
Kondisi jalanan di sepanjang Hutan Godong Surgo tidaklah selalu baik, terkadang ada jalanan yang terjal dipenuhi dengan batu-batuan keci. Hal ini membuat laju kereta kuda yang ditumpangi rombongan pedagang bergerak lambat dan sedikit mengalami goncangan-goncangan kecil.
Goncangan kereta kuda itu sedikit berpengaruh kepada Jaka yang tengah terbaring lemah, seakan memaksa Jaka untuk bangun dari tidur panjangnya. Pertama kali yang dilihat Jaka setelah membuka mata adalah sesosok wanita muda yang sangat cantik tengah tersenyum ke arahnya. Jaka mencoba bangkit namun kondisi tubuhnya belum memungkinkan, hanya saja Jaka sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Samar-samar Jaka bisa mengetahui bahwa dirinya tengah berada di atas kereta kuda.
"Syukurlah kau sudah sadar.. " tanya wanita muda yang sedari tadi memperhatikan Jaka.
"Ah.. iya. Siapa kau? Dan.. dan kenapa aku bisa berada di sini?", Jaka memberondong pertanyaan kepada wanita itu, dirinya sadar wanita itu telah menolongnya namun tetap tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya.
“Namaku Purwita Sari, pengawalku menemukan mu tak sadarkan diri di Hutan Godong Surgo dan juga menemukan banyak mayat perampok yang tergeletak mati di sana. Aku tau pasti dirimu yang telah membunuh mereka, benarkan?"
Sebelum menjawab pertanyaan wanita yang mengaku bernama Purwita Sari itu, lagi-lagi Jaka mencoba untuk bangkit mendudukkan dirinya menyender ke dinding kereta. Kali ini Jaka berhasil karena telah dibantu oleh wanita tersebut. Purwita sari kemudian memberikan segelas air kepada Jaka, Jaka pun menerima dan segera meminumnya hingga tak bersisa.
"Tebakanmu sepenuhnya benar Nona bahwa akulah yang telah membunuh mereka. Aku dengar kelompok mereka sering mengganggu pedagang atau penduduk yang melewati hutan itu. Aku hanya ingin membantu dengan menumpas kelompok mereka hingga ke akar-akarnya, namun tanpa aku sadari tenaga ku habis dan tak sadarkan diri.”
"Tujuanmu sangat mulia tuan pendekar." lagi-lagi Purwita sari menjawab dengan senyum terkembang di bibirnya. Purwita Sari tentu kagum dengan keberanian dan kehebatan pemuda yang ada di hadapannya. Dirinya belum pernah menemukan pendekar hebat seperti pemuda itu, rela membantu penduduk dengan setulus hati.
Lalu, bagaimana dengan Bagaspati? Bukankah pemuda itu juga memiliki kemampuan yang cukup tinggi? Memang benar ilmu kanuragannya cukup tinggi, namun Bagaspati bukanlah seseorang yang mampu menarik perhatian gadis seperti Purwita Sari.
"Ehm.. bagaimana aku harus memanggilmu tuan?" tanya Purwita Sari.
__ADS_1
“Namaku Jaka.. Nona bisa memanggilku dengan nama itu, dan terimakasih atas pertolongan yang nona berikan." Jaka menjawab sembari menundukkan kepala dan dijawab dengan anggukan oleh Purwita Sari.
"Maaf nona, jika boleh aku tau berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"Tidak lama, hanya dua hari"
"Dua hari? Selama itu?" Jaka mengerenyitkan kening tanda masih tak percaya, dirinya tidak menyangka bahwa dampak dari menggunakan pedang pusaka sangat menguras tenaga dalamnya.
"Aku harus berlatih lebih giat, kejadian seperti ini tidak boleh terjadi lagi.. " gumamnya.
Jaka meraba pinggangnya hendak mencari seruling bambu miliknya namun tidak menemukan keberadaannya. Jaka mengingat bahwa seruling bambu itu mampu memulihkan tenaga dalam miliknya. Dirinya lantas menatap gadis di hadapannya lekat-lekat seperti sedang bertanya namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Seolah mengerti dengan maksud Jaka, gadis itu lantas menunjuk sebuah bungkusan kain panjang. "Yang kau cari ada di sana Jaka.", gadis itu lalu mengambilkan bungkusan itu.
Jaka memegang seruling itu dengan erat, dirinya mulai merasakan ada aliran energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Perlahan tubuhnya menjadi lebih segar dan bertenaga.
"Dengan seruling ini aku bisa pulih dengan cepat.. "
Jaka kembali menanyakan gadis itu, "Nona dan rombongan hendak menuju kemana?"
__ADS_1
"Kami sedang menuju ibukota Kerajaan Matraman Barat, kami hendak berdagang."
"Ibukota? Kerajaan Matraman Barat?" tanya Jaka dengan wajah keheranan, Jaka tak menyangka bahwa kereta kuda yang sedang ditumpanginya mengarah ke tujuan yang sama dengan dirinya.
"Iya.. ada apa? Mau ikut?"
"Apakah boleh?"
"Apakah aku pernah melarang?"
Jaka tidak menjawab, saat ini Jaka sedang mengalami masalah terbesar dalam hidupnya. Jaka tidak mengerti kenapa detak jantungnya seketika memburu tidak karuan. Tidak jarang juga Jaka tergagap-gagap dalam menjawab pertanyaan gadis yang ada di hadapannya. Padahal gadis di hadapannya hanya tersenyum namun itu sudah cukup untuk membuat Jaka menjadi salah tingkah.
Purwita Sari yang menyadari perubahan raut wajah Jaka yang memerah, hanya mengulum senyum di bibirnya.
"Mungkin ini pertama kalinya bertemu dengan gadis cantik." bisik Purwita Sari dalam hati seraya tertawa.
Keduanya lalu mendadak diam, hanya suara kusir, suara deru roda kereta, dan suara patahan ranting kering yang terdengar.
Iklan:
__ADS_1
Selamat malam manteman, maafkan keterlambatan updatenya yahh.
Author sedang ada kesibukan tambahan beberapa hari ini, selamat istirahat 😀