkannya dengan sangat lihai, setiap serangannya selalu mengarah ke bagian-bagian vital lawan.
Jaka meladeni serangan lawan dengan mengandalkan seruling bambu miliknya. Sesekali senjata mereka beradu di udara.
Akibat serangan yang diarahkan kepadanya, Jaka melompat kesana kemari sembari menyerang balik. Setidaknya serangan yang Jaka berikan mampu membuatnya keluar dari desakan serangan musuh.
“Hemph! Boleh juga ilmu kanuragan pak tua ini.” gumam Jaka.
__ADS_1
Pertarungan lainnya antara Tantra Langit dan dua orang lawannya juga berlangsung sengit. Tunggu dulu, dua orang?
Ya. Tepat setelah Tantra Langit memulai serangan, tiba-tiba muncul satu orang yang lainnya. Akibat diserang bersamaan, luka yang diterima Tantra Langit pada pertarungan sebelumnya kembali terbuka dan membuat pergerakannya tidak selincah seperti biasanya.
“Argh.. “ Tantra Langit memegangi bagian tubuhnya yang terluka.
Tantra Langit mencoba mengalirkan tenaga dalam ke bagian tubuh yang terluka, setidaknya untuk menghentikan pendarahan yang sedang terjadi.
Rupanya kelengahan yang Tantra Langit perlihatkan dimanfaatkan dengan baik oleh lawannya, kedua lawannya maju menyerang dengan pedang terhunus.
Tantra Langit berhasil menghindari serangan yang pertama, namun tidak untuk serangan yang kedua. Serangan lawan yang kedua ini berhasil menggores bahu kanan dari Tantra Langit. Luka yang diterima Tantra Langit kali ini cukup dalam.
Jaka yang melihat Tantra Langit sedang terluka, berniat memberikan pertolongan. Jaka menjauhkan diri dari Mahapatih Argadana dan menyerang kedua musuh lainnya. Anehnya, Mahapatih Argadana justru tidak berusaha menghalangi kepergian Jaka.
Kedua musuh itu tidak siap dengan serangan yang Jaka berikan, satu orang berhasil menghindar dan satu orang lainnya menahan serangan Jaka dengan kedua tangannya.
“Prakkk..” suara tulang lengan yang patah akibat benturan dengan seruling yang Jaka gunakan.
‘‘Argh...” rintih orang itu. Kedua tulang lengannya menjuntai ke bawah, tiada lagi bisa digunakan untuk bertarung.
Jaka kemudian melirik tajam kepada lawan yang tersisa, lirikannya itu mampu membuat lawannya bergidik ketakutan. Tanpa lawannya sadari, Jaka sudah berada di hadapannya dan mengarahkan seruling itu ke kepalanya.
"Prakkk... "
Lawannya itu langsung roboh. Mati dengan kepala pecah.
__ADS_1