
Elvita dan kedua sahabatnya itu, kini Tengah duduk di ruang tamu teman ekspresi wajah murungnya. dan sesekali Cantika juga ikut menatap sahabatnya itu juga dengan rasa kasihan.
" rasanya Gue ingin mencabit-cabik muka dua orang itu Nenek Lampir." ucapnya dengan penuh emosi. karena dari awal memang, Cantika dan Resti sudah merasa curiga dengan tingkah ibu dan adik tiri sahabatnya itu.
Sementara Elvita, wanita itu hanya menghela nafas panjang. kemudian, beralih menyentuh perut yang sedikit buncit itu.
" Maafkan mama ya sayang, Semoga kita juga bisa kuat menghadapi pahitnya kehidupan ini." ucapnya serayan menitikan air mata.
melihat hal itu, Resti dan Cantika seketika memeluk tubuh Elvita. mereka berdua, berusaha menenangkan sahabatnya.
" lo yang sabar, kita berdua ada akan selalu berada di samping lu." ucap Resti Seraya mengusap punggung Elvita.
Elvita yang mendengarnya, kemudian menoleh menatap kedua sahabatnya secara bergantian." Aku boleh minta tolong nggak?" tanyanya dengan ekspresi wajah murungnya.
" apapun, apapun yang lu mau kita akan berusaha mengabulkannya." ucap Resti dengan penuh kesungguhan.
Karena memang, persahabatan mereka sudah sangat erat. bahkan, melebihi sebuah saudara. Hal itulah yang membuat Elvita, tak sungkan untuk meminta tolong pada kedua sahabatnya itu.
" gue minta lo Cantika, ambil uang dan kartu ATM yang ada di brankas ruangan gue." ucapnya Seraya menyerahkan kuncinya pada sahabatnya itu.
Mendengar hal itu, Cantika segera melaksanakan perintah dari sahabat sekaligus Atasannya itu. dengan segera, Gadis itu melangkah meninggalkan rumah Resti.
Setelah kepergian Cantika, Resti kembali menetap Elvita." apa aja yang dilakukan oleh Gio?" tanya Resti dengan meneliti tubuh sahabatnya dari atas sampai bawah.
" tidak ada. aku hanya bersedih saja bisa-bisanya dia mengatakan ini anak bukan anak dia," ucapnya dengan lelehan air mata.
Sungguh hati Elvita begitu sakit saat mendengar ucapan itu keluar dari sekolah sendiri. Seakan dan kita adalah wanita yang paling buruk.
Siapapun orangnya, pasti tidak akan pernah terima jika di rendahkan seperti itu. Hal itu membuat Elvita bertekad akan menghilang dari kota ini dan memulai hidup baru.
Mendengar hal itu, Resti begitu murka. dirinya merasa sangat geram dengan apa yang dikatakan oleh Giovanni itu.
__ADS_1
" bisa-bisanya dia meragukan ini anaknya, memang kurang ajar!" ucapnya dengan penuh emosi. tak lama berselang, pintu rumah Resti kembali terbuka.
Dengan segera Cantika masuk ke dalam rumah dan membawa koper berwarna hitam itu." nih, Lu mau buat apa Ini semua?" tanya Cantika yang memang tak mengerti.
Sejenak, Elvita terdiam tak akan dirinya Tengah menimbang-nimbang Langkah apa yang harus ia lakukan. Setelah memikirkan beberapa lama, akhirnya Elvita memutuskan untuk pindah dari kota ini.
Kebetulan juga, dirinya akan membuka cabang di kota lain." sepertinya gue akan pindah dari kota ini" ucapnya dengan ekspresi wajah datar.
hal itu tentu saja membuat kedua sahabatnya, seketika membulatkan mata karena merasa terkejut.
" lo Yakin mau pindah dari sini?" tanya Cantika untuk memastikan. Karena saat ini sahabatnya itu tengah dalam ke adaan emosi.
Hal itu membuat seseorang cenderung berpikir pendek.
" jangan mengambil keputusan di kala emosi El, nanti kau akan merasa menyesal." ucap Cantika mencoba menasehati.
Elvita yang mendengarnya, menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis." gue nggak lagi emosi kok, yang gue lakuin itu tentu demi kebaikan kita semua," ucapnya datar.
" terserah lo aja. karena memang, lu yang menjalani semuanya. gue cuma berharap, lo akan bahagia. dan Lu harus tahu, kita berdua akan terus bersama mu dan anak ini." ucap Cantika Seraya mengelus perut sahabatnya itu.
Elvita yang mendengarnya, seketika menangis tersedu-sedu. mendengar penuturan dari para sahabatnya itu.
"terima kasih karena kalian udah begitu tulus sama gue" ucapnya Seraya mengusap cairan bening yang keluar dari matanya.
Kemudian, Resti dan Cantika kembali memeluk sahabatnya itu dengan erat. mereka seakan juga ikut merasakan apa yang kita rasakan.
" Kalian berdua mau kan, mengelola bisnis ini berdua,?" tiba-tiba saja, pertanyaan itu meluncur dari mulut Elvita.
Seketika itu pula, Resti dan dan Cantika yang mendengarnya terperangah kaget." lu ngomong apa sih, Nggak mungkin lah kita mengelola bisnis lo ini." ucap Cantika Seraya menggelengkan kepala.
" gue serius tahu, gue udah bertekad untuk menyerahkan perusahaan gue yang ada di sini pada kalian. Dan semoga saja, lu berdua nggak mau ngecewain gue," ucap Elvita berpesan pada kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
hal itu tentu saja membuat membuat Cantika dan Resti, masih tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
" nggak usah ngajak-ngadi deh lu," ucap Cantika Seraya terkekeh kecil. karena dirinya menganggap ucapan Elvita hanyalah gurauan Semata.
" gue serius tau nggak," ucapnya dengan ekspresi wajah sangat serius. hal itu tentu saja membuat kedua sahabatnya itu seketika membeku karena merasa terkejut.
" kita itu masih belum bisa tau nggak," ucap Cantika Seraya menghela nafas panjang. hal itu dibalas anggukan oleh Reti.
" lagi pula, kita kan baru kerja sama lu, kata-kata karyawan lo, kalau tiba-tiba gue jadi atasan mereka." ucapnya masih tak mempercayai tindakan sahabatnya itu.
" nggak usah ngurusin mereka, lebih baik kalian fokus ngembangin usaha gue yang ada di sini. karena gue bertekad akan tinggal di kota lain dan merintis garis di sana." ucap Elvita Tegar tak terbantahkan.
Hal itu membuat mau tidak mau, Suka tidak suka, harus tetap dijalani oleh kedua gadis itu. ada rasa senang, juga ada rasa sedih.
senang karena mereka akhirnya bisa menjadi seorang atasan. karena sudah sederhana Mereka ingin merasakannya.
mereka juga sedih karena harus merelakan sahabatnya pergi dari rumah serta kotak ini. kota yang telah menghadirkan banyak sekali Kenangan.
" besok kita akan ke kantor, dan besok gue akan mengumumkan semuanya pada karyawan gue." ucapnya dengan tegas. dan akhirnya mau tidak mau, mereka berdua menganggukkan kepalanya.
*****
Sementara itu di lain tempat, tepatnya di perusahaan Joyo Kusumo, terlihat seorang laki-laki tampan Tengah duduk di kursi kebesarannya.
dirinya tampak sedang memikirkan sesuatu. dan tak lama berselang, terdengar pintu diketuk dari luar. ya itu tentu saja membuat laki-laki itu mengalihkan fokusnya.
" masuk! "Ucapnya dengan nada tegasnya. tak lama berselang, seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan itu.
" Bos laporan yang kau minta sudah ada di sini." ucapnya Seraya menunjuk sebuah map coklat yang ada di hadapan laki-laki Tampan itu.
siapa lagi jika bukan Arvino. laki-laki itu, diam-diam menyelidiki masalah yang menimpa mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
dirinya merasa begitu geram dengan tingkah yang dilakukan oleh Giovanni. lantas menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kebenarannya.