
Beberapa tahun kemudian, kini, baby Azriel telah berusia 5 tahun. bocah kecil itu tumbuh menjadi sosok yang sangat periang dan juga tampan. Bahkan, dirinya menjadi satu-satunya pangeran di antara dua Putri.
Yap. Resti dan Cantika, sama-sama memiliki anak perempuan. dan mereka, sekolah bersama dengan Azril di sekolah yang sama. Walaupun, jarak mereka adalah 2 tahun.
Namun, Sepertinya itu tidak mengganggu pertemanan mereka. bahkan Azril pun, dapat menjadi pelindung bagi kedua bocah perempuan itu. yang memang, sudah dianggap Elvita sebagai anaknya sendiri.
Namun demikian, Elvita tak pernah mau menerima lamaran Arvino. karena baginya, hidup berdua dengan jagoan kecilnya itu sudah lebih dari cukup. apalagi, kini perusahaan miliknya semakin berkembang pesat. hal itu membuat Elvita, seperti tidak membutuhkan lagi sosok seorang suami.
Apalagi, keluarga Arvino adalah keluarga terpandang. mereka akan memikirkan bibit bebet bobot dari Calon keluarga mereka. dan pastilah, mereka semua tidak akan pernah menerima masa lalu dari Elvita.
Iya walaupun, tidak ada yang salah dengan status Elvita. karena dia adalah seorang janda. bukan seorang gadis yang memiliki anak diluar nikah. jadi menurut Arvino, alasan itu tidak bisa dijadikan patokan untuk menolak kehadiran Elvita untuk menjadi pendamping hidupnya.
Namun demikian, Elvita selalu bersikeras untuk menolak pinangan dari laki-laki itu. walaupun, tidak dipungkiri oleh Elvita, jika wanita itu masihlah mencintai laki-laki yang bernama Arvino djojo Kusumo itu. namun dirinya tadi juga tidak bisa egois untuk memaksakan kehendaknya.
" Maaf Ar aku tidak bisa," ucap Elvita menolak pinangan Arvino, entah yang ke berapa. Hal itu membuat Resti dan Cantika yang memang berada di sana, merasa kasihan pada laki-laki itu.
" please lah El, Jangan pernah menolakku lagi. lagi pula, Azril juga membutuhkan figur seorang ayah." ucap Arvino Seraya menatap bocah kecil itu Yang tengah bermain dengan kedua temannya.
__ADS_1
" Maaf Ar, tapi sekali lagi, aku benar-benar tidak bisa menerimamu. lebih baik, kau cari saja perempuan lain yang bisa menerimamu dan mencintaimu lebih tulus dariku." ucap Elvita lirih Seraya menunjukkan kepala.
" lagi pula, setelah kejadian itu, aku divonis dokter sudah tidak bisa memiliki keturunan." ucapnya Seraya beranjak dari duduk kemudian menghampiri kedua sahabatnya yang tengah memperhatikan mereka.
" aku tidak peduli, yang aku pedulikan itu kamu El," ucap Arvino yang juga ikut beranjak dari duduknya kemudian menghampiri wanita pujaannya itu.
Elvita yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan kemudian menggelengkan kepala." Mungkin kamu tidak pedulikan itu, tapi Bagaimana dengan keluargamu? Mereka pasti membutuhkan penerus darah dagingnya" ucap Elvita Seraya menatap nanar ke arah laki-laki itu.
" apalagi, kamu itu adalah pengusaha muda. tidak mungkin kalau kamu tidak menginginkan anak. awalnya kamu mau berkata seperti itu, tapi aku yakin, lama kelamaan pasti kamu juga akan memilih wanita lain untuk dapat menghasilkan keturunan." ucapnya Seraya menghembuskan nafas panjang.
" tidak, Aku tidak akan pernah melakukan itu." ucap Arvino dengan penuh keyakinan. Kemudian, Hal itu membuat Elvita seketika berbalik arah menatap laki-laki itu.
Hal itu tentu saja membuat Arvino yang mendengarnya seketika menundukkan kepala. Karena, apa yang dikatakan oleh Elvita itu Memanglah benar.
" kalau begitu, Aku pergi dulu. semoga kau bahagia dengan kehidupanmu." ucap arvino Seraya melangkahkan kakinya menjauh dari Elvita. dan setelah itu, terlihat berpamitan dengan baby Azril. setelahnya, laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
Hal itu membuat Elvita yang melihatnya, seketika tersenyum kecut Seraya menyeka air matanya yang tiba-tiba sakit jatuh dari pelupuk mata.
__ADS_1
" apa kau, menyesal mengatakan hal itu?" tanya Resti Seraya memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat.
Dengan segera Elvita menggelengkan kepala," tidak, aku tidak pernah merasa menyesal. justru aku merasa bersyukur karena laki-laki sebaik Arvino, memang sepertinya tidak pantas untukku. Dirinya memang lebih baik mencari penggantiku." ucapnya Seraya melangkahkan kaki menghampiri ketiga bocah itu, yang tengah asik bermain.
****
Sementara itu, di sebuah bangku taman, Arvino Tengah termenung sendirian. laki-laki Tampan itu, bahkan tidak memperdulikan banyaknya para wanita yang telah menatapnya dengan tatapan kagum.
Hatinya, seakan terbawa oleh penolakan demi penolakan yang dilontarkan oleh Elvita. hal itu seperti membuat, jiwa Arvino, seketika ikut terbang bersama penolakan yang dilakukan oleh Pujaan hatinya itu.
Padahal, laki-laki itu telah menunggu Pujaan hatinya itu selama bertahun-tahun. Namun, laki-laki itu juga tidak bisa memaksakan kehendaknya.
karena memang, apa yang dikatakan oleh Elvita itu, memanglah benar. Karena pada dasarnya, setiap laki-laki dewasa dan normal, pasti menantikan dan memimpikan lahirnya keturunan darah dagingnya.
Mungkin saat ini, Arvino harus mendapatkan Puncak tertinggi dari kisah percintaannya. yaitu mencoba untuk mengikhlaskan Pujaan hatinya hidup bahagia. Walaupun, memang tanpa dirinya di samping wanita pujaan hatinya itu.
" semoga, kau bahagia Ya El, aku akan selalu mendoakanmu. I love you so much" ujarnya Seraya mendugakan kepala menatap langit yang begitu cerah kemudian menutup matanya.
__ADS_1
Memang, manusia hanya bisa berencana. Sementara yang memiliki rencana yang sebenarnya adalah pemilik kehidupan. Jadi janganlah takabur ataupun menyombongkan sesuatu.
-------------------->Tamat<-----------------