
Setelah selesai berbelanja dan menikmati makanan di restoran yang ada di dalam mall, Elvita dan kedua sahabatnya segera kembali pulang ke rumah.
Sementara itu arvino, Kenzie, dan Revan. terlihat membawa belanjaan para wanita itu. Hal itu membuat Revan dan Kenzi, mendumel di setiap perjalanan.
" gue belum pernah nikah tapi udah ngerasain jadi babunya para wanita." ucap Revan dalam hati Seraya menatap ke arah Resti yang tengah tertawa bersama sahabat-sahabatnya itu.
tak jauh beda dari Revan, Kenzie juga melakukan hal yang sama. Dirinya menatap sinis ke arah Cantika beberapa kali." belum juga ada rasa, tapi udah jadi babu gini." ucapnya dalam hati.
Sementara Arvino, laki-laki itu hanya menatap ke arah 2 Bodyguard itu dengan tatapan aneh. Dirinya tidak merasa keberatan jika harus membawa belanjaan dari Elvita.
Memang jika sudah kadung cinta maka apapun akan dilakukan. ibaratnya, setidak enak apapun makanan itu, maka akan tetap nikmat di mata orang yang mencintainya.
mereka segera menyusuri Mall itu untuk segera menuju ke tempat parkir. di saat Elvita tengah berjalan menuju ke mobilnya, mata wanita itu tak sengaja menangkap sesuatu yang membuat dirinya berhenti bergerak.
Sontak saja hal itu membuat kedua sahabatnya itu pun juga ikut berhenti." Ada apa Elvita?" tanya Cantika Seraya mengikuti Arah pandangan Ibu satu anak itu.
Begitupun dengan Resti, wanita itu juga ikut mengikuti arah pandang kedua sahabatnya dan tak lama berselang, mereka bertiga sama-sama tertegun di tempatnya. kala melihat seseorang yang mereka kenal.
Orang itu berjalan berlawanan arah dengan Elvita dan juga kedua sahabatnya itu. Hal itu membuat mereka bertiga, seakan terhipnotis dan mengikuti kemanapun langkah orang itu pergi.
"El, lu nggak mau ngerekam?" tiba-tiba saja Cantika menepuk pundak wanita beranak satu itu. hal itu sukses membuat Elvita dan Resti kembali ke alam sadarnya.
" nggak usah lah nanti juga dia tahu sendiri." ucapnya Seraya berlalu dari sana. kemudian diikuti oleh Resti dan juga Cantika.
"El, kamu ikut aku ya. Aku mau nunjukin sesuatu hal sama kamu" tiba-tiba Arvino berkata demikian saat Elvita hendak menaiki mobil sahabatnya itu.
__ADS_1
Kening Elvita berkerut mendengar penuturan dari laki-laki yang ada di sebelahnya itu." Memangnya mau ngapain,?" tanyanya dengan menatap Arvino dengan tatapan menyelidiknya.
Sementara Arvino yang mendengarnya, hanya tersenyum tipis karena tahu apa yang ada di kepala wanita itu." Udahlah Kamu ikut aja." ucapnya tersenyum simpul." kalian berdua juga boleh ikut kok" ucap Arvino Soraya menatap ke arah Resti dan juga Cantika secara bergantian.
Seketika itu pula, Resti dan Cantika menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis." Nggak ah, nggak mau ganggu." ucap Cantika dengan tersenyum jahil.
Hal itu tentu saja membuat Elvita yang mendengarnya, memutar bola mata Malas karena ledekan dari kedua sahabatnya itu.
Tentu saja, Hal itu membuat tawa Resti dan juga Cantika seketika berderai memenuhi parkiran. hingga, tawa mereka seketika berhenti saat seseorang datang menghampiri Alvita dan teman-temannya.
" Halo Kakak diriku yang paling cantik, dan juga munafik, Oops! Kelepasan" ucapnya dengan tertawa terbahak-bahak.
hal itu sukses membuat Elvita dan yang lain, menatap orang yang tak lain adalah Liona itu dengan tatapan aneh.
"loe kesurupan Jin mana?" tanya Resti Seraya menautkan kedua alisnya. Hal itu membuat Cantika dan juga Elvita yang mendengarnya, seketika tertawa terbahak-bahak.
" wah wah sepertinya lu udah stress ya, sampai seperti ini" ucap Resti dengan wajah prihatinnya.
Cantika yang mendengar ucapan dari sahabatnya itu, menganggukkan kepala Seraya melangkahkan kaki mendekati ke arah Liona berada." Iya kasihan banget, mana masih muda lagi." ucapnya disertai kekehan kecil.
" gue nggak ada urusan sama kalian, gue cuma mau bilang, kalau rumah tuan Setyo, itu sudah menjadi milik kami berdua. jadi, loe, nggak usah bermimpi untuk menempati rumah itu lagi." ucap Liona Seraya menunjuk ke arah Elvita dengan jari tangannya.
Liona yakin jika tindakannya kali ini akan tepat sasaran. Dia memastikan, Elvita akan marah kepadanya kemudian mereka akan ribut besar hingga membuat semua orang mengerubunginya.
di saat itulah, Liona akan menjalankan aksi selanjutnya seperti kemarin. Namun, ekspektasinya ternyata terlalu jauh. karena kenyataannya, Elvita sama sekali tidak terpancing.
__ADS_1
Hal itu membuat Liona semakin menatap tajam ke arah Kakak berdirinya itu. Kemudian, dirinya memutar otak agar bisa memancing emosi kakaknya.
"heh, kasihan banget ya lu, semuanya udah gue rebut. mulai dari suami lu, Bapak lu, dan sekarang rumah yang penuh dengan kenangan itu udah ada di tangan gue." ucapnya dengan nada sinis.
Berharap Elvita akan terpancing dengan ucapan Liona. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. wanita yang berpredikat sebagai ibu satu anak itu, lama sekali tidak bergeming.
Hal itu semakin membuat Liona menggeram kesal. tiba-tiba saja, Elvita yang sedari tadi diam, seketika mendengar dan menatap ke arah Liona dengan tatapannya sulit diartikan.
" lu mau merebut semua yang pernah gue miliki kan, sebenarnya itu gampang. lu nggak usah pakai cara kotor seperti ini." ucapnya Seraya mengitari tubuh Liona. dan berhenti di telinga wanita itu." menjijikan!" Bisiknya dengan lembut. namun juga syarat akan nada sindiran.
Seketika itu pula, wajah Liona menjadi pucat pasi dan juga mendadak gemetar. dan Hal itu membuat Elvita seketika tersenyum puas. karena ternyata, misinya tepat sasaran.
" gue pasti kan akan menyesal. karena udah berbicara seperti ini sama gue." ucap Liona Seraya pergi dari sana.
Hal itu membuat Elvita dan yang lain, seketika tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dari adik tirinya itu.
" gila atau enggak adik lu ternyata menggemaskan sekali. jadi pengen nyekek" ucap Resti Seraya tertawa terbahak-bahak.
Akhirnya, mereka segera masuk ke dalam mobil masing-masing. dan Di tengah perjalanan, Elvita tiba-tiba dihadang oleh sebuah mobil berwarna putih.
Dengan segera, Elvita dan juga yang lainnya turun dari mobil tersebut." Giovanni" gumam Elvita Seraya menatap ke arah laki-laki yang baru saja turun dari mobilnya itu.
" Mau apa kau?" tanya Elvita sedikit takut melihat ekspresi wajah laki-laki yang masih menjadi suaminya itu.
"El, kita harus berbicara." ucap Giovanni dengan nada lembut. hal itu seketika membuat Elvita yang mendengarnya, jadi merinding sekujur tubuhnya.
__ADS_1
" Nggak, gue nggak mau." ucap Elvita Ketus. Hal itu membuat Giovanni yang mendengarnya, seketika terkejut. karena mengubah sapaannya dari" aku" menjadi" Gue"