Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 41. Tragedi Hutan Larangan


__ADS_3

Pedang yang Jaka gunakan sedetik lagi mampu memenggal kepala wanita bertopeng kuning, namun tiba-tiba dari arah samping muncul seseorang yang menahan serangan Jaka.


"Tring.. " pedang Jaka dan lawannya saling beradu, untuk sementara ini selamatlah nyawa wanita bertopeng itu.


Jaka memandang lawannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari perawakannya Jaka bisa menebak bahwa lawannya kali ini adalah seorang laki-laki. Lawan yang baru datang ini sama dengan yang lainnya yaitu sama-sama menggunakan jubah hitam. Yang membedakan di antara mereka adalah dirinya menggunakan topeng berwarna biru. Mungkin posisinya sama dengan wanita bertopeng kuning.


"Mundurlah Nyi.. sisanya biar aku yang urus." wanita bertopeng kuning itu segera bangkit menjauh.


"Hati-hatilah.. ilmunya sangat tinggi."


Orang bertopeng biru itu mengangguk, dirinya sudah merasakan sendiri tenaga dalam pemuda di hadapannya tidak bisa dianggap remeh. Dan juga, pemuda itu mampu memberikan luka dalam yang sangat parah kepada rekannya.


"Siapa kau bocah tengik? Berani sekali mengacau di wilayah kami!" ucapan pria bertopeng diiringi dengan aura membunuh yang langsung mengarah ke Jaka.


Jaka merasakan sedikit terintimidasi dengan aura yang dikeluarkan lawannya. Namun Jaka mencoba tetap tenang dan menjawab pertanyaan lawannya dengan senyum tersungging di bibir, "Apakah namaku penting bagimu?"


"Pantang bagiku membunuh lawan yang tidak aku ketahui namanya. Cepat sebutkan nama dan gelar yang kau miliki! Sebelum aku memenggal kepalamu."


Jaka tertawa sejenak sebelum menanggapi lawannya, "Orang-orang memanggilku Pendekar Seruling Bambu. Apa pertanyaan mu sudah selesai? Atau masih ada lagi?"


"Setan!!! Ku bunuh kau!!!"


Pria bertopeng biru menyerang Jaka dengan pedang terhunus di tangan, sasarannya sudah jelas, memenggal kepala Jaka. Serangan pria bertopeng biru ini perlahan mampu memaksa Jaka ke posisi bertahan.


Jaka berdecak kesal, sudah sampai lima jurus Jaka belum mampu memberikan serangan balasan. Jaka terus dipaksa ke posisi bertahan. Jaka kemudian melompat menjauhi lawannya.


"Apa hanya sebatas itu kemampuanmu, bocah tengik?"


Jaka tidak menjawab, dirinya memperhatikan mata pedangnya yang mulai gompel. "Pedang yang buruk.." gumamnya.


Jaka lalu membuang pedang itu lalu menarik Pedang Langit dari balik jubahnya. Cahaya putih keperakan keluar dari sarungnya, membuat siapapun yang memandang menjadi kesilauan.

__ADS_1


"Keluarkan semua yang kau punya.." ucap pria bertopeng.


Jaka menjawabnya dengan menyerang menggunakan jurus Naga Mencari Mangsa. Pedang Jaka meliuk-liuk mencari sasaran tubuh lawan, namun lawan yang diserang mampu menghindar dengan sangat baik.


Jaka kembali menyerang dengan sangat ganas, mula-mula menyerang ke arah kaki namun ketika lawan mulai menghindar Jaka merubah jurusnya menjadi Naga Menghujam Bumi. Jaka melompat ke udara lalu membabatkan pedangnya ke arah bawah.


Pria bertopeng tidak memiliki waktu untuk menghindar, dengan segera dirinya menyilangkan pedangnya di atas kepala.


"Trang.." kedua pedang beradu dengan sangat keras.


Akibat benturan itu pria bertopeng terdesak dan kedua kakinya masuk ke tanah sampai ke mata kaki. Sedangkan Jaka berjumpalitan di udara dua kali dan mendarat dengan mulus.


Pria bertopeng masih memegangi tangan kanannya yang masih kesemutan, "Tenaga dalam pemuda ini berada di atas ku, untung saja pedangku tidak terlepas.." batinnya.


"Apakah pertarungan ini bisa dilanjutkan?" Jaka bertanya dengan senyum mengejek.


"Nyalimu sungguh besar, bocah." usai berkata demikian pria bertopeng berniat menyerang lebih dulu, sebisa mungkin dirinya menghindari benturan pedang yang mungkin akan terjadi.


Pada pertukaran jurus yang ketiga puluh, pria bertopeng mulai terdesak. Tubuhnya mulai dipenuhi luka akibat serangan yang Jaka berikan.


"Mati!"


Jaka berteriak seraya menyerang lawan, dan serangannya itu mampu memberikan luka memanjang di tubuh lawan bagian depan. Pria bertopeng terhuyung ke belakang, tangannya menekan bagian perut yang terluka namun itu semua tidaklah cukup. Serangan yang Jaka berikan sangatlah dalam, akhirnya pria bertopeng itu jatuh meregang nyawa.


Jaka sejenak memandang mayat di depannya lalu beralih kepada wanita bertopeng kuning yang masih diam mematung. Beberapa waktu yang lalu wanita bertopeng sedikit merasa ada harapan untuk hidup, namun saat ini harapan itu telah sirna.


Bawahannya yang masih hidup sudah tidak ada lagi di tempat, mereka diam-diam meninggalkan lokasi pertempuran. Menurut mereka, itu adalah pilihan yang baik, tidak bijak jika tetap berada di sana hanya untuk mengantar nyawa.


"Sebutkan pesan terakhirmu!" Jaka berucap seraya pedang terhunus di leher lawannya.


Wanita bertopeng kuning tidak menjawab, dirinya memandang Jaka dengan tatapan penuh kebencian. Jika dirinya masih diberi kesempatan hidup, ingin rasanya wanita itu mencabik-cabik tubuh Jaka hingga menjadi bagian-bagian kecil. Namun harapan itu tetap hanya akan menjadi harapan, seiring pedang Jaka memenggal putus leher lawannya.

__ADS_1


Hari ini Jaka berhasil membunuh dua dari lima pimpinan Kelompok Jubah Hitam. Entah hal ini akan berakibat baik atau buruk bagi Jaka di masa depan. Jaka hanya percaya, setiap kebaikan akan mampu menumpas segala kejahatan.


Sebelum pergi meninggalkan Hutan Larangan, Jaka mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan lalu membakar mereka semua beserta bangunan-bangunan yang ada di sana. Hari itu Hutan Larangan menjadi saksi tindak tanduk dari Jaka sang Pendekar Seruling Bambu.


***


Di ujung wilayah utara atau tepatnya di pendopo Kerajaan Matraman Utara, tengah duduk dua orang yang sedang berdiskusi. Keduanya tampak serius membicarakan hal-hal yang penting.


"Paman, bagaimana kondisi pasukan kita?" tanya Raja Putra kepada Mahapatih Argadana.


"Seluruh pasukan siap bertempur Yang Mulia, termasuk juga sebagian pasukan kita yang berada di wilayah timur telah siap bergerak. Kami semua telah siap menerima titah Yang Mulia Raja.."


"Bagaimana dengan Kelompok Jubah Hitam?"


"Hamba telah menemui Mahesa selaku ketua kelompok tersebut. Mahesa siap mengirimkan dua ratus pendekar kelas ahli tahap awal sampai menengah yang dipimpin langsung oleh pendekar topeng merah."


Senyum Raja Putra seketika merekah sempurna, bagaimana tidak? Dengan ikut sertanya Kelompok Jubah Hitam, mampu memudahkan dirinya untuk menguasai seluruh daratan Kerajaan Matraman. Dengan menyertakan dua ratus pendekar kelas ahli, itu sama saja dengan mengirimkan dua puluh ribu prajurit kelas biasa.


"Sebentar lagi aku akan menjadi penguasa tunggal daratan ini.. " gumamnya dengan wajah berseri-seri.


"Paman, segera kirimkan utusan ke Matraman Barat. Perintahkan mereka untuk tunduk kepada kerajaan kita."


"Sendika Yang Mulia.." Mahapatih Argadana membungkuk hormat lalu segera pamit undur diri.


Raja Putra melihat ke atas langit, dirinya seperti sedang menatap seseorang,


"Lihatlah Ayahanda.., akulah yang akan menjadi raja seutuhnya dari Kerajaan Matraman. Akulah yang akan menyatukan kembali kerajaan yang sempat terpecah karena ulah putramu yang bodoh itu."


Raja Putra terdiam sejenak, dirinya sedang membayangkan kemenangan yang sebentar lagi akan diraihnya.


"Matraman Timur sudah rata dengan tanah, besok giliranmu Matraman Barat.."

__ADS_1


__ADS_2