
malam harinya, Elvita telah tersadar dari pengaruh obat bius. dan kini wanita cantik itu telah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP.
" gue kenapa Res,?" tanya Elvita Seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. rasanya kepalanya seperti berputar-putar dan sangat penting sekali.
Resti dan Cantika yang mendengarnya, sejenak terdiam dengan mata Saling pandang." lu nggak apa-apa kok, Lu cuma butuh istirahat aja" ucap Cantika pada akhirnya setelah beberapa saat terdiam.
" Oh ya El, gue tadinya mau ngabarin keluarga lo tapi reaksinya malah kayak gitu," ucapnya mendengkur kesel, saat mengingat perlakuan ibu tiri sahabatnya itu.
Emang ibu tiri gue kenapa,?" tanya wanita itu Seraya menautkan alis karena merasa heran.
dirinya bahkan lupa jika Perangai ibu tirinya itu, sangat tidak baik. Elvita bahkan lupa, jika dulu teman sebangkunya pernah diusir oleh Ratna.
hanya karena mereka tertawa secara lepas di dalam rumah Elvita. dan semenjak hal itu, teman-teman Elvita tak ada yang berani bertamu ke rumahnya.
dan sekarang, Perangai buruk ibu tiri Elvita, setelah diketahui oleh Resti dan Cantika. entah bagaimana Elvita menjelaskannya nanti.
"El Kenapa bengong,?" tanya Cantika saat menyadari jika sahabatnya itu hanya terdiam.
seketika itu pula, Elvita segera tersadar dari lamunannya." kalian diapain aja sama ibu tiri gue?" bukannya menjawab, Elvita malah balik bertanya.
Resti dan Cantika yang mendengarnya, sejenak Saling pandang. Seraya menatap wanita yang Tengah berbaring di ranjang rumah sakit itu, dengan tetapan yang menyelidik.
" El lo udah tahu,?" tanya Resti dengan tetapan yang terheran-heran. karena memang selama ini Elvita tidak pernah menceritakan keburukan ibu tirinya pada siapapun.
dirinya hanya pernah, menceritakan pada teman-temannya jika sifat adik tirinya yang memang kurang baik.
karena Elvita masih menghormati ibu tirinya itu. dan masih menganggapnya seperti ibunya. Walaupun Ratna tidak pernah menganggap Elvita ada.
Mendengar hal itu, Elvita hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
" Terus kenapa lu nggak ngasih tahu semua ini pada ayah lo?" tanya Resti dengan ekspresi wajah heran.
Elvita yang mendengarnya, menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis." percuma gue udah pernah ngadu, tapi hasilnya malah zonk," ucapnya Seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1
Hal itu membuat Resti dan Cantika, seketika memeluk sahabatnya itu dengan erat. " lo yang sabar ya," ucap Resti Seraya mengusap-usap punggung Elvita.
Elvita yang mendengarnya, hanya mengganggu kan kepala saja." Eh iya gue kok sampai lupa, gue kok bisa pingsan kenapa?" tanya wanita itu Seraya menatap wajah kedua sahabatnya secara bergantian.
Sejenak, Resti dan Cantika saling melempar pandangan. seakan mereka ragu untuk mengatakan hal ini pada Elvita.
" kalian kenapa, udah ngomong aja gue nggak papa kok" tanya Elvita dengan perasaan yang tidak menentu.
"tapi lo yakin nggak akan kenapa-napa?" tanya Resti untuk memastikan semua akan baik-baik saja.
Elvita yang mendengarnya, semakin merasa kebingungan." emang ini ada apa sih? gue punya penyakit kronis? atau apa? udah mendingan kalian jelasin aja. daripada gue mati penasaran." ucapnya menggebu.
karena gadis itu sejujurnya tak pernah suka dengan hal yang bernama menunggu. dan pastinya semua orang memang tidak menyukai hal itu.
" lu hamil," ucap Resti pelan. Namun karena jaraknya yang terlalu dekat, Evita mampu menangkap kalimat itu dengan baik.
Hening.....
Sejenak suasana di kamar itu, mendadak menjadi sangat hening dan menyeramkan. membuat Resti dan Cantika, menatap cemas ke arah Elvita.
seketika itu pula, Elvita tersadar dari lamunannya. dia menggelengkan kepala." gue nggak papa, Gue ingin merasa syok aja." ucapnya tersenyum tipis.
Resti dan Cantika yang mendengarnya, menghembuskan nafas panjang." syukurlah kalau begitu gue kira lu bakalan nggak terima." ucap Resti tersenyum tipis.
Elvita yang mendengarnya, tersenyum Seraya mengelus pelan perut yang masih rata." dia adalah anugerah yang diberikan Tuhan pada gue, jadi tidak ada alasan untuk Gue merasa terbebani." ucapnya datar.
kedua sahabatnya yang mendengar ucapan dari Elvita, menganggukkan kepala. mereka berdua juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Elvita.
Bahwa masalah yang ditimbulkan dari sepasang suami istri, tidak sepatutnya dilampiaskan pada seorang anak.
karena mereka juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan atau bahkan hadir dalam orang tua yang berselisih paham.
" lu akan memberitahu Gio tentang hal ini,?" tiba-tiba saja Resti bertanya seperti itu.
__ADS_1
sontak saja hal itu membuat Cantika seketika menoleh dengan tatapan tajamnya. membuat Resti yang menyadari hal itu, segera menutup mulutnya rapat-rapat.
" nggak usah Kaget gitu kali Res, gue tau kau apa yang kalian khawatirin." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.
Resti yang mendengarnya, menghela nafas panjang. "huufft, Syukurlah kalau lu nggak tersinggung," ucapnya merasa lega.
karena Resti tahu, orang yang sedang hamil itu mudah sekali untuk tersinggung. Apalagi dengan wanita yang banyak masalah dalam masa kehamilannya.
" Entahlah gue masih bimbang, untuk memberitahukan ini atau tidak" ucap Elvita sedikit merasa bingung.
Cantika yang melihatnya, segera mendekat ke arah sang sahabat." Lu harus kuat dan lo harus yakin bahwa semua akan baik-baik saja," ucapnya Seraya mengelus pundak Elvita.
Elvita yang mendengarnya hanya mengangguk Seraya kembali mengelus perutnya yang masih rata.
" jadi apa lu mau memberitahukan ini pada Gio,?" tanya Resti sekali lagi mengulangi pertanyaannya.
Elvita yang mendengarnya, mengedikkan bahu tanda tidak mengetahui Langkah apa yang akan diambil.
" Entahlah gue masih bingung, gue masih merasa apa yang dilakukan Mas Gio selama ini, itu masih janggal." ucapnya Seraya menarik nafas.
seketika itu pula, Cantika dan Resti menundukkan kepala. karena mereka merasa gagal karena tidak berhasil menyelidiki suami sahabatnya itu.
" maafin kita El, kita gagal" ucapnya dengan wajah lesu dan muramnya.
" Iya El tapi lu nggak usah khawatir, kita janji akan menyelidiki suami lu lagi. karena gue juga nggak terima jika sahabat gue disakiti seperti ini." ucap Resti yang merasa geram.
Hal itu membuat Elvita, seketika tersenyum tipis." makasih, Makasih atas semua yang kalian lakukan pada gue. kalian memang sahabat terbaik," ucapnya Seraya menyeka air mata.
" Ais ngapain sih pakai nangis-nangis segala," ucap Resti mencebikkan bibirnya.
sontak saja, hal itu membuat Elvita dan Cantika yang mendengarnya tertawa lepas.
" sepertinya udah lama ya, kita nggak ketawa seperti ini," ucap Elvita yang tiba-tiba Sendu.
__ADS_1
" udah dibilangin nggak usah nangis lagi," tegur Cantika." air mataku itu terlalu berharga untuk menangisi hal yang gak penting. apalagi sekarang, dalam perut ini ada calon keponakan gue," ucapnya Seraya ikut mengelus perut Elvita.
sampai jumpa jangan lupa tinggalkan jejak ya guys see you tomorrow