
Kini Elvita dan kedua sahabatnya telah sampai di Bandara Internasional. Karena setelah menimbang-nimbang Karena setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya Elvita memutuskan untuk pindah ke luar negeri saja. tepatnya di negara Australia.
Yap, Elvita memutuskan untuk berangkat dan menetap di negara yang mendapat sebutan sebagai negara kanguru itu.
dirinya bertekad untuk melupakan semua Masa Lalu yang menyakitkan baginya. baik dengan Gio, ataupun dengan Arvino.
Karena dirinya bertekad ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat-ingat masa lalunya yang cukup kelam itu.
" El, lu yakin mau pergi,?" tanya Cantika sekali lagi memastikan, Apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu tak hanya karena emosi Semata.
Melainkan karena berasal dari dalam hatinya sendiri. Percuma jika seseorang memutuskan dalam keadaan amarah yang menguasai jiwa. itu tidak akan pernah berakhir baik.
" huh, Iya yakin kok. Emang kenapa sih,?" tanya Elvita penasaran. karena kedua sahabatnya itu dari tadi berusaha untuk melemahkan tekad Elvita.
" nggak kenapa sih, gue cuma nggak mau lo menyesal aja nantinya." ucap Cantika lirik.
Mendengar hal itu, Evita menghembuskan nafasnya kasar." huh, Cantika sayang gue ke sana itu mau kerja tahu, mau membuka usaha lebih spektakuler dari yang sekarang." ucapnya mendengkus kesal.
Hal itu membuat Cantika dan Resti yang mendengarnya, terkekeh pelan." Hehehe Iya deh iya, lu di sana hati-hati ya," ucap Resti Seraya menepuk bahu Elvita.
" tunggu!!" ucap seseorang dari belakang. hal apa saja membuat ketiga wanita cantik itu, seketika menoleh ke sumber suara.
mata Elvita seketika membulat sempurna. saat mendapati orang yang selama ini ia hindari. namun apa daya, orang itu ternyata saat ini malah berada di hadapannya.
laki-laki itu, Melangkah dengan begitu berwibawa. membuat sebagian orang yang ada di bandara, merasa kagum dengan sosok yang mereka lihat.
" untuk apa kau ke sini,?" tanya Elvita dengan nada ketusnya. namun, percayalah di balik sikapnya yang Ketus, ada hati yang mencleos.
Tiba-tiba, perasaan yang seharusnya sudah tidak ada, ini malah muncul kembali dengan atensi yang lebih kuat dari sebelumnya.
" tentu saja mencegahmu untuk pergi," ucapnya Seraya tersenyum tipis.
hal itu tentu saja membuat Elvita semakin melebarkan matanya. dia tidak menyangka jika orang yang ada di hadapannya ini, berani berbuat sedemikian rupa.
__ADS_1
" Sudahlah Ar, kau ikhlaskan saja Elvita biarkan dia hidup tenang." ucap Cantika menegur.
Yap. Dialah Arvino Joyo Kusumo. laki-laki itu nekat datang ke Bandara hanya untuk menggagalkan niat keberangkatan wanita yang sangat ia cintai itu.
Namun Arvino yang mendengarnya, menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis." tidak, jangan pernah menyuruhku untuk menghentikan langkahku mengejar wanita yang aku cintai. itu tidak akan pernah terjadi" ucapnya datar.
Elvita yang mendengarnya, memicingkan mata. menatap raut wajah serta mata laki-laki itu. dan sialnya, Elvita tak menemukan satu kebohongan pun yang ada dalam diri Arvino.
Sehingga, wanita cantik itu kembali menghela nafas panjang." tapi aku tidak mau, Lebih baik kau cari saja wanita yang pantas untukmu." ucapnya Seraya menggeret koper.
Arvino yang mendengarnya, menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Elvita seketika berhenti melangkah.
" sampai kapanpun, Aku tidak akan pernah berhenti untuk memperjuangkan Cinta Kita. karena aku pun tahu, bahwa kau masih mencintaiku bukan,?" tanya laki-laki itu.
" tidak itu tidak benar. Aku tidak pernah mencintaimu lagi," ucap Elvita dengan tatapan mengarah ke lain tempat.
Arvino yang mendengarnya, terkekeh geli. karena ternyata, wanita yang sangat ia cintai itu masih tetap sama. dirinya masih tidak bisa berbohong. karena itu pasti akan segera ketahuan.
Entahlah, Namun nyatanya di dunia ini ada spesies orang yang seperti Elvita. pintar tapi juga bodoh. dan mereka rata-rata, gampang untuk dimanipulatif oleh orang-orang sekitarnya.
" hmm, Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. awalnya, Niatku kemari hanya untuk mencegahmu agar tidak pergi dari sini.Namun, jika kau berubah pikiran Tolong segera hubungi aku." ucapnya penuh akan makna.
Setelah mengatakan hal itu, arvino segera berlalu pergi. Dengan senyuman penuh misteri. Sementara, Elvita dan teman-temannya yang Mendengar hal itu, tercengang bukan main.
" astaga, si Arvino gigih banget euy untuk ngedapetin Elvita nya. salut gue sama laki-laki yang kayak gitu." ucap Resti yang baru saja tersadar dari keterkejutannya.
" iya, Seandainya di dunia ini masih ada laki-laki seperti Arvino, gue mau" ucap Cantika yang mulai ngelantur kemana-mana.
Plak
Reflek, Elvita memukul lengan sahabatnya itu. membuat si empunya lengan, meringis karena sedikit sakit.
" huh, galak amat sih Bu, gue kan cuma bercanda. Ya kali, gue mau ngerebut cem ceman sahabat gue sendiri." ucap Cantika Seraya mengusap lengannya yang terasa sakit.
__ADS_1
" ngawur aja kalau ngomong," ucapnya Seraya melenggang pergi. untuk memasuki ruang tunggu di dalam bandara.
Sementara Resti dan Cantika yang melihat tingkah sahabatnya itu, untuk beberapa saat terheran-heran. namun setelahnya, mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
" Hahaha lucu banget sih Elvita. katanya nggak suka, tapi begitu diomongin eh malah ngamuk. dasar bumil aneh," gumam Resti Seraya menggelengkan kepalanya.
Kemudian, Cantika dan Resti segera kembali ke kantor. karena memang, hari ini ada meeting dengan beberapa klien.
*****
Sementara itu, di lain tempat. tepatnya di perusahaan milik Giovanni. terlihat seorang laki-laki Tengah menatap berkas yang diberikan kepada asistennya.
" Apa kau yakin dengan berita ini,?" tanya Giovanni dengan tatapan lurus ke depan.
" Saya yakin Bos. karena saya sendiri pun baru saja melihat Nona Elvita keluar dari perusahaannya Seraya menggeret koper.: ucapnya sopan.
Hal itu membuat Giovanni yang mendengarnya, terdiam untuk beberapa saat. Entah mengapa, laki-laki itu merasa gelisah.
Seakan tidak rela jika wanita itu meninggalkan negara ini. apalagi dengan membawa calon bayi dalam kandungannya.
Namun egonya masih terlalu tinggi. dirinya masih sangat mempercayai istri tercintanya. Bahwa yang dikandung Elvita itu, mungkin bukanlah darah dagingnya.
" Ya sudah kau boleh pergi," ucap Giovanni datar. dan hal itu Segera dilaksanakan oleh sang bawahan.
" apa yang gue pikirin sih, lagi pula dari awal kan gue nggak pernah suka sama dia, dia itu hanya pelampiasan saja" ucapnya Seraya menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.
Entahlah, Giovanni merasa ada yang aneh dalam dirinya. Kadang dirinya merasa sangat merindukan wanita yang bernama Elvita itu.
Namun dengan segera dirinya menepis semua perasaan itu. apalagi, saat ini dirinya telah bersanding dengan wanita yang ia cintai.
***Bersambung
jangan lupa tinggalkan jejak ya guys***
__ADS_1