Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 6. Mulai Berlatih


__ADS_3

"Apa yang membuat mu ingin menjadi seorang pendekar, Jaka?" tanya Resi Danurwinda.


"Aku ingin membalas kematian ayah ibu ku kek." jawab Jaka dengan polosnya.


Resi Danurwinda hanya tersenyum mendengar jawaban Jaka, kemudian ia bertanya lagi, "Menurut mu apa yang menyebabkan ribuan pendekar di wilayah Kerajaan Surasena mengepung dan ingin menghabisi kakek?".


Jaka hanya diam tak menjawab, ragu dengan apa yang sedang ia pikirkan.


"Semua itu terjadi karena rasa dendam, mereka dendam kepada kakek atas apa yang pernah kakek perbuat kepada mereka di masa lalu.


Rasa dendam bisa membutakan hati manusia, tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


Rasa dendam itu ibarat lingkaran setan, tiada berujung.


Jika kau ingin menjadi pendekar dan berhasil menghabisi mereka, apakah semuanya telah selesai?


Belum, kerabat mereka, teman-teman mereka akan pergi mencari mu Jaka, mereka akan menuntut balas atas kematian saudara-saudara mereka. Begitu juga seterusnya hingga dunia ini hancur diliputi rasa dendam." Resi Danurwinda panjang lebar menasihati Jaka.


Jaka lagi-lagi hanya diam, merenung memikirkan nasihat gurunya.


"Lalu.. Aku harus bagaimana kek? Ayah ibu ku tewas di tangan mereka, apa aku hanya diam saja kek?" tanya Jaka, wajahnya menunduk menahan kesedihan.


"Kau harus ikhlas Jaka, ini semua atas kehendak Sang Hyang Widhi." jawab Resi Danurwinda.


"Lalu apa tujuan kakek menjadi seorang pendekar?" tanya Jaka lagi.


"Membela kaum yang lemah dan membasmi kejahatan." jawab Resi Danurwinda meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah kek, aku akan menuruti nasihat kakek." jawab Jaka.


***


Keesokan harinya di depan sebuah gubuk bambu sederhana, sedang berlangsung prosesi pengangkatan Jaka menjadi murid Resi Danurwinda. Padahal Resi Danurwinda telah menolak berkali-kali prosesi ini, tetapi Jaka tetap kekeh ingin melaksanakannya. Akhirnya Resi Danurwinda pun mengalah dan mengikuti keinginan calon muridnya. Prosesi ini disaksikan oleh beberapa pasang burung yang bernyanyi bersahutan, seakan ikut senang atas prosesi yang sedang berlangsung.


"Hari ini murid bersumpah akan belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh, berbakti kepada guru, dan akan menjaga nama baik guru, apabila murid melanggar biarlah guru dan langit yang menghukum murid." ucap Jaka dengan posisi berlutut, kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada seraya menundukkan kepala sebanyak tiga kali.


"Bangunlah Jaka, guru terima penghormatan mu." jawab Resi Danurwinda sembari membantu Jaka berdiri.


"Terimakasih guru." jawab Jaka seraya tersenyum bahagia.


Terhitung hari ini, Jaka telah resmi menjadi murid Resi Danurwinda dan bersumpah akan menuruti setiap ajaran dari gurunya.


Setelah prosesi itu selesai, Resi Danurwinda mengajak Jaka untuk mencari tempat latihan yang lebih luas dan juga untuk menghindari jangkauan penduduk. Resi Danurwinda dan Jaka berlari ke arah puncak gunung di belakang hutan tempat mereka tinggal. Resi Danurwinda sengaja meminta Jaka berlari untuk melatih ketahanan fisiknya.


Sebagai seorang pendekar, Resi Danurwinda sadar benar bahwa fisik yang kuat sangat penting. Tidak perduli sehebat apapun teknik atau jurus yang dikuasai oleh seorang pendekar, apabila tidak ditunjang dengan fisik yang kuat, semua itu akan sia-sia di dalam sebuah pertarungan.


Jika bukan karena sering berlari bolak balik dari desa ke hutan, Jaka mungkin tidak akan sanggup berlari sejauh ini. Resi Danurwinda pun kagum dengan kekuatan fisik Jaka, padahal Jaka masih berusia 12 tahun.


Setibanya mereka nanti di puncak gunung, Resi Danurwinda berencana menambah porsi latihan untuk Jaka.


"Guru, bolehkah murid istirahat barang sebentar?" pinta Jaka dengan nafas yang terengah-engah.


"Baiklah Jaka, istirahatlah sebentar, dan setelah itu lanjutkan perjalanan dengan berlari lagi." jawab sang guru yang diikuti anggukan kepala oleh sang murid.


Jaka lantas duduk dan meminum air untuk menghilangkan dahaga. Setelah cukup minum, kemudian Jaka merebahkan tubuhnya di atas rerumputan.

__ADS_1


Pandangannya mulai berkunang-kunang, dirinya tidak yakin mampu mencapai puncak gunung. Namun Jaka tidak ingin mengecewakan gurunya, sebisa mungkin dia akan berusaha sampai mencapai batas kekuatan tubuhnya. Jaka beristirahat sembari memandangi gurunya yang tengah duduk bersila dengan mata terpejam.


Jaka merasa telah cukup beristirahat, mentari pun mulai mencondongkan dirinya ke arah barat. Jaka mengatakan kepada gurunya bahwa ia siap untuk melanjutkan perjalanan, keduanya pun akhirnya berlari kembali.


Tidak lama setelah itu mereka tiba di lereng gunung, lereng itu sangat terjal. Di sepanjang lereng itu menghampar batu-batuan dari yang kecil sampai yang sebesar bukit pun ada. Pasangan guru dan murid ini pun berhenti sejenak, mengatur nafas dan memikirkan cara yang terbaik untuk melewati lereng itu.


Bagi Resi Danurwinda tentu lereng ini bukan lah sebuah halangan yang berarti, dirinya bahkan mampu melewati lereng ini hanya dalam beberapa tarikan nafas.


Resi Danurwinda melirik Jaka dan berfikir, "Sangat berbahaya bagi Jaka apabila memaksakan dirinya melewati lereng ini, dirinya belum menguasi jurus meringankan tubuh... ".


Akhirnya Resi Danurwinda memutuskan melewati lereng ini dengan mengangkat kerah baju Jaka seraya terbang melompat dari satu batu ke batu lainnya. Jaka yang kaget hanya bisa pasrah, dirinya merasa seperti anak kucing yang akan dibuang pemiliknya.


Resi Danurwinda sengaja tidak terbang dengan kecepatan tinggi, ia khawatir Jaka tidak bisa menahan tekanan angin dan justru malah membahayakan nyawa muridnya.


Setelah cukup lama akhirnya keduanya telah berada di ujung lereng. Resi Danurwinda pun melepaskan pegangan pada kerah baju Jaka, dan sebagai akibatnya Jaka jatuh tersungkur dengan posisi tengkurap. Resi Danurwinda malah tertawa melihat Jaka meringis kesakitan.


"Hahaha.. Jaka, harusnya kamu tadi itu melompat agar tidak jatuh nyungsep." ledek sang guru.


"Argh.. " Jaka hanya meringis menahan sakit mengabaikan ledekan gurunya. Tulang-tulangnya terasa ngilu, rasanya seperti habis jatuh dari pohon.


"Guru, apakah kita telah sampai di puncak?" tanya Jaka.


"Belum, sepertinya sebentar lagi. Lihat lah, matahari hampir tenggelam, kita harus bergegas sebelum malam tiba. Jaka, perhatikan arah puncak gunung itu, guru akan ke sana lebih dulu dan kamu harus segera menyusul, apa kamu mengerti Jaka?" tanya sang guru.


"Baik guru, murid mengerti." jawab Jaka seraya mengangguk.


Ketika Jaka melihat ke depan, gurunya sudah tidak ada di tempat semula. Jaka berpikir gurunya sudah pergi ke puncak,

__ADS_1


"Hmm.. cepat juga guru menghilangnya." gumam Jaka.


Setelah merasa tubuhnya lebih baik, Jaka segera melanjutkan perjalanan dengan berlari. Tidak jarang ia jatuh bangun akibat tersandung dahan atau ranting pohon yang tumbang. Walaupun demikian tidak menyurutkan semangat Jaka sedikit pun. Tanpa Jaka sadari, ada sepasang mata yang mengawasinya dari jauh.


__ADS_2