
Liona yang mendengar pertanyaan dari kakak tirinya itu, tersenyum sinis kemudian melangkah mendekati sang suami yang tengah mematung di sana.
" aku sepertinya berubah pikiran. Karena bayi laki-laki ini sepertinya mirip dengan mas Gio. dan aku akan pastikan anak ini akan jatuh ke tangan kami." ucapnya dengan tersenyum sinis.
Hal itu, sukses membuat Elvita seketika menatap tajam ke arah adik tirinya itu." Hah Jangan harap ya!" ucapnya dengan nada tinggi.
Namun bukannya merasa takut, tapi Justru malah membuat Liona merasa tertantang." kita lihat saja nanti, Aku pastikan anak ini pasti akan jatuh ke tangan mas Gio." ucapnya Seraya menarik tangan Giovanni untuk menjauh dari sana.
Setelah kepergian dua manusia laknat itu, Elvita seketika merosot ke arah dinding. dirinya menangis jadi-jadinya. Hingga membuat baby Azril pun ikut menangis kencang.
Mungkin bayi itu merasakan apa yang tengah dirasakan oleh bundanya. Hingga, membuatnya menangis kencang seperti ini.
Dengan langkah Sigap, Resti segera mengambil alih bayi laki-laki itu dari tangan ibunya. kemudian, mencoba menenangkannya.
" sttt, Sayang, jangan nangis ya. Bunda nggak papa kok, Bunda cuman nangis sedikit aja. kamu nggak Boleh ikutan nangis ya, cup cup cup." ucapnya Seraya menimang-nimang bayi laki-laki itu.
Tak lama setelahnya, baby Azriel benar-benar terlelap dalam gendongan Resti. Kemudian, dengan perlahan menaruhnya ke dalam box bayi.
Setelahnya, Resti dan Cantika bergegas menghampiri sahabatnya itu yang masih sangat Terpukul. Kemudian, membawanya untuk duduk di sofa sebelah ranjangnya.
" nih Lu minum dulu, lu nggak boleh merasa terkecoh gitu. gue yakin mereka hanya mau menggertak lu aja. Mana mungkin seseorang berani memisahkan antara ibu dan anaknya. Impossible tau nggak" ucap Cantika mencoba menenangkan ibu muda itu.
Elvita yang mendengarnya, seketika menatap kedua sahabatnya secara bergantian." Makasih ya, Makasih kalian telah mencoba ngingetin gue. menghibur gue sampai seperti ini." ucapnya Seraya menyeka air mata yang meleleh di pipinya.
Resti dan Cantika yang mendengarnya, seketika segera memeluk. " lu nggak usah khawatir, pokoknya baby Azriel akan aman sama lu. apa lagi, ada kita yang akan selalu menemanimu." ucap Cantika tersenyum tipis.
" Gue heran kenapa mereka bisa tahu kalau lu lahiran di sini?" tanya Cantika Seraya menatap ke arah Elvita dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Seketika itu pula wanita yang baru saja menyandang status sebagai seorang ibu itu, menundukkan kepala." Itu karena gue yang memberitahu ayah kalau gue lahiran di sini." ucapnya merasa bersalah.
Karena bagaimanapun juga Setyo harus tahu jika cucunya telah lahir. Entah itu dianggap atau tidak, Evita merasa berkewajiban untuk memberitahu laki-laki itu.
Namun dirinya tak menyangka jika semuanya akan berubah seperti ini. Dan Ia juga tak menyangka, jika kabar Ini malah membuat masalah baru untuknya.
Elvita dengan perlahan berjalan ke arah box bayi yang berisi baby Azriel yang Tengah tertidur lelap itu. kemudian tangannya terulur mengelus pipi Gembul dari bayi laki-laki itu." sampai kapanpun, Bunda tidak akan pernah membiarkan kamu diambil oleh siapapun." ucapnya kemudian mengecup kening bayi laki-laki itu.
" udahlah El, lu tenang aja kita berdua akan berusaha sekuat dan semampu kita untuk menjaga kalian berdua." ucap Resti Seraya merangkul Elvita. diikuti oleh Cantika yang juga ikut memeluk ibu muda itu.
Mendengar hal itu, Elvita tersenyum tipis kemudian membalas pelukan dari kedua sahabatnya itu.
Tok tok tok
Kegiatan pelukan mereka, seketika terhenti saat mendengar pintu diketuk dari luar. Hal itu membuat Elvita dan kedua sahabatnya, seketika Saling pandang.
Mendadak perasaan Elvita sedikit ketakutan. Dirinya, seperti menyimpan trauma. jika yang datang itu adalah Liona dan juga Giovanni.
Sementara Elvita yang mendengarnya, hanya menganggukkan kepala. Kemudian, dengan segera wanita itu meraih tubuh baby Azriel dan mendekatnya dengan erat.
Seakan akan dirinya takut jika seseorang akan mengambilnya. Hal itu membuat Resti yang melihatnya, semakin merasa kasihan.
" jangan-jangan Elvita terkena baby blues?" tanya Resti dalam hati. Kemudian dengan segera memeluk sahabatnya itu.
******
Sementara di depan pintu ruangan VVIP itu, Cantika Tengah berdiri di sana. Tampak, wanita itu menghembuskan nafasnya lega. saat dirinya tahu siapa yang berada di hadapannya itu.
__ADS_1
" huh, ternyata elu Ar, gue kira siapa bikin jantungan aja." ucapnya Seraya mengelus dada. Hal itu membuat Arvino yang mendengarnya, seketika tertegun.
Sepertinya dia tahu apa yang dimaksud oleh Cantika." apa sih kutu kupat itu membuat kekacauan?" tanya Arvino seakan dapat menebak apa yang baru saja terjadi.
" lu masuk aja deh," ucap Cantika mempersilahkan Arvino untuk segera masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut.
Seketika Arvino mematung. saat melihat pemandangan yang sedikit menyita perhatiannya itu. Di mana, Dirinya melihat Elvita seperti seseorang yang sedang ketakutan. Hal itu semakin membuat apa yang ia pikirkan sepertinya benar adanya.
" apa yang terjadi padanya?" tanya Arvino pelan Seraya melirik ke arah Cantika yang berada di sampingnya.
" tadi baru saja Giovanni datang kemari dengan Liona. mereka berkata, akan berusaha untuk mengambil bayi itu dari tangan Elvita." ucap Cantika menatap ke arah Elvita yang tengah ketakutan itu.
Seketika itu pula, tangan dari Arvino seketika mengepal kuat. saat mendengar perkataan dari sahabat wanita yang paling dia cintai itu.
" berani-beraninya mereka!" ucapnya Seraya mengeratkan tangannya. hingga membuat kuku-kukunya, seketika memutih karena saking eratnya kepalan itu.
Kemudian Arvino berjalan mendekati Elvita. Kemudian, duduk di hadapannya Seraya berlutut. hal itu sempat membuat Elvita terkejut.
" sssttt, kamu nggak usah takut. Ada Aku Disini yang akan selalu membantu kamu. kamu tenang aja, semua akan baik-baik saja." ucapnya Seraya mengulas senyum Tulus.
Hal itu semakin membuat Elvita merasa bersalah. Karena Ternyata apa yang dikatakan oleh laki-laki yang ada di hadapannya itu, semuanya benar.
"Ar, aku mohon maafkan aku ya, kamu boleh mencari kebahagiaanmu sendiri. jangan menyiksa dirimu untuk memiliki aku." capnya berlinang air mata.
Arvino yang mendengarnya, tersenyum tipis kemudian menggenggam tangan lentik dari wanita yang sangat ia cintai itu.
" aku akan tetap menunggu kamu sampai kapanpun. Bahkan, jika sisa umurku hanya untuk menunggumu aku rela." ucapnya dengan sorot mata ketulusan yang terpancar.
__ADS_1
hal itu semakin membuat Elvita terisak. Karena, dirinya baru menyadari jika laki-laki yang ada di hadapannya itu begitu tulus mencintainya.
" tapi, aku yakin mama sama papa kamu pasti tidak akan pernah menyetujui hubungan kita." ucapnya dengan nada kecewa