Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 27. Malam Pembantaian


__ADS_3

"Kakang, itu dia orangnya!" seru Getih Abang seraya menunjuk Jaka.


"Setan! Beraninya kau menyusup kemari.. " wajah Getih Ireng terlihat merah padam.


Jaka yang sudah ketahuan identitasnya hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu Jaka berjalan keluar gubuk mencari tempat yang cukup luas untuk membersihkan sampah-sampah seperti mereka.


β€œKalian semua.. cepat bunuh bocah kunyuk itu!" perintah Getih Ireng.


Para perampok itu segera menarik golok dari sarungnya lalu maju menyerang. Gelombang serangan yang pertama ini jumlahnya sekitar sepuluh orang, mereka menyerang Jaka dari berbagai sisi dengan sangat ganas.


Jaka yang dihujani sabetan-sabetan golok bergerak lincah kesana kemari, tidak jarang jaka meliuk-liukan badannya sekedar untuk menghindar. Namun tiba-tiba dari arah belakang muncul sabetan golok menyasar punggung, Jaka merunduk dan melayangkan tendangan ke belakang tepat mengenai perut penyerangnya dan goloknya pun terlepas.


Jaka mengambil golok itu dan mulai menyerang balik, hanya dengan satu gebrakan Jaka mampu membuat dua sampai tiga lawannya mati dengan luka sabetan di leher.


Melihat rekannya mati dengan mudah, para perampok itu lebih banyak yang menyerang. Mungkin saat ini hampir dua puluh lebih dari anggota mereka yang menyerang. Jaka tidak gentar, disambutnya serangan itu dengan mengayunkan golok di tangannya. Suara denting golok beradu pun tak bisa dihindari.


"Tring.."


Golok-golok yang digenggam para perampok seketika terlepas jatuh ke tanah. Mereka semua terkejut tak percaya, belum juga hilang rasa terkejut itu tiba-tiba sebuah tendangan melayang menghantam satu per satu tubuh mereka. Tanpa ampun mereka semua terpental menghantam gubuk-gubuk kecil hingga hancur. Tubuh mereka bergerak-gerak sedikit lalu diam untuk selamanya.


Jaka memandangi memandangi mayat-mayat perampok itu, ada rasa yang tak bisa diungkapkan di hatinya. Kini tangannya telah penuh dengan noda darah namun tidak ada rasa penyesalan sedikitpun di wajahnya. Jaka harus melanjutkan ini semua atau jika tidak, akan ada banyak penduduk yang tertindas di kemudian hari.


Jaka sejenak memejamkan mata untuk memantapkan hatinya lalu bersiap-siap melakukan serangan berikutnya. Di sekeliling Jaka saat ini masih ada sekitar seratus perampok, belum termasuk dengan tiga pimpinannya. Jaka memandangi mereka sejenak sebelum bergerak menyerang.


Jaka menyerang para perampok itu dengan sangat cepat, tidak butuh waktu lama mayat-mayat segera berjatuhan. Kebanyakan dari mereka mati hanya dengan satu luka di tubuhnya yaitu luka sayatan di leher.


Di sisi lain Getih Ireng melihat pembantaian itu tanpa berkedip, dirinya tak percaya pemuda itu mampu membunuh anggotanya secepat itu. Bahkan menurutnya, dirinya pun tak akan bisa melakukan serangan seperti yang pemuda itu lakukan.


"Gagak Sodra! Gagak Londo!"


"Apa kalian berdua hanya ingin menonton saja?!" Getih Ireng geram melihat kedua tangan kanannya hanya diam menonton.


"Maafkan kami Ketua.. izinkan kami yang menyelesaikan masalah ini.." ucap Gagak Sodra seraya menjura hormat.


"Berhenti!"

__ADS_1


Gagak Sodra dan Gagak Londo kemudian melompat ke area pertarungan, mereka telah menggenggam pedangnya masing-masing. Gagak Sodra kemudian menyuruh sisa-sisa angotanya untuk menjauh. Setelah memberi tanda isyarat pada Gagak Londo, keduanya lalu maju menyerang bersamaan.


"Lihat kaki! Awas kepala!" teriak Gagak Sodra dan Gagak Londo bersamaan.


Jaka yang mendapat serangan di kaki dengan refleks menarik kakinya ke belakang, belum selesai dirinya menghindar kini datang serangan lagi ke arah kepala. Jaka kemudian merunduk dan bergulingan di tanah mencoba mencari jarak.


Jaka dengan kedua lawannya hanya berjarak sejauh dua tombak, Jaka mengamati mereka satu per satu. Jaka bisa mengetahui bahwa mereka berdua telah terbiasa melakukan pertarungan bersama-sama. Hal itu terbukti dari serangan kombinasi yang baru saja mereka lancarkan, serangan-serangan mereka sangat berbahaya dan saling melengkapi satu sama lain.


Gagak Sodra tiba-tiba bergerak ke arah kiri Jaka, sedangkan Gagak Londo bergerak ke arah kanan. Kombinasi ini biasanya mereka lakukan untuk memecah konsentrasi lawannya.


Kini Jaka telah berada di tengah-tengah mereka, Jaka sejenak melihat ke kiri dan sedetik kemudian kembali melihat ke arah kanan. Strategi mereka sepertinya berhasil membingungkan Jaka.


Jaka masih menggenggam golok yang tadi berhasil dirampasnya, dirinya berharap golok itu sanggup bertahan jika terjadi benturan dengan pedang mereka. Jaka memperhatikan lawannya mencoba mencari celah.


"Aku harus menyerang lebih dulu" gumam Jaka.


"Hiyaaaa..."


Dengan cepat Jaka menyerang ke arah Gagak Sodra, sebelumnya Jaka telah melihat ada celah yang ditimbulkan oleh lawannya kali ini. Jaka menyerang ke arah kepala namun Gagak Sodra yang tak cukup waktu untuk menghindar, dirinya dengan cepat membentangkan pedang di atas kepalanya.


Gagak Londo yang melihat rekannya terdesak segera maju menyerang, serangan ini berhasil memaksa Jaka untuk menjauh dari Gagak Sodra.


"Kau harus hati-hati.. hindari bentrokan yang tidak perlu.' Gagak Londo menasehati rekannya.


Sebelumnya Gagak Londo telah menyadari bahwa Jaka memiliki tenaga dalam yang sangat besar. Menurut perhitungannya, tingkat tenaga dalam dirinya dan rekannya masih berada di bawah tenaga dalam milik Jaka.


"Setidaknya bocah ini berada pada tingkat pendekar sakti tahap awal" ucap Gagak Londo kepada rekannya.


"Yang benar saja kau Londo?" tanya Gagak Sodra yang masih belum percaya.


"Apa sekarang matamu telah buta tidak bisa mengukur tingginya gunung?" Gagak Londo berdecak kesal.


Gagak Sodra tidak menjawab namun mulai memikirkan perkataan rekannya. Sebelumnya Gagak Sodra sudah menduga tetapi tidak yakin dengan hasil analisa dirinya. Tidak mungkin seorang bocah semuda ini sudah mencapai pendekar sakti. Bahkan dirinya dan Gagak Londo masih berada di tingkat pendekar ahli tahap menengah dan sulit sekali untuk mencapai tahap berikutnya.


Getih Ireng yang sedari tadi memperhatikan diam-diam mengagumi pemuda ini. Andaikan pemuda ini berada di pihaknya tentu kelompok mereka akan menggetarkan seluruh tanah Matraman. Getih Ireng yang merasa bahwa dua orang terkuatnya tidak mampu mengalahkan Jaka, dirinya kemudian memutuskan untuk membantu mereka.

__ADS_1


Kini Jaka akan menghadapi tiga orang sekaligus namun tak sedikit pun terbersit rasa gentar dihatinya. Jaka kemudian membuang golok yang dipegangnya lalu menarik sebuah pedang yaang tersarung rapi di balik jubah. Pedang itu berwarna putih keperakan dan di gagang pedang itu terukir kepala naga berwarna biru. Itulah pedang pusaka yang bernama Pedang Langit.


Jaka sejauh ini belum pernah sekalipun menggunakannya, Jaka berharap dengan menggunakan pedang ini dapat menyelesaikan pertarungan lebih cepat. Jaka lagi-lagi menyerang lebih dulu ke arah lawannya.


"Brett.. "


Terdengar robekan baju yang dikenakan Gagak Sodra di bagian dada, dari robekan itu perlahan mengalir cairan berwarna merah. Tidak lama kemudian tubuh Gagak Sodra rubuh ke tanah.


Gagak Londo dan Getih Ireng sama-sama terpaku melihat kematian rekannya. Mereka berdua tidak bisa melihat gerakan Jaka yang sangat cepat. Lalu keduanya mengambil posisi bersiap, siapa tau mereka bisa mengantisipasi serangan Jaka.


"Awas dada!"


Tiba-tiba Jaka berteriak dan menyerang ke arah Gagak Londo. Gagak Londo berhasil menghindar dari serangan itu namun sebuah tendangan mendarat di punggungnya. Tanpa ampun tubuhnya terpental menghantam batang pohon. Gagak Londo mencoba bangkit namun gagal ketika sebuah pedang berhasil memenggal kepalanya.


Jaka benar-benar tidak memberikan jeda sedetik pun kepada lawan-lawannya, apalagi setelah pedang pusaka berada di tangannya. Tanpa musuh sadari sorot mata Jaka telah berubah ketika pertama kali mengeluarkan pedang pusaka itu. Jaka saat ini menjadi lebih haus darah dan tingkat kekejamannya pun meningkat.


Getih Ireng terlihat pasrah ketika Jaka menusukkan pedangnya ke jantungnya. Walaupun Getih Ireng bergerak menghindar, dirinya sadar tidak ada jaminan untuknya mampu lolos dari serangan berikutnya. Tubuh Getih Ireng pun rubuh tak bernyawa.


Sisa-sisa anggota dari kelompok itu mencoba kabur sejauh mungkin namun usaha itu sia-sia. Jaka tidak lagi beniat memberi ampun sedikitpun. Malam itu adalah malam pembantaian yang terjadi di tengah-tengah Hutan Godong Surgo.


Setelah Jaka membunuh anggota kelompok yang terakhir, Jaka jatuh tersungkur ke tanah. Malam itu Jaka benar-benar merasa kelelahan hingga kakinya tak kuat lagi menopang tubuhnya.


**Iklan:


Hallo kakak-kakak, sebelumnya author mau ngucapin makasiii buat semuanya yang udah sempetin baca novel PSB (Pendekar Seruling Bambu).


Ini novel pertama author, jadi mohon kalo ada saran dan kritik yang membantu, silahkan coret-coret di bawah ya.


Author juga mau ngingetin lagi yang belum sempat like per chapter, dimohon kesediaannya untuk ngasih like-nya ya. Masih banyak chapter yang di atas like nya jomplang -,-


Dan buat kakak-kakak nya yg punya poin, boleh dong bantu vote 10 atau 20 poin, author sangat berterimakasih πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ


Satu yang terakhir, novel ini ikut lomba #YAAWS3 loh..


Mohon doa dan dukungannya yaa..

__ADS_1


Makasiiii**


__ADS_2