
" Kau tidak perlu tahu istrimu ada di mana, yang jelas saat ini, kau harus Sudah menandatangani surat perceraian itu. aku kasih waktu selama satu kali 24 jam. jika kau tidak ada, maka bersiaplah sesuatu akan terjadi pada istrimu ini." ucap Elvita dari seberang sana.
hal itu tentu saja membuat Giovanni yang mendengarnya, seketika membulatkan mata karena merasa begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Elvita. karena tahu dirinya, Elvita adalah sosok wanita yang penurut.
akan tetapi Mengapa sekarang menjadi wanita yang begitu bengis dan juga kejam. Namun demikian, Giovanni mencoba untuk menggoda dan meremehkan wanita itu. karena dirinya yakin, jika Elvita itu hanya menggertak saja.
wanita itu pun tidak akan pernah berani untuk menyakiti manusia lain. jangankan manusia, menyakiti hewan pun, Elvita tidak akan pernah berani. dan Giovanni akan menjamin itu.
"Kau pasti hanya bercanda kan, dasar wanita Naif." ucap Giovanni mencibir Elvita.
hal itu tentu saja membuat Elvita yang memang Tengah tertawan kabut amarah, menjadi sedikit kehilangan akal sehatnya. dengan segera, wanita beranak satu itu, mengambil pisau kecil yang kebetulan tergeletak di atas meja.
Clash
satu goresan, menggores tubuh Liona hingga membuat wanita itu memakai kesakitan." aw! sakit!" suaranya memetik hingga memenuhi ruangan itu.
hal itu tentu saja membuat Giovanni yang mendengar teriakan istri tercintanya itu, seketika menjadi kelabakan." baik aku akan segera tanda tangan." ucapnya dengan gemetar.
Sungguh, Giovanni tak pernah menyangka jika Elvita akan benar-benar melakukan penyiksaan itu.
Tut
dengan segera, Elvita memutuskan sambungan telepon itu. kemudian dengan segera, melemparkan benda pipih dan pintar itu di hadapan Liona. hingga membuat wanita itu seketika memaki kesakitan.
" dasar kau wanita gila!" maki Liona dengan nada berapi-api. serta menatap tajam ke arah sang kakak tiri.
Mendengar hal itu, Elvita menatap sinis ke arah adik tirinya itu." nggak usah banyak bacot! Lebih baik kau pergi sekarang, atau gue akan membuat hidup lu lebih menderita dari ini." ucap Elvita penuh dengan nada penekanan.
Kemudian, melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. sebelum itu, wanita yang tengah hamil itu menyeret tubuh Liona hingga ke ambang pintu. Dan,..
__ADS_1
Brak
Elvita menutup pintu rumahnya dengan sangat kencang. hal itu tentu saja membuat Liona yang berada di sana, seketika terperanjat kaget.
" dasar wanita sinting!" maki Liona dengan nada tinggi dan berapi-api. kemudian dengan langkah tertatih-tatih, Liona melangkah pergi dari rumah kakak tirinya itu.
setelahnya, memberhentikan taksi yang kebetulan lewat di depan rumah kakak tirinya itu. setelah Liona masuk ke dalam taksi, Sang sopir segera melajukannya.
" Awas saja kau, aku akan membahas tentang perbuatanmu ini." gumam Liona Seraya mengobati luka goresan yang ditimbulkan oleh Kakak tirinya itu.
Untungnya, setiap Liona pergi ke mana-mana, dirinya selalu membawa kotak P3K. dan dengan segera, wanita itu membersihkan lukanya.
Dirinya, semakin merasa dendam dengan wanita yang bernama Elvita itu. entah Sejak kapan, rasa itu tumbuh subur di dalam hatinya.
Yang pasti dirinya akan membalaskan rasa sakit hatinya ini berkali-kali lipat.
****
Namun, dirinya tak pernah menampik rasa dendam yang ada di dalam hatinya. hingga Elvita tak menyadari, jika baby azril sedari tadi memandangi ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
mungkin, bocah kecil itu merasa kebingungan dengan sikap dan tingkah yang ditunjukkan oleh sang Bunda. hingga Hal itu, membuat Elvita tersadar.
dengan segera, Elvita menghampiri dan langsung memeluk tubuh mungil itu. tak terasa, air mata wanita itu kembali tumpah di pipinya. sudah sejak lama, Elvita mencoba untuk menjadi wanita yang kuat sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh kedua sahabatnya tempo dulu.
Akan tetapi, di dalam hatinya, Elvita masihlah sosok wanita yang sangat lemah. bahkan, dirinya sering menangis di tengah malam. Entahlah, mungkin karena pengaruh kehamilannya yang kedua ini. dirinya menjadi begitu cengeng dan gampang menangis.
Tangan Mungil baby Azriel, seketika terangkat dan kemudian, mengusap perlahan pipi ibunya. akan mengetahui hati yang dimiliki oleh ibunya begitu rapuh.
Elvita yang merasakan relusan di pipinya itu, seketika tersenyum. kemudian mengecup kedua pepes anaknya dengan gemas." terima kasih ya sayang, Kau adalah salah satu Booster Bunda dalam menjalani hidup ini." ucapnya kemudian kembali mengecup kedua pipi bayi laki-laki itu.
__ADS_1
***
tak lama berselang, pintu rumah Elvita kembali diketuk oleh seseorang. hal itu tentu saja membuat Elvita segera beranjak dari tempat tidur. karena kebetulan, hari ini asisten rumah tangganya tidak ada di rumah.
Hal itu membuat Elvita sedikit merasa kewalahan karena harus mengurus rumah dan juga Sang putra seorang diri. Setelah memastikan bayi kecilnya itu kembali terlelap, Elvita dengan segera melangkahkan kaki menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu.
di kehamilan keduanya itu, Elvita merasa sedikit sangat kelelahan. Dengan segera, wanita itu membuka pintu rumahnya.
Elvita menghembuskan nafasnya panjang saat melihat orang yang ada di hadapanya yang tak lain adalah Arvino.
" kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya laki-laki itu Seraya membolak-balikkan tubuh Elvita. hal itu seketika membuat Elvita semakin merasa heran.
" Emang aku kenapa?" tanya Elvita Seraya masih menatap kebingungan arah dirinya sendiri.
Arvino yang mendengarnya, seketika bernafas lega." syukurlah kamu tidak apa-apa, tadi soalnya Liona berkata akan membalas dendam padamu." ucapnya Seraya mengulas senyum tipis.
Mendengar hal itu, Elvita hanya ber-oh ria kemudian, mempersilahkan Arvino untuk masuk ke dalam rumah.
" Ya udah kalau gitu, lebih baik kamu masuk aja. ada yang mau aku omongin soalnya." ucap Elvita Seraya menarik tangan Arvino
hal itu tentu saja membuat Alvino, seketika terkejut. karena baru kali ini, dirinya ditarik oleh Elvita. Namun, dirinya juga sempat heran dengan perubahan tubuh mantan kekasihnya itu.
"kamu kok gendutan,?" tanya Arvino yang kini tengah duduk di sampingnya Seraya menatap Elvita dari atas sampai bawah.
" aku hamil lagi." ucapnya dengan Lirih kemudian menundukkan kepala.
sontak saja, hal itu membuat Arvino yang mendengarnya, seketika terbelalak kaget." Hah Bagaimana bisa?" tanya Arvino tak percaya.
Seketika itu pula, ada perasaan sedih yang menggelayuti hatinya
__ADS_1
Karena lagi dan lagi, dirinya seperti berada di situasi yang sama dan seperti kembali lagi dengan kisah awalnya.
Sungguh, benar benar situasi yang sangat sulit. Elvita dengan segera, menceritakan semuanya pada mantan kekasihnya itu.