Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter. 14. Sang Pencabut Nyawa


__ADS_3

Pada pagi hari yang cerah di pinggir sungai terlihat seorang pemuda sedang sibuk membersihkan diri, wajahnya beberapa kali menyeringai merasakan kesegaran air sungai.


Sungai ini bernama Sungai Batang, sesekali pemuda itu memandang aliran Sungai Batang dari hulu sampai hilir namun sang pemuda tak menemukan ujungnya. Yang pemuda itu temukan hanyalah bayangan sebuah desa di sebrang sungai serta ada beberapa ikan nila yang berenang mendekat dengan gagahnya.


Pemuda ini tak lain dan tak bukan adalah Jaka, sang Pendekar Seruling Bambu.


"Sombong sekali ini nila ini, kau kira hanya kau yang pandai berenang!" seru Jaka.


Jaka lalu memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, setelah merasa cukup aman Jaka menanggalkan jubahnya dan segera melompat ke sungai.


"Ah.. segarnya... " ucap Jaka, rasanya sudah sekian lama dirinya tidak merasakan sensasi ini.


"Kemana perginya ikan nila tadi, kenapa mendadak menghilang?" tanya Jaka pada dirinya sendiri.


Jaka kemudian berenang ke tengah dan menyelam agak dalam, setelah melihat kawanan ikan nila itu Jaka lalu mengejarnya. Tidak butuh lama Jaka telah berhasil menangkap dua ekor ikan nila sebesar telapak tangan orang dewasa dan segera naik ke permukaan.


Jaka sejenak mengeringkan tubuhnya di bawah sinar matahari pagi lalu kembali memakai jubahnya. Jaka kemudian kemudian membuat perapian dan membakar dua ikan nila tersebut. Setelah cukup matang Jaka memakannya dengan lahap.


Mata Jaka sekilas melihat ada pemukiman penduduk di seberang sungai, Jaka tidak bisa melihatnya dengan jelas sebab jaraknya yang memang sangat jauh. Jaka berniat untuk menyeberangi Sungai Batang dengan berlari di atas air, namun tiba-tiba telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang sangat halus dari arah belakang.


Jaka kemudian melompat ke atas pohon yang cukup tinggi, di atas pohon itu dirinya berharap dapat mengetahui siapa pemilik suara kaki itu.


Tidak lama muncul seorang lelaki tua berjalan santai mendekati Sungai Batang, perawakannya kurus tinggi, dan memiliki tatapan mata yang tajam. Mata lelaki tua itu bergerak ke sana kemari lalu berhenti di sisa-sisa perapian. Seketika lelaki tua itu menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Ternyata ada seorang bocah yang sedang mengamati diriku." ucapnya pelan namun menusuk di telinga Jaka.

__ADS_1


Bagaimana mungkin lelaki tua itu bisa mengetahui kehadiran Jaka, sedangkan Jaka telah menghilangkan hawa keberadaannya hingga ke titik terendah.


"Hebat, pak tua itu bisa mengetahui keberadaan ku." gumam Jaka, pak tua ini pasti ilmunya sangat tinggi. Jaka kemudian melompat turun, tidak ada gunanya tetap bersembunyi pikirnya.


"Ah.. ternyata benar ada bocah di sini. Padahal aku tadi hanya menduga-duga." ucap pak tua itu lalu tertawa tanpa dosa.


"Sialan.. pak tua ini mencoba mempermainkan ku." Jaka mengumpat dalam hati.


"Maaf paman, apa aku menggangu perjalanan mu?" tanya Jaka dengan sopan. Jaka bersikap demikian karena dua alasan, yang pertama adalah karena Jaka memang memiliki budi pekerti yang baik dan yang kedua karena Jaka tidak ingin terlibat masalah yang tidak perlu.


"Oh, tentu tidak, aku hanya kebetulan lewat sini dan bertemu dengan mu. Aku ingin menuju desa yang ada di seberang sana." jawab pak tua itu dengan sopan seraya menunjuk ke seberang sungai.


Pak tua itu memandangi Jaka dari ujung kepala sampai ujung kaki, dirinya belum pernah bertemu dengan Jaka sebelumnya. Ada perasaan kagum di hatinya tatkala mengetahui pemuda di hadapannya memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi.


"Hm.. aku bukan bocah paman." Jaka mendengus kesal.


"Hahaha.. ternyata kau mudah marah ya. Baiklah, siapa nama mu tuan pendekar?" pak tua itu mengulangi pertanyaannya.


"Nama ku Jaka paman, kalau paman siapa?" Jaka bertanya balik.


"Orang-orang memanggil ku Sang Pencabut Nyawa." jawab pak tua itu.


Pak tua ini memang cukup terkenal di rimba persilatan, setiap ada pendekar yang menjadi lawannya maka bisa dipastikan akan mati tak bernyawa. Pak tua ini memiliki ajian yang sangat hebat, ajian itu bernama Ajian Brajamusti. Kabar baiknya adalah pak tua ini memihak aliran putih.


Setelah cukup berkenalan, pak tua itu bergerak sangat cepat menyeberangi sungai. Hanya dalam beberapa tarikan nafas, pak tua itu telah berada di ujung sungai. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tahap sempurna.

__ADS_1


Jaka hanya menggeleng melihat kehebatan pak tua itu, ternyata dunia ini begitu luas. Baru beberapa hari meninggalkan puncak gunung, Jaka telah bertemu sosok pendekar yang berada di tingkat pendekar sakti. Mungkin keesokan harinya Jaka akan bertemu lebih banyak pendekar sakti lainnya. Jaka kemudian pergi menyusul pak tua itu ke seberang sungai.


***


Di halaman utama sebuah kerajaan, terlihat ribuan pasukan prajurit sedang berbaris rapi. Pemimpin utama ribuan pasukan ini adalah Maha Patih Argadana, Maha Patih ini baru saja mencapai tingkat pendekar sakti tahap awal.


Selanjutnya ada sepuluh orang yang berada pada tingkat pendekar ahli tahap menengah, masing-masing dari mereka memimpin pasukan yang berjumlah seribu prajurit. Lalu dari seribu prajurit itu dibagi lagi menjadi beberapa kelompok kecil yang berjumlah seratus orang. Pasukan seratus orang ini dipimpin oleh sepuluh prajurit yang kemampuannya setara dengan pendekar kelas satu. Semua prajurit itu nampaknya sudah siap untuk bertempur.


Terlihat juga beberapa orang yang sedang duduk memperhatikan ribuan pasukan dengan senyum kemenangan. Mereka yakin pasukannya mampu menggetarkan seluruh wilayah Kerajaan Matraman.


Tidak lama kemudian Maha Patih Argadana datang mendekat, lalu membungkuk hormat,


"Lapor kepada Yang Mulia Raja, seluruh pasukan siap melaksanakan perintah."


"Bagus.. aku suka dengan hasil kerja mu paman patih." jawab orang itu yang ternyata adalah Raja Putra, raja dari Kerajaan Matraman Utara.


"Kita mash belum bisa bergerak Yang Mulia.. " ucap seorang lelaki paruh baya yang berada di dekat Raja Putra. Pria paruh baya ini kira-kira berusia lima puluhan tahun, dirinya adalah seorang mantan pendekar rimba persilatan yang berhasil direkrut oleh Raja Putra. Perawakannya gempal namun cukup tinggi, kaki kanannya pincang, dan hanya mempunyai satu mata. Dialah sosok yang bernama Sengkuni, kini dirinya menjabat sebagai penasihat Raja Putra.


"Apa maksud dari perkataan mu Paman Sengkuni?" tanya Raja Putra.


"Kita harus menunggu surat balasan dari Kerajaan Matraman Timur dan Matraman Selatan. Jika memang mereka menolak permintaan kita, maka kita harus menyerang lebih dulu. Tetapi jika mereka setuju, kita bisa langsung mengarahkan pasukan ke wilayah Kerajaan Matraman Barat." ucap Sengkuni menjelaskan panjang lebar.


"Baiklah paman, aku setuju dengan rencana mu." jawab Raja Putra.


Raja Putra kemudian meminta Maha Patih Argadana untuk mengistirahatkan seluruh pasukan sebelum menghadapi pertempuran yang akan datang. Lalu mereka pun serempak membubarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2