Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 35. Bukit Buah Batu


__ADS_3

Seekor kuda putih yang ditunggangi oleh Jaka berjalan lambat di antara keramaian penduduk. Jalanan itu penuh sesak, di sisi kanan dan kirinya terdapat banyak pedagang saling menjajakan dagangan. Ada yang menjual makanan, minuman, dan beberapa barang-barang lainnya. Raut wajah bahagia menghiasi wajah setiap penduduk.


Jaka memperhatikan pedagang itu satu per satu, tidak lama muncul senyuman di wajahnya. "Kehidupan di Kotaraja ini sepertinya sangat baik.. " gumam Jaka.


Jaka lalu mengarahkan kudanya menuju penginapan, dirinya hendak mengunjungi temannya, Purwita Sari. Penginapan yang dituju adalah penginapan yang paling megah di Kotaraja.


Di depan pintu masuk penginapan tertera papan nama yang cukup besar bertuliskan "Penginapan Bintang Mas". Setelah bertanya kepada seorang pelayan, Jaka diarahkan menuju kamar yang disewa oleh Purwita Sari.


"Tok tok tok.. " Jaka mengetuk pintu kamar dengan punggung tangannya.


Tidak lama pintu kamar terbuka dan munculah seorang gadis yang sangat cantik, rambutnya hitam panjang dan lesung pipi di kedua pipinya. Gadis itu memakai pakaian yang cukup terbuka di bagian atas dadanya.


"Oh? Jaka.. ada apa kau kemari? Apa kau merindukanku?" tanya Purwita Sari dengan wajah yang merah menggoda.


Jaka tersedak nafasnya sendiri mendengar pertanyaan gadis di depannya, "Tidak.. aku hanya sekedar mampir.. " jawabnya gelagapan.


Purwita Sari menatap wajah Jaka lekat-lekat, seperti sedang mencari sesuatu namun tidak berhasil menemukan apapun. Purwita Sari kemudian mempersilahkan Jaka untuk masuk ke dalam kamarnya.


Kamar yang disewa Purwita Sari cukup luas, selain ada ranjang sebagai tempat tidur juga tersedia dua kursi rotan dan sebuah meja kecil berbentuk persegi panjang. Di atas meja itu ada seguci arak dan dua buah gelas bambu.


Purwita Sari mengajak Jaka untuk duduk di kursi rotan, lalu menuangkan arak ke gelas bambu dan menyerahkan kepada Jaka. Jaka pun meminum arak itu hingga habis.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang senopati?" tanya Purwita Sari dengan tatapan penuh selidik.


Jaka agak terkejut ketika Purwita Sari bisa mengetahui informasi perihal dirinya, namun setelah dipikir-pikir itu bukanlah suatu hal yang mustahil sebab Serikat Pedagang mempunyai mata dan telinga dimana-mana.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau menginginkannya?"


"Tidak.. untuk apa aku menginginkannya. Lagipula aku sudah menjadi pimpinan tinggi di Serikat Pedagang." jawab Purwita Sari.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Jaka lagi.


"Aku hanya menduga bahwa kau tidak menyukai jabatan itu."


Jaka terdiam sejenak mencerna jawaban gadis di hadapannya. Memang benar bahwa Jaka tidak menyukai jabatan itu, namun Jaka tetap menerimanya karena tidak ingin mengecewakan kakak seperguruannya.


Jaka lalu mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan informasi tentang Kelompok Jubah Hitam. Jaka meyakini bahwa temannya ini pasti mempunyai banyak informasi yang dirinya butuhkan.


Purwita Sari kemudian menjelaskan bahwa sebenarnya Kelompok Jubah Hitam adalah sekelompok pendekar bayaran. Kelompok ini dipimpin oleh pendekar yang bernama Mahesa Jenar.


Sepak terjang kelompok mereka cukup terkenal di kalangan rimba persilatan. Tidak sedikit pendekar yang tewas ketika berurusan dengan kelompok mereka, baik itu sebagai target misi ataupun sekedar datang mengganggu pekerjaan mereka di tengah jalan.


Sejatinya sebagai kelompok pendekar bayaran, mereka bergerak ketika ada yang sanggup membayar jasa mereka. Tarif untuk menggunakan jasa mereka cukup tinggi sehingga hanya orang-orang yang mempunyai harta berlimpah yang bisa menyewa jasa mereka. Contohnya seperti pejabat kerajaan atau pedagang besar yang kaya raya. Sejauh ini tidak ada misi yang gagal mereka laksanakan, semuanya disapu bersih dengan keberhasilan.


Tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa jumlah seluruhnya dari Kelompok Jubah Hitam, sekalipun itu Serikat Pedagang. Namun ada kabar yang menyebutkan bahwa Mahesa Jenar memiliki lima orang bawahan yang bertanggung jawab langsung kepadanya. Kelima bawahan ini selalu menggunakan topeng yang berbeda warna.


Purwita Sari menarik nafas dalam-dalam lalu mengakhiri ceritanya, "Hanya itu yang aku ketahui.. " jawabnya seraya menatap Jaka penuh arti.


"Terimakasih.. Informasi ini sungguh sangat membantu."


Setelah cukup mengobrol tentang hal-hal yang ringan, Jaka sekali lagi mengucapkan banyak-banyak terimakasih sebelum meninggalkan penginapan itu. Tujuan selanjutnya adalah kembali ke desa yang pertama kali Jaka singgahi di dekat perbatasan yaitu Desa Tanjung Lemur.


***


Pagi hari di jalan Desa Tanjung Lemur tampak lengang, hanya terlihat beberapa penduduk yang akan pergi ke sawah. Tidak ada lagi suara ataupun anak-anak yang bermain lari-larian, sunyi sepi.


Beberapa kepala menyembul dari balik jendela rumah tatkala Jaka melewati rumah mereka. Jaka yang mengetahui tengah diperhatikan tidak mau ambil pusing, dirinya tetap melanjutkan perjalanan menuju rumah kepala desa.


Tidak lama Jaka telah tiba di kediaman kepala desa, rumahnya cukup besar. Di samping rumah itu terdapat teras tempat biasanya kepala desa menerima tamu. Di teras itu ada beberapa kursi rotan dan sebuah meja kecil.

__ADS_1


Jaka turun dari kudanya dan menambatkan di pohon sebelah rumah, lalu menuju pintu masuk untuk menemui kepala desa. Jaka mengetuk pintu beberapa kali hingga pintu itu dibuka pemiliknya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya pemilik rumah yang tak lain adalah kepala desa, orang-orang memanggilnya dengan nama Ki Tama.


"Saya ingin bertemu dengan Ki Tama.. " jawab Jaka.


"Saya sendiri yang bernama Ki Tama, mari silahkan duduk.. "


Ki Tama mempersilahkan Jaka untuk duduk di teras rumah, sedangkan dirinya masuk kembali ke dalam rumah untuk menghidangkan seguci arak manis untuk tamunya tersebut.


Jaka lalu memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dari tujuannya datang ke desa ini. Bermula dari kondisi desa yang sangat sepi dan rumor yang beredar tentang Kelompok Jubah Hitam.


Ki Tama menarik nafas dalam-dalam lalu menuangkan arak ke gelas bambu dan meminumnya perlahan. Setelah arak di gelas bambu habis, Ki Tama mulai menceritakan kondisi desanya.


Pada awalnya Desa Tanjung Lemur ini sangat ramai oleh pengunjung, dari siang hari hingga malam selalu saja ada pengunjung yang datang. Hal ini membuat perekonomian desa berjalan dengan sangat baik. Selain membuka kedai rumah makan, mereka juga menyewakan rumah mereka sebagai penginapan.


Lambat laun desa ini menjadi sepi akibat ketegangan antara dua kerajaan besar. Hal ini diperparah seiring munculnya Kelompok Jubah Hitam. Kelompok itu menculik anak-anak mereka baik laki-laki maupun perempuan. Akibatnya desa ini tidak lagi ditemukan suara gelak tawa dari anak-anak mereka.


Akhirnya beberapa penduduk memutuskan untuk pindah ke desa tetangga mencari tempat yang lebih aman.


Jaka mendengarkan cerita Ki Tama dengan seksama, beberapa kali dirinya terlihat menganggukkan kepala.


"Apakah penduduk desa ada yang mengetahui lokasi mereka, Ki?" tanya Jaka.


"Tidak, kami sudah mencoba menelusuri jejak mereka namun tidak berhasil. Tetapi ada satu tempat yang belum berhasil kami lacak, tempat itu sulit untuk didatangi karena begitu terjal.”


"Dimana itu, Ki?"


"Bukit Buah Batu.. "

__ADS_1


__ADS_2