Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 100


__ADS_3

"Ini apa?" tanya Seno masih belum yakin. Pria itu mengangkat benda pipih panjang seperti sebuah alat uji kehamilan.


Wening tersenyum menatapnya, ada keharuan di matanya yang seakan ingin tumpah.


"Apakah Emir akan punya adik?" tanya pria itu memastikan.


Wening mengangguk pasti, membuat senyum di wajah Seno langsung merekah. Menarik kekasih halalnya dalam pelukan.


"Kamu hamil Sayang, kita bakalan punya bayi lagi?" Wening mengangguk dalam dekapan. membuat Seno langsung menciumnya dengan rasa syukur.


"Apa kamu bahagia? Aku kira kamu masih melanjutkan KB, walau waktu itu aku sempat melarangnya," ujar Seno yang sebenarnya tidak ingin terburu-buru. Tetapi tidak pula juga ingin menundanya. Ternyata Tuhan memberikannya lebih cepat dari perkiraan, sungguh kado terindah yang pernah ada.


"Iya dong Mas, masa hamil nggak bahagia, ya dijalani aja kalau repot, kan ada kamu yang bantu," jawab Wening jelas mengandalkan kekuatan uang suaminya.


"Itu sih pasti, cuma ... oh tidak tidak, kamu sudah siap, aku apalagi, dan kita akan punya bayi lagi. Pasti rumah kita akan sangat ramai. Ya Tuhan ... rasanya masih seperti mimpi, aku mau jadi ayah beneran ini," gumam Seno tak mampu meluapkan rasa syukur dan bahagianya.


Ia hampir berjingkrak senang kalau tidak sadar umur yang bahkan sudah tidak muda lagi. Terus menciumi istrinya dengan gemas.


"Jadi, ini semua ide kamu? Kok mama sama papa dan Arka bisa tahu? Kalian benar-benar sukses buat aku senewen hari ini, untungnya cinta."


"Jangan marah-marah terus Sen, udah mau punya anak dan menjadi bapak, masih aja apa-apa sumbu pendek. Yang sabar, kasihan istrimu kalau harus ngurusin orang labilan kaya kamu!" tegur Bu Yasmin memperingatkan putranya.


"Iya, Ma, tadi kaget aja, habisnya dari semalem masak tingkah Wening aneh banget. Paginya juga gitu, ya mana aku nggak stress," jawab Seno antara lega dan bahagia. Ternyata huru hara yang tercipta cuma prank, walau tetap pria itu masih menyisakan rasa agak sedikit kesal.


"Kalau gitu, untuk merayakan hari jadi dan juga rasa syukur keluarga kita, kehamilan kamu juga, mari kita rayakan sayang."


"Aku udah pesan jamuan di restoran ini. Ayo kita keluar, mungkin udah siap," ujar Wening menggamit tangan suaminya. Rasanya begitu bahagia hari itu.


Sementara Baby Emir, dalam gendongan Arka di urutan paling belakang sambil menenteng botol susu. Pria itu yang memang gemas dengan bayi gembul itu, suka rela menjadi pengasuh sore ini.


"Biar sama mama aja, Ka, kamu bisa?" Bu Yasmin sanksi melihat putra bungsunya yang ngeyel hendak menggendong bayi embul itu.

__ADS_1


"Bisa Ma, dia sangat comel, tidak seperti bayi lagi. Sudah bisa diajak becanda dan seperti teman yang mau mendengarkan keluh kesahku."


"Ish ... hati-hati ya, awas anak orang jangan sampai lepas!"


Bu Yasmin memberikan kepercayaan pada si bungsu yang sok soan mau jadi pengasuh sore itu. Wening memang tadi sengaja berangkat tanpa Nancy.


"Bayi, diem, kamu jangan gerak-gerak terus, nanti jatuh!" omel Arka merasa kerepotan. Berjalan sambil menggerutu sendiri menggendong Emir.


"Nah, nah, loh, jatuh beneran kan!" Botol susunya menggelinding hingga sampai di dekat sepatu seseorang.


Perempuan itu menatap lalu memungutnya, mengamati seorang pemuda yang tengah berjalan mendekat.


"Mas, punya kamu?" tanya perempuan itu memastikan.


"Iya, bayinya rewel, untung nggak pecah," ujar pria itu nyengir datar.


"Yang sabar ya Mas, itu gendongnya jangan kek gitu, didekap, bapak baru ya? Masih kaku amat," tuduh perempuan itu sok tahu.


"Eh, bukan, ini keponakan saya, orang tuanya noh! Eh pada ke mana mereka."


"Nggak miriplah emang bukan anak gue, saya belum nikah!" tandas Arka sewot.


"Eh, labil banget jadi cowok, kenapa jadi marah."


"Siapa yang marah, situ salah nebak." Arka yang berkata cukup keras membuat baby Amir takut dan menangis, seketika Arka kesulitan mendiamkannya.


"Eh, diem dong, anak orang, ya ampun ... ayo balikin ke mamamudmu!"


Arka berjalan cepat menyusul keluarganya yang sudah berada di meja prasmanan.


"Kakak ipar, Emir rewel," lapor Arka menyerahkan baby Emir pada Wening.

__ADS_1


Namun, Seno yang menerimanya. Membiarkan Wening menikmati menu makan malam tanpa kerepotan.


"Kamu makan sekalian Mas, aku suapin ya?" ujar perempuan itu perhatian.


Seno dan Wening akhirnya makan sepiring berdua. Dengan Wening menyuapi suaminya cukup telaten. Sementara Baby Emir dalam pangkuan pria itu.


Usai acara makan malam bersama keluarga dengan penuh kehangatan, pasangan itu langsung pulang ke rumah.


"Sus, tolong Emir diganti bajunya, dia udah ngantuk juga," titah Nyonya Seno begitu sampai kediamannya.


Wening langsung ke kamar, Seno mengekornya. Perempuan itu lebih dulu menaruh tas miliknya lalu meneliti ponselnya. Sementara Seno langsung ke kamar mandi, bersih-bersih.


"Mas, buka pintunya, cepet!" pekik perempuan itu tak sabaran.


"Kenapa sayang, kamu mau mandi juga?"


"Kamu udah?" Wening balik bertanya.


"Udah, silahkan Nyonya Seno Ardi, pakai kamar mandinya." Pria itu mempersilahkan dengan gurauan.


Usai bersih diri, Wening langsung menyusul suaminya yang sudah menguasai kasur.


"Mas, kamu udah ngantuk belum?" tanya perempuan itu seraya merusuh. Tangannya sedikit nakal menelusup dada suaminya.


"Belum, kenapa sayang?"


"Hmm ... pengen?" rengek perempuan itu bermanja.


"Seblak?" tanya pria itu tak ingin dighosting lagi.


"Ish ... bukanlah, nggak peka banget," sewot Wening menarik tangannya.

__ADS_1


"Eh, beneran? Bukan prank kan?" Perempuan itu menggeleng.


"Alhamdulillah ... hayuk!"


__ADS_2