
Kabar peperangan besar antara Kerajaan Matraman Barat dan Matraman Utara menyebar ke seluruh penjuru.
Bahkan kabar penyerangan itu dengan sangat cepat sampai ke kerajaan yang ada di wilayah selatan. Sedikit banyak kabar itu membawa rasa khawatir bagi seluruh penduduk maupun petinggi kerajaan.
Seluruh penduduk menyadari bahwa bisa saja suatu hari nanti wilayah mereka yang akan diserang oleh pasukan Kerajaan Matraman Utara. Mereka mengetahui bahwa raja yang memimpin di wilayah utara sangat berhasrat untuk menguasai tanah Matraman seorang diri.
Oleh sebab itu, para penduduk mendesak petinggi kerajaan untuk mengirimkan pasukan guna membantu Kerajaan Matraman Barat. Sekaligus bisa menjadi jalan untuk membentuk aliansi kerajaan.
Bagaikan gayung bersambut, keinginan penduduk itu diamini oleh para petinggi kerajaan termasuk juga Yang Mulia Raja Sukanda. Hari ini pasukan dari Kerajaan Matraman Selatan tengah bersiap menuju ke arah barat.
**
Di saat perang tengah berkecamuk dengan hebat, pasukan Kerajaan Matraman Utara diserang oleh pasukan besar yang baru saja tiba.
Serangan yang mendadak itu tidak mereka duga sedikitpun. Awalnya prajurit Matraman Utara menyangka bahwa pasukan besar yang datang adalah sekutu mereka. Namun, yang terjadi justru hal sebaliknya. Hal ini menyebabkan pasukan Matraman Utara kocar kacir melarikan diri.
“Seraaaaaaang! Bunuh pasukan penjajah! Bunuh prajurit Matraman Utara!”
Teriakan demi teriakan terus menghiasi penyerangan itu, membuat prajurit Matraman Barat yang sudah terdesak kembali berkobar semangatnya.
“Seraaaaaanggggg!!!”
Mahapatih Kemuning Banyu yang berada tidak jauh dari lokasi penyerangan langsung menghamburkan diri ikut ke dalam peperangan. Dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali.
__ADS_1
Dengan sangat cepat pedang Mahapatih Kemuning Banyu membunuh satu demi satu lawan yang ada di hadapannya. Perbuatannya ini sangat menarik perhatian hingga membuat dua orang datang menghampiri dirinya.
“Bagaimana kabarmu Gusti Patih?” tanya salah seorang itu.
Mahapatih Kemuning Banyu sedikit terkejut atas kedatangan kedua orang itu, dengan segera dirinya menundukkan kepala memberi hormat.
“Kabarku baik Yang Mulia Raja Sukanda. Jadi mereka semua adalah pasukan dari Matraman Selatan?”
“Dugaan mu tepat Gusti Patih.”
Raja Sukanda kemudian memperhatikan pasukan Matraman Barat yang dipaksa bertarung ke hingga mendekati Kotaraja. “Sepertinya pasukan ku datang sedikit terlambat.” gumamnya.
“Dimana sekarang Raka Angga?” tanya Raja Sukanda kepada Mahapatih Kemuning Banyu.
Raja Sukanda kemudian meminta patihnya yang bernama Durada untuk mengerahkan pasukan. Tugas mereka kali ini adalah mempertahankan Kotaraja dari serangan musuh, sedangkan Raja Sukanda masuk ke dalam Kotaraja guna menemui Raja Angga.
Akhirnya Mahapatih Kemuning Banyu dan Mahapatih Durada bahu membahu membasmi pasukan musuh. Kerjasama mereka akan dimulai dari mengalahkan Pendekar Topeng Merah.
Keduanya lalu menyerang secara bersamaan, mereka sadar menyerang seorang diri hanya akan menyulitkan diri sendiri sebab musuhnya kali ini merupakan lawan yang sangat tangguh.
Baru sebentar saja, mereka bertiga sudah bertarung puluhan jurus. Luka-luka sabetan pedang mulai menghiasi tubuh mereka.
Sehebat apapun Pendekar Topeng Merah jika diserang bersamaan tentu akan terdesak, hingga suatu ketika pedang Mahapatih Kemuning Banyu berhasil melukai paha kirinya.
__ADS_1
“Argh..” Pendekar Topeng Merah meringis kesakitan lalu mengerahkan tenaga dalam untuk mengurangi pendarahan.
Anggota Kelompok Jubah Hitam yang melihat pemimpinnya terdesak, langsung maju ke depan melindungi Pendekar Topeng Merah. Anggota yang tersisa mungkin masih sekitar puluhan orang. Mereka kemudian menyerang secara bersamaan.
“Pedang Kembar Menggusur Gunung.”
“Kilatan Malaikat Maut.”
Mahapatih Kemuning Banyu dan Mahapatih Durada berteriak bersamaan mengeluarkan jurus andalannya. Kilatan cahaya kedua jurus itu menyasar ke pasukan lawan. Akibat dari jurus tingkat tinggi yang disertai tenaga dalam itu mampu merobohkan pendekar ahli yang berjumlah belasan.
Satu demi satu anggota Kelompok Jubah Hitam yang tersisa mampu dikalahkan oleh kedua mahapatih, sedangkan pemimpin mereka yakni Pendekar Topeng Merah berhasil melarikan diri.
Namun hal ini justru harus dibayar mahal sebab Mahapatih Kemuning Banyu terluka cukup parah.
Tidak terasa pertempuran ini telah berlangsung selama dua hari dua malam tanpa henti. Hasilnya cukup baik, pasukan sekutu berhasil memukul mundur pasukan Kerajaan Matraman Utara cukup jauh.
Untuk sementara waktu, pasukan kedua belah pihak saling menjaga jarak namun tetap saling mengawasi. Paling tidak jeda waktu ini bisa mereka gunakan untuk sejenak menarik nafas dan prajurit-prajurit yang terluka untuk segera mendapatkan pertolongan.
Di sisi yang terpisah, Mahapatih Argadana marah besar kepada pasukannya sebab berhasil dipaksa menjauhi wilayah Kotaraja. Menurut perhitungannya, harusnya dalam dua hari terakhir Kotaraja Matraman Barat sudah mereka kuasai.
Namun, tanpa diduga sedikitpun Matraman Barat berhasil mendapatkan bantuan dari Matraman Selatan dan hasil yang mereka peroleh justru jauh dari harapan.
“Bagus, ini bisa menjadi alasan bagi kita untuk menyerang wilayah selatan sekaligus.” ucap Mahapatih Argadana sembari meremas pegangan kursi kayu di tangannya hingga hancur.
__ADS_1