
Pada suatu malam di depan kamar peristirahatan keluarga Kerajaan Matraman Barat, ada seseorang yang sedang berlutut di hadapan Yang Mulia Raja Angga. Orang itu menggunakan pakaian ketat berwarna hitam dan sebuah topeng yang menutupi wajahnya.
Orang itulah yang bernama Tantra Langit. Tantra Langit dan saudara kembarnya Tantra Bumi adalah dua senopati Kerajaan Matraman Barat yang melindungi kerajaan dari balik layar.
Keduanya sangat jarang muncul di pemukaan kecuali jika ada hal-hal penting yang harus segera mereka laporkan kepada Raja Angga. Kedatangannya malam ini tentu mengundang banyak pertanyaan di benak sang raja.
"Ada apa Tantra Langit, tidak biasanya kau menemuiku malam-malam begini?" tanya Raja Angga dengan raut wajah yang masih mengantuk.
“Ampun beribu ampun Gusti Prabu.. hamba telah dengan lancang mengganggu waktu istirahat Gusti. Namun ada hal penting yang ingin hamba sampaikan." jawab Tantra Langit dengan hati-hati.
"Katakan.. berita apa yang kau bawa?"
"Ampun Gusti.. Tantra Bumi yang sedang menyusup ke wilayah Kerajaan Matraman Utara memberi kabar bahwa pasukan musuh telah mulai bergerak. Menurut perkiraannya, jumlah pasukan musuh sekitar 50.000 prajurit. Dan juga ada Kelompok Jubah Hitam yang akan ikut serta dalam pasukan tersebut."
Raut kecemasan mulai terlihat di wajah Raja Angga, dirinya sedikitpun tidak meragukan kebenaran informasi itu. "Sepertinya perang besar tidak bisa lagi kita hindari.. " ucapnya.
"Berapa lama perkiraan pasukan musuh akan tiba di perbatasan?"
“Menurut perkiraan Tantra Bumi, dengan pasukan sebanyak itu musuh akan tiba di perbatasan sekitar dua puluh hari kemudian, Gusti."
"Baiklah, sampaikan kepada Tanta Bumi untuk segera kembali dengan selamat, dan kau Tantra Langit, carilah seseorang yang bernama Jaka, dia adalah senopati baru di kerajaan kita. Orang-orang memanggil dirinya Pendekar Seruling Bambu. Katakan padanya bahwa aku menunggunya di Kotaraja."
"Sendika Gusti Prabu.. "
***
Keesokan harinya Raja Angga mengumpulkan seluruh petinggi kerajaan, dimulai dari penasihat hingga senopati-senopati kerajaan. Raja Angga kemudian menyampaikan informasi tentang pergerakan pasukan musuh, kemudian mereka mendiskusikan langkah-langkah yang harus di tempuh oleh pihak kerajaan.
Secara garis besar tentu Kerajaan Matraman Barat akan memberikan perlawanan demi menjaga kedaulatan wilayahnya. Namun di luar itu ada hal yang lebih penting yaitu menjaga keselamatan rakyat Matraman Barat.
Oleh karenanya, langkah pertama yang akan diambil oleh pihak kerajaan adalah mengevakuasi seluruh rakyat yang berada di sekitar perbatasan untuk sementara pindah ke dalam ibukota kerajaan.
__ADS_1
Hari itu juga mereka segera memulai proses evakuasi penduduk yang berada di perbatasan. Mereka diminta membawa barang seperlunya sebab waktu yang mereka miliki tidaklah banyak. Terlihat banyak sekali prajurit yang membantu proses evakuasi tersebut.
Langkah kedua tentu menyiapkan pasukan terbaik dari seluruh wilayah Kerjaan Matraman Barat. Saat ini jumlah pasukan Kerajaan Matraman Barat sekitar 35.000 prajurit. Tentu jumlah ini masih jauh dari pasukan lawan.
Oleh karena itu, pihak kerajaan mengharapkan bantuan dari para pemuda yang ada di wilayah kerajaan untuk ikut berperang. Selain itu, pihak kerajaan juga meminta bantuan dari beberapa perguruan yang berada di wilayah mereka.
***
“Berhenti! Siapa kau?" tanya seorang penjaga pintu masuk Perguruan Pedang Surga.
"Aku utusan dari Kerajaan Matraman Barat, ingin bertemu dengan Ketua Perguruan Pedang Surga."
"Tunggu sebentar.. "
Penjaga itu memberikan aba-aba kepada rekannya untuk melapor kepada ketua mereka, tidak lama rekan penjaga itu telah kembali dengan seorang lelaki paruh baya. Lelaki paruh baya itu tubuhnya kurus tinggi serta kumis tipis menghiasi wajahnya.
"Ada apa prajurit?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Bukan.. ketua kami sedang menjalani latihan tertutup. Namaku Saruja, wakil ketua perguruan ini. Kau bisa percayakan pesan Yang Mulia Raja kepadaku."
Prajurit itu ragu-ragu namun akhirnya memutuskan untuk mempercayai lelaki paruh baya itu dan memberikan gulungan surat berwarna putih.
"Kerajaan sedang membutuhkan bantuan perguruan ini, mohon untuk dipertimbangkan dengan baik." ucap prajurit itu lalu meminta izin untuk kembali.
Setelah kepergian prajurit itu, Ki Saruja kembali ke dalam perguruan dan mulai membaca isi surat tersebut. Sesekali alis Ki Saruja terlihat turun naik, tampak dengan jelas keterkejutan di wajahnya.
"Jika hanya melawan pasukan kerajaan dari utara, aku yakin Gusti Prabu mampu mengatasi perang itu. Tapi ini.. Kelompok Jubah Hitam akan ikut mengambil bagian. Keadaanya jadi semakin rumit.. " gumamnya.
Tidak lama muncul Wirapati, salah satu pimpinan di Perguruan Pedang Surga. Wirapati hendak menanyakan tentang kebenaran tentang kabar utusan dari Kerajaan Matraman Barat.
"Utusan itu sudah kembali, dia membawa ini.." Ki Saruja lalu menyerahkan surat yang ada di tangannya kepada Ki Wirapati.
__ADS_1
Ki Wirapati mengambil surat itu lalu membacanya, "Gila.. Perang besar sepertinya tidak bisa dielakkan. Bagaimana menurutmu?" tanya Ki Wirapati.
"Kita tidak bisa membantu secara terang-terangan, hal itu bisa memancing pergerakan aliran hitam. Aku yakin ketua kita juga pasti berpendapat demikian." jawab Ki Saruja.
"Lalu apa rencanamu? Apa kita akan diam saja menyaksikan perang besar itu?" tanya Ki Wirapati dengan raut wajah menahan emosi.
"Kita akan mendiskusikan itu bersama pimpinan lainnya."
***
Untuk yang kesekian kalinya, penduduk Kerajaan Matraman Utara disuguhkan dengan barisan pasukan yang berjajar rapi. Kali ini tujuan pasukan besar itu adalah mengarah ke Kerajaan Matraman Barat. Sorak sorai jargon kemenangan mereka teriakkan di sepanjang perjalanan.
Selain prajurit yang berjalan rapi, di pasukan itu juga ada beberapa kereta kuda yang membawa para petinggi Kerajaan Matraman Utara. Bendara-bendera lambang kerajaan juga ikut menyembul tinggi di antara ribuan prajurit.
Tampak juga di barisan pasukan itu seratus pendekar berjubah hitam yang menunggang kuda. Jubah hitam yang mereka kenakan itu bahkan menutupi seluruh kepala dan hanya menampakkan sedikit wajah mereka.
"Aku harap perang kali ini mereka akan kalah." bisik seorang lelaki tua kepada istrinya yang sedang menyaksikan iring-iringan pasukan kerajaan.
"Hust.. Hati-hati Kang kalau bicara, kalau ada yang mendengar bisa dihukum mati nanti." jawab istrinya dengan raut wajah ketakutan.
"Biarlah, aku tidak takut. Aku sudah muak dipimpin oleh raja yang tidak berprikemanusiaan itu. Aku mengimpikan desa kita dipimpin oleh Raja Angga, seluruh rakyat di Matraman Barat bisa hidup dengan layak. Beda sekali dengan kehidupan kita di sini.. " gerutu lelaki itu namun dengan suara yang dipelankan.
"Sudahlah.. Ayo kita kembali ke rumah. Bahaya jika kau masih ada di sini.. " sang istri lalu menarik paksa lengan suaminya itu.
Baru saja mereka hendak beranjak dari tempatnya, tiba-tiba telah muncul seseorang yang menghadang keduanya.
"Mau kemana kalian? Apa menurutmu aku tidak mendengar yang barusan kalian bicarakan?" bentak seseorang itu.
"Ampun.. ampuni kami Gusti. Kami tidak bermaksud lancang.. " rengek sang istri kepada orang itu. Sedangkan sang suami terlihat pasrah sebab dirinya telah melihat malaikat kematian tertawa kepadanya.
"Huh.. tidak ada ampun bagi kalian yang telah menghina Gusti Prabu." Orang itu lalu menarik pedang di pinggangnya dan dengan gerakan yang sangat cepat, darah mengalir membasahi tanah.
__ADS_1
"Mati!!!"