Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 42. Gejolak


__ADS_3

"Celaka Ketua.. ketiwasan.. ketiwasan.. " seseorang yang mengenakan jubah hitam melapor kepada orang yang di hadapannya dengan raut kepanikan.


"Ada apa? Bicara yang jelas!!!" bentak seseorang yang dipanggil ketua itu.


"Ampun Ketua.. "


Orang itu lalu menjelaskan bahwa Pendekar Topeng Kuning telah tewas berserta seluruh anggotanya dibantai oleh seorang pemuda. Pemuda itu menyebut dirinya sebagai Pendekar Seruling Bambu. Pendekar Topeng Biru yang kebetulan lewat berniat membantu, namun juga tewas di tangan pemuda itu.


"Setan!!! Jadi hanya dirimu yang berhasil lolos?"


“Ampun ketua.. selain hamba, masih ada empat anggota lainnya."


Seketika orang yang dipanggil sebagai ketua itu memijit keningnya yang mulai terasa sakit, timbul beberapa kerutan di wajahnya. Ketua itu tidak menyangka bahwa dua orang pendekar tinggi yang dimilikinya tewas di tangan seorang pemuda. Padahal kemampuan kedua orang itu setara dengan pendekar ahli tahap puncak.


"Aku penasaran, sehebat apa ilmu kanuragan pemuda itu.. " batinnya.


"Segeralah pergi ke Kerajaan Matraman Utara, temui Mahapatih Argadana. Sampaikan padanya bahwa aku hanya bisa mengirim seratus pendekar ahli. Jelaskan juga peristiwa yang telah menimpa kelompok kita." perintah ketua itu kepada bawahannya.


"Sendika Ketua.. "


Setelah kepergian bawahan yang diutusnya, ketua Kelompok Jubah Hitam yang tak lain adalah Mahesa kemudian mengumpulkan ketiga pendekar tinggi yang tersisa. Mahesa meminta mereka untuk bersiap membalaskan kematian dua orang rekannya.


"Apakah pemuda itu berasal dari aliran putih, Ketua?" tanya seorang pendekar yang memakai topeng merah.


"Entahlah, siapapun pemuda itu, berasal dari aliran apapun dia, pemuda itu harus membayar mahal atas kematian semua orang-orangku." ucap Mahesa dengan kedua tangannya mengepal tinju.


Semua orang yang ada di ruangan itu serempak menganggukkan kepala, lalu melanjutkan rencana pembalasan kepada sang pemuda yang kini telah menjadi musuh utama kelompok mereka.


***


Di aula Kerajaan Matraman Utara tengah berkumpul seluruh petinggi kerajaan, termasuk juga seluruh senopati kerajaan. Mereka sedang menyiapkan strategi guna menaklukan Matraman Barat.

__ADS_1


Namun di sela-sela pembicaraan itu, muncul seorang prajurit yang melaporkan bahwa di luar ada utusan dari Kelompok Jubah Hitam ingin melaporkan hal yang penting.


"Perintahkan utusan itu untuk menunggu di pendopo istana, aku akan menyusul." jawab Mahapatih Argadana.


Prajurit itu kemudian keluar ruangan pertemuan dan menyampaikan pesan Mahapatih Argadana kepada utusan itu.


"Kira-kira laporan apa yang akan disampaikan utusan itu, paman patih?" tanya Raja Putra keheranan.


"Hamba belum bisa menduga hal tersebut Gusti, untuk itu hamba mohon izin untuk menemui utusan tersebut."


"Silahkan paman patih.. "


Rapat yang sedang berlangsung itupun ditunda sejenak, demi menunggu informasi penting yang dibawa oleh utusan sekutu.


Mahapatih Argadana lalu menemui sang utusan di pendopo istana. Utusan itupun segera menjelaskan semua hal yang terjadi, termasuk pesan yang dititipkan kepadanya.


"Apa katamu? Apa telingaku tidak salah mendengar dengan apa yang baru saja kau laporkan?" tanya Mahapatih Argadana kepada salah satu utusan Kelompok Jubah Hitam.


"Tidak Gusti Patih.. Ilmu pemuda itu sangat hebat. Ketua kami sedang menyiapkan pasukan untuk memburu pemuda itu."


"Sendika Gusti Patih.. "


***


Selain rencana peperangan besar antar kerajaan yang mungkin akan segera terjadi, rimba persilatan di wilayah daratan Matraman juga mulai bergejolak. Aliran Hitam saling senggol demi menjadi yang terkuat di wilayah ini. Tidak jarang juga gejolak ini melibatkan aliran putih.


Saat ini di daratan Matraman terdapat tiga perguruan besar aliran putih. Ketiga perguruan itu adalah Perguruan Pedang Surga, Perguruan Segoro Angin, dan Perguruan Selendang Biru. Keberadaan mereka setidaknya mampu meredam gejolak yang dilakukan oleh aliran hitam.


Selain ketiga perguruan besar itu, tentu masih banyak perguruan-perguruan kecil aliran putih. Biasanya mereka berada di bawah naungan tiga perguruan besar.


Di lain sisi, aliran hitam juga memiliki tiga perguruan terkuat. Ketiga perguruan itu adalah Perguruan Lima Racun, Perguruan Duri Hitam, dan Perguruan Lembah Kematian. Ketiganya menjadi kiblat bagi perguruan-perguruan kecil aliran hitam.

__ADS_1


Di antara semua perguruan aliran hitam, Perguruan Lima Racun bisa dibilang perguruan yang paling kuat. Kekuatan perguruan ini mampu menandingi bahkan meratakan satu perguruan besar aliran putih.


Perguruan Lima Racun memiliki lima cabang sesuai dengan namanya. Perguruan ini mengambil tempat di Gunung Lima Menara. Gunung itu menjulang tinggi dengan anak-anak gunung berada di sekelilingnya. Masing-masing cabang mendiami satu menara.


Saat ini di Perguruan Lima Racun tengah berlangsung pembicaraan antara ketua perguruan dengan para pemimpin cabang. Mereka tengah membahas perihal perang besar yang akan segera terjadi.


"Ketua, apakah kita tidak ingin mengambil bagian dari perang kerajaan ini?" tanya pemimpin cabang racun katak, namanya Ki Ngaran Bangkong kepada ketua perguruan.


Ketua Perguruan Lima Racun diam sejenak, baru kemudian menjawab, "Kita tidak bisa berbuat apa-apa, jika kita ikut berpihak ke Kerajaan Matraman Utara tentu perguruan aliran putih juga akan berpihak ke Matraman Barat. Kita belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk melawan mereka."


"Bukankah kekuatan kita mampu menandingi satu perguruan besar aliran putih, Ketua?"


tanya Ki Sanca Biru, pemimpin cabang racun ular.


"Kau benar, Sanca. Tapi kita pun akan bernasib sama, apa itu yang kau inginkan?" Ki Sanca Biru yang ditanya tidak menjawab, dirinya sedang memikirkan jawaban dari ketua perguruan.


"Jadi menurut Ketua, kita hanya akan menjadi penonton?" kali ini Nyi Kumbang Sari dari cabang racun lebah yang bertanya.


"Akan lebih baik seperti ini, lagipula Kelompok Jubah Hitam sudah memutuskan ikut ambil bagian. Kita lihat saja hasil apa yang akan mereka dapatkan."


"Baiklah Ketua, aku hanya merasa sangat gatal akibat sudah lama tidak bertarung." jawab Nyi Kumbang Sari.


“Kau tidak usah repot-repot pergi berperang Nyai, aku siap jika harus melayani mu.. " Ki Tunggeng Lara yang merupakan pemimpin cabang racun kalajengking menimpali seraya memberikan senyuman termanisnya kepada Nyi Kumbang Sari.


Sudah sejak lama Ki Tunggeng Lara memendam rasa kepada Nyi Kumbang Sari, namun perasaannya selalu ditolak mentah-mentah. Walaupun demikian, tidak sekalipun menyurutkan rasa cintanya. Sesekali mereka terlihat bertengkar kecil hingga harus dilerai oleh rekannya.


"Apakah kau sudah tidak sayang dengan nyawamu yang hanya selembar itu, Ki Tunggeng?" Nyi Kumbang Sari menjawab ketus.


"Ah.. aku tidak akan mati semudah itu, Nyai.. "


"Baiklah, mari kita bertarung.." Nyi Kumbang Sari beranjak dari tempat duduknya yang juga diikuti oleh Ki Tunggeng Lara.

__ADS_1


"Sudah-sudah, sudahi obrolan sampah macam ini, jaga sikap kalian jika sedang di hadapan ketua." Ki Kolomonggo yang sudah muak mendengar obrolan mereka segera mengakhiri perdebatan itu.


Akhirnya mereka berdua kembali duduk di tempatnya setelah meminta maaf kepada ketua perguruan.


__ADS_2