Pengantin Pengganti Adik Tiri

Pengantin Pengganti Adik Tiri
Kisruh


__ADS_3

tak lama berselang, Elvita dan juga Winda telah sampai di depan kantor. dan dengan segera, Elvita turun dari mobil Seraya menggendong baby Azriel dengan gendongan di depan.


sontak saja hal itu membuat Elvita dan baby Azriel menjadi pusat perhatian untuk semua karyawan. Karena, mereka semua mengagumi ketampanan bayi laki-laki yang sangat menggemaskan itu.


" Duh dek kamu itu belum gede aja udah jadi idola semua orang. Bagaimana jika nanti kamu gede?" tanya Winda Seraya Manuel pipi gembil bayi itu. Seakan bayi laki-laki itu mengerti apa yang diucapkan oleh Winda.


Sementara Elvita yang mendengarnya, hanya dapat tersenyum tipis. kemudian, mengusap kepala bocah itu dengan perlahan." semoga, nanti kamu kalau besar jangan seperti ayah." ucapnya dengan terkekeh kecil.


Sehingga hal itu membuat Winda yang mendengarnya pun juga ikut terkekeh." Bu bos Nih ada-ada aja" ucapnya Seraya menggelengkan kepala.


" aku bersungguh-sungguh Winda, jangan sampai anak ini menuruni sifat brengsek Dari ayahnya." gumamnya dalam hati


Kemudian Winda dan juga Elvita berjalan melewati lobi perusahaan kemudian menuju ke ruangan yang terletak di lantai atas.


****


Setelah sampai di ruangan itu, Elvita segera meletakkan baby Azriel di atas karpet berbulu yang memang disediakan di ruangan itu. tak hanya karpet bermain, di ruangan itu pun juga ada box bayi untuk baby Azriel tertidur.


Karena memang pekerjaan Elvita membutuhkan waktu seharian penuh. sehingga mau tidak mau wanita itu harus menyediakan semuanya untuk kenyamanan Putra kecilnya itu.


Di usia baby Azriel yang baru menginjak tiga bulan, bayi laki-laki itu sudah bisa tengkurap sendiri. Bahkan, kepalanya pun sudah hampir bisa tegak berdiri.


hal itu tentu saja membuat Winda yang melihatnya merasa sangat kagum." Ya ampun, Lihatlah Bu Bos tuan muda Azriel sudah bisa mengangkat kepalanya dengan tegak. aku sangat takjub melihat hal ini." ucapnya Seraya menatap ke arah karpet bulu itu.


Sementara Elvita yang mendengar dan melihatnya, hanya tersenyum tipis. Kemudian, berjalan mendekati baby Azriel yang sedang sibuk memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.


" Iya Winda, Saya sangat bersyukur bisa dikaruniai anak menggemaskan ini. entah apa yang terjadi, jika sampai anak ini jatuh ke tangan Liona dan juga Mas Gio." ucapnya dengan Lirih.


Winda menepuk pundak Atasannya itu. Seraya sekali mengusapnya dengan pelan." Ibu tenang saja, Setahu saya, anak yang masih di bawah umur itu akan tetap bersama ibunya." ucap Winda mencoba menenangkan.

__ADS_1


Elvita yang mendengarnya seketika menoleh ke arah Winda." aku tahu Win, tapi Aku hanya takut, jika mereka akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan." ucapnya Seraya meremas kedua Jari tangannya.


Winda yang mendengarnya, juga ikut terdiam. dirinya juga bingung apa yang harus dilakukan. Karena, Emang benar apa kata bosnya itu. jika orang yang sudah gelap mata, akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau.


tak lama berselang, pintu ruangan Elvita diketuk oleh seseorang dari luar. Hal itu membuat bergegas membuka pintu.


" Ada apa Lila,?" tanya Winda saat baru saja membuka pintu ruangan itu.


" Maaf Bu, di luar ada seseorang yang ingin bertemu dengan ibu Bos." jawab karyawan yang bernama Lila itu. hal itu seketika membuat Elvita yang mendengarnya, menjadi bertambah cemas.


Dengan segera dirinya meraih baby Azriel dan langsung membawanya ke dalam dekapan. Seakan, Elvita memiliki trauma tersendiri jika mendengar tentang orang asing.


" siapa?" tanya Winda memastikan. Seraya sesekali menatap ke belakang. Melihat ke arah Elvita.


" tuan Arvino yang ingin bertemu Bu," ucap Lila dengan sopan.


" Lila, suruh Tuan Arvino untuk segera masuk ke ruangan saya. dan kamu Winda, Tolong suruh office boy untuk membuatkan kopi." ucap Elvita Seraya menatap ke arah dua karyawannya itu.


" baik Bu," ucap mereka berdua hampir bersamaan. kemudian melenggang meninggalkan ruangan Elvita. tak lama berselang, pintu ruangannya kembali di-ketuk. Elvita yang telah mengetahuinya, menyuruh orang itu untuk segera masuk.


" Apa kabar El,?" tanya Arvino Seraya mendudukan dirinya di kursi panjang yang ada di ruangan itu.


Elvita yang mendengarnya, membalas dengan senyuman tipis yang Terukir di bibir tipisnya." aku baik Ar, Bagaimana calon anak tiriku ini, apakah dia baik?" tanya Arvino dengan nada jenakanya disertai tawa kecil.


Hal itu membuat Elvita yang mendengarnya, seketika ikut tertawa." hahaha Ar Ar, kamu masih aja ngarepin aku. aku ini udah bekas orang lho." ucapnya menggoda laki-laki itu.


Arvino yang mendengarnya, seketika menoleh ke arah Elvita." Terus apa masalahnya El, lagi pula kamu bekas orang juga orang halal ini." ucapnya Seraya mengendurkan dasi.


Elvita yang mendengarnya, hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar." dasar keras kepala!" gerutunya pelan.

__ADS_1


Arvino yang mendengarnya, tak menggubris ucapan wanita itu. dirinya hanya bermain dengan bayi laki-laki yang ada di box bayi itu.


Yap.


Mulai saat ini, Elvita mencoba berdamai dengan masa lalu bersama Arvino. Karena Wanita itu mulai melihat ketulusan yang diperlihatkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya itu.


Bahkan, perhatian yang ditunjukkan oleh Arvino, sangat besar. melebihi sosok Ayah kandungnya. Karena, Sampai saat ini pun Giovanni belum pernah menemui Putra kecilnya kembali. selain hanya ingin mengambil Hak asuh baby Azriel.


Tak lama berselang, pintu ruangan Elvita kembali diketuk oleh seseorang. dan tak lama berselang, orang itu menyembul di balik pintu.


" Maaf Bu Pak, di luar ada kekacauan." ucap karyawan yang tak lain adalah Lila itu.


" kisruh apa Lila?" tanya Elvita Seraya berdiri dari duduknya.


" selamat pagi Ibu Elvita yang terhormat." tiba-tiba saja, seseorang telah berdiri di belakang Lila.


" mau apa kau ke sini?" tanya Elvita dengan nada tinggi. hal itu tentu saja membuat baby Azriel yang awalnya tenang, seketika menangis kencang karena merasa ketakutan.


" Astaga Kak Evita, kau membuat Bayiku menangis." ucapnya dengan tersenyum misterius. seketika itu pula, Elvita segera menatap tajam ke arah orang itu yang tak lain adalah Liona.


" cukup Liona! jangan buat suasana menjadi tambah kisruh. sampai kapanpun, dia akan menjadi Anakku Bukan Anak kalian." ucapnya penuh dengan penekanan.


" aku tidak membuat suasana menjadi kisruh kakakku sayang, aku hanya ingin menggendong anakku." ucapnya Seraya berjalan mendekati Elvita.


Dengan segera, Arvino menghalangi dan sedikit mendorong tubuh Liona." Jangan dekati mereka." ucapnya dengan tatapan tajam.


" jadi ini selingkuhan kakak." ucapnya Seraya tersenyum sinis. hal itu tentu saja membuat Elvita yang mendengarnya, sesaat terdiam.


Tiba-tiba saja, muncullah ide gila dalam otaknya." Dia memang anak dari Arvino." ucapnya tanpa beban

__ADS_1


__ADS_2