Pendekar Seruling Bambu

Pendekar Seruling Bambu
Chapter 23. Tiga Setan Gundul


__ADS_3

Ketika Jaka dan Ki Rana tengah berbincang di tepi hutan, dari arah Desa Batang Hari terdengar sayup-sayup suara keributan. Jaka dan Ki Rana memutuskan menuju ke sumber suara keributan itu.


***


Tidak lama setelah kepergian Jaka dan Ki Rana, kedai makan itu didatangi oleh tiga orang pengunjung. Ketiganya cukup menyita perhatian pengunjung yang lain, tidak sedikit dari mereka yang mencoba melirik ke arah mereka.


Ketiga orang ini memiliki kesamaan yaitu tidak memiliki rambut sehelai pun di kepalanya. Dari ketiga orang ini yang paling besar badannya bernama Gundul Merah. Penamaan ini berdasarkan warna pakaian yang dikenakan mereka. Gundul Merah bersenjatakan golok besar yang diselipkan di pinggang. Dari ke Tiga Setan Gundul, Gundul Merah adalah yang paling tidak sabaran dan paling cepat terbakar emosinya.


Selanjutnya yang memakai pakaian berwarna putih bernama Gundul Putih. Gundul Putih memiliki tubuh yang kurus dan juga pendek. Tidak lupa senjatanya yang berupa dua buah tongkat pendek menggantung di lehernya.


Yang terakhir adalah Gundul Hitam, perawakannya kurus namun tinggi semampai. Gundul Hitam membawa senjata berupa pedang kembar yang berada di pinggangnya. Di antara ketiganya Gundul Hitam adalah yang paling tinggi ilmu kanuragannya.


"Pelayan!" terdengar suara teriakan dari Gundul Merah.


"Iya tuan.. " terlihat pelayan laki-laki tua segera berlari menghampiri meja mereka.


"Cepat siapkan semua makanan yang enak-enak dan jangan lupa berikan kami arak yang terbaik di kedai ini."


Pelayan itu segera mengiyakan dan segera kembali ke dapur untuk menyiapkan semua makanan yang dipesan. Tidak butuh waktu lama pelayan itu telah kembali bersama dengan anak gadisnya yang membantu menghidangkan makanan di atas meja. Kini meja yang ditempati Tiga Setan Gundul telah dipenuhi dengan makanan dan tiga guci arak yang terbaik.


Gundul Merah dan Gundul Putih saling sikut ketika menyaksikan kecantikan dari anak pelayan itu. Keduanya menyeringai dan saling mengedipkan sebelah matanya ke arah sang gadis.


"Siapa namamu Cah Ayu?" tanya si Gundul Merah.


"Saya Sri, tuan." jawabnya singkat lalu segera kembali ke dapur.


Mata si Gundul Merah tak henti-hentinya melihat gadis itu, kemolekan tubuh Sri telah membuat sesuatu dalam tubuhnya bangkit bergejolak. Gundul Merah baru berhenti memperhatikan ketika wajahnya basah akibat terkena siraman arak dari Gundul Hitam.

__ADS_1


"Kau kemari mau makan atau mau memperhatikan tubuh gadis itu?" tanya Gundul Hitam kesal.


Gundul Merah hanya tertawa terkekeh lalu menyeka sisa-sisa air di wajahnya. Ketiganya kemudian makan dengan lahap hingga menghabiskan semua makanan yang disediakan. Tidak lupa mereka juga menghabiskan tiga guci arak hingga tak tersisa setetes pun. Setelah selesai mereka bergegas meninggalkan kedai makan itu, namun langkah ketiganya berhenti ketika pelayan kedai memanggil mereka.


"Tuan.. tuan.. tunggu.. " panggil pelayan itu seraya berlari mendekat.


"Ada apa?" tanya Gundul Merah menghardik.


"Anu.. anu tuan, tuan belum membayar... " jawab pelayan itu ketakutan.


"Hah.. membayar katamu? Kau tidak tau siapa kami? Kami ini adalah Tiga Setan Gundul. Kau mau kedai kecilmu ini kami obrak-abrik hingga hancur hah!"


bentak Gundul Merah seraya mengangkat pelayan itu dengan satu tangannya.


"Am.. ampun tuan, saya tidak berani." jawabnya.


"Kalau begitu pergilah!"


Baru saja kaki mereka hendak melangkah tiba-tiba dari arah samping meluncur deras tiga batu kerikil, kecepatannya bahkan tidak bisa dihindari oleh mereka hingga batu kerikil itu menghantam kepala ke-Tiga Setan Gundul. Mereka kompak memegang kepala mereka seraya mengelus bagian kepala yang sakit.


"Setan.. siapa kau yang berani membokong kami?" ucap Gundul Merah mencoba menahan amarahnya.


"Keluarlah kau setan.." Gundul Putih ikut menimpali.


Lalu ke-Tiga Setan Gundul celingukan kesana kemari mencari pelaku yang telah membokong mereka, hingga pandangan mereka berhenti ke satu arah. Kemudian pelaku itu datang mendekat hingga membuat jarak keduanya hanya sekitar tiga tombak.


Kini di hadapan Tiga Setan Gundul telah nampak dua orang laki-laki. Yang pertama masih sangat muda kira-kira berusia sekitar tujuh belas tahun, rambutnya panjang sebahu dan memakai jubah lengan panjang berwarna putih kebiruan. Sedangkan yang lainnya lelaki paruh baya yang memakai caping bambu di kepalanya. Tiga Setan Gundul merasa bahwa mereka belum pernah bertemu dengan keduanya.

__ADS_1


"Hei setan.. siapa kalian?" Gundul Merah mencoba menggertak kedua laki-laki itu.


"Hahaha.. mereka sangat lucu paman, mereka sendiri adalah setan malah sekarang meneriaki orang lain setan." ucap laki-laki yang masih muda, yang tak lain adalah Jaka.


"Jaka, mereka adalah bagian paman. Kau tunggu dan diam saja, itung-itung kau sedang melihat pertunjukkan." jawab orang paruh baya itu yang tak lain adalah Ki Rana, pendekar berjuluk Sang Pencabut Nyawa. Jaka kemudian mengiyakan dan segera melompat menjauh.


"Kau melupakan ku wahai Tiga Anak Tikus?" ucap Ki Rana menyeringai sembari melepas caping bambunya.


"Oo.. kau rupanya. Tidakkah kau merasa bosan selalu mengejar kami?" ucap Gundul Putih mencoba memprovokasi.


"Hari ini adalah hari terakhir aku mengejar kalian. Aku pastikan hari ini kalian hanya akan tinggal nama." jawab Ki Rana menatap tajam lawan-lawannya.


"Hahaha.. bermimpi lah kau dalam tidurmu." teriak Gundul Merah lalu maju menyerang.


Gundul Merah lalu menarik golok besarnya dan menyerang ke arah kepala lawan.


Ki Rana yang diserang memundurkan sedikit tubuhnya sehingga ujung golok lewat tipis di depan dadanya. Angin sambaran golok terasa dingin di dada Ki Rana.


Setelah serangan pertamanya dapat dihindari dengan mudah, Gundul Merah mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Dimulai dari menyerang menusuk bagian dada lalu naik ke atas mengarah ke kepala lawan. Ki Rana bukannya tanpa perlawanan, sesekali dirinya berhasil memukul Gundul Merah hingga mundur beberapa langkah.


Gundul Merah mengumpat sejadi-jadinya ketika serangannya yang sangat diandalkan tidak satupun yang mampu mengenai lawannya. Beberapa kali dirinya melancarkan jurus-jurus tipuan dari goloknya namun mampu digagalkan sang lawan.


"Terima jurus Golok Setan milikku.. "


"Lihat kaki...."


Gundul Merah kemudian mengarahkan goloknya menyerang kaki lawan. Ki Rana secara refleks melompat ke atas lalu mengarahkan tinjunya ke arah wajah Gundul Merah. Mau tidak mau Gundul Merah menarik pulang tangannya dan bergerak mundur. Akhirnya serangan keduanya hanya menemui tempat kosong.

__ADS_1


Jaka yang sejak tadi menonton cukup terhibur dengan pertarungan Gundul Merah dan Ki Rana. Dalam hati Jaka merasa kagum dengan kehebatan mereka berdua. Namun ada satu hal yang Jaka perhatikan sejak tadi yaitu Ki Rana belum melakukan pertarungan secara serius. Harusnya jika serius sudah sejak tadi Ki Rana dapat melumpuhkan lawannya.


"Paman ini masih ingin bermain-main rupanya."


__ADS_2