
Seno melepas istrinya dengan tidak sabar, untung sekali perempuan itu begitu pengertian setelah sepekan lebih cuti beraktivitas di ranjang. Akhirnya malam ini pria itu bisa menyapa tubuh istrinya kembali.
Wening sudah menyiapkan pakaian dinas yang begitu spesial untuk suaminya. Perempuan itu sedikit tampil berbeda hanya ingin membuat suasana berbeda. Walapun sebenarnya hatinya deg degan, tetapi perlu mencoba dengan hal baru.
Perempuan itu melangkah pelan setelah menyemprotkan parfum ke bawah telinganya. Mendekati ranjang di mana Seno tengah sibuk menatap layar macbook. Menyadari kekasih halalnya sudah berada di dekatnya, Seno pun langsung menoleh lalu menyimpan benda pipih penunjang pekerjaannya itu ke nakas.
"Udah?" tanya pria itu tersenyum. Menatap penuh cinta.
Wening mengangguk seraya meraih uluran tangan suaminya agar naik ke ranjang. Perempuan itu langsung konek dengan memposisikan diri di pangkuan suaminya. Posisi misionaris yang paling Seno rindukan. Pria itu menghirup banyak-banyak bagian atas istrinya seraya menenggelamkan wajahnya di antara kancing piyama kemeja yang begitu seksi.
Wening memejamkan netranya seraya mendekapnya lebih dalam. Memberikan akses penuh pria itu menguasai dirinya malam ini. Perlahan namun pasti, pria itu menggulingkan tubuh istrinya hingga berada tepat di bawahnya. Satu persatu kancing kemeja itu terlepas, menyisakan kemolekan tubuhnya yang begitu mendamba untuk dinikmati malam ini.
"I love you," ucap pria itu setelah menggumamkan doa. Pria itu membukanya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"I love you more," jawab Wening membalas teduh.
Keduanya menatap dalam tautan asmara yang menggelora. Sebelum akhirnya mempertemukan bibir mereka hingga beradu dalam kecapan. Mengabsen semua sudut dan sisi, mengeksplor penuh misi.
Pria itu terus memanjakan istrinya dengan menggelincirkan indera perasanya tepat di bawah belakang telinganya hingga basah. Kecupan-kecupan sayang itu berganti dengan gigitan gemas di sepanjang ceruk lehernya hingga menimbulkan bekas kepemilikannya di sana.
Sementara Wening sudah meracau bebas dan semakin menggila saat tubuh sensitifnya menjadi tempat pria itu mereguk pahala. Des@han yang keluar dari bibir seksinya semakin membuat rasa percaya diri pada pria itu yang semakin menggebu.
Suasana begitu syahdu, bagai memanen madu setelah beberapa hari menimbunya.
"Kamu manis sekali, bagaimana bisa aku mengakhiri ini. Sepertinya aku ingin mengulangi lagi," gumam pria itu setelah mereguk nikmat hingga membuatnya melayang ke singgasana.
"Apa kamu menyukaiku yang sedikit nakal?" ucap perempuan itu malu-malu dengan rona di pipinya.
"Iya, tentu saja, kamu semakin pintar membuatku melayang, belajar dari mana?"
"Dari pria yang saat ini ada di atasku, minggir Mas, tubuhmu berat!"
"Owh ya ampun ... aku bahkan lupa saking asyiknya menempel padamu."
__ADS_1
"Kamu seperti benalu, enggan beranjak memberi jarak, padahal baru saja aku kasih servis paling ehem."
"Hahaha. Kalau aku benalu, kamu pohon yang tempat aku merambat, selalu menyatu, enggan dipisahkan."
"Lumayan lelah, gerah, dan rasanya tubuhku capek sekali."
"Tidurlah, semoga apa yang menjadi mimpi kita malam ini bisa terwujud."
"Aamiin, dan aku menginginkan kamu sedikit menggeser tubuhmu, aku mau ke kamar mandi," ujar perempuan itu beranjak.
Rasanya selalu seperti ada yang masih tertinggal di sana. Ngilu, dan membuatnya tidak nyaman.
"Bilang dong sayang kalau mau digendong, jangan cengar-cengir lihatin gitu."
"Suamiku yang paling pengertian, ini tuh rasanya gimana ya? Kaya ngilu bercampur resah gitu."
"Emang gitu ya? Sepertinya kita perlu mengulang lagi? Biar makin cepet jadi," ujar pria itu mengerling nakal.
"Apanya yang cepet jadi? Semangat sekali Pak?"
"Tiga sepertinya, sekarang saja sudah dua, apalagi kalau aku hamil."
"Sekarang dua, emangnya ada selain baby Emir?"
"Mas lah ... bayinya sangat aktif dan suka merusuh mencari kehangatan," sindir perempuan itu memanyunkan bibir bawahnya.
"Ya ampun ... aku disamakan dengan bayi, berani ya kamu," kata Seno gemas.
Seno menarik hidungnya lalu terkekeh. Mengecup-ngecup pipinya dengan candaan. Membuat suasa kembali memanas karena pria itu cukup nakal mengulanginya dengan tenaga kembali diisi daya.
Wening tidak bisa menolak sama sekali, malah suaranya yang merdu kembali lolos dari mulutnya hingga membuat pria itu kembali merasakan tubuhnya seraya dihujam kenikmatan yang jika mungkin, ingin selalu mengulang tanpa jeda.
Setelah mereguk nikmat, keduanya seperti terdampar dalam suasana yang tenang lagi damai. Wening bahkan hanya burgumam lirih setengah terpejam, saat pria itu beberapa kali membisikkan kalimat-kalimat cinta dan gumamam terima kasih.
__ADS_1
"Udah tidur, Dek? Kasihan banget kecapean," gumam Seno menyelimuti. Lalu ikut terlelap menemui mimpi.
Rasanya tubuh Wening begitu lelah, bahkan malam ini lupa menjemput Emir ke kamarnya. Hingga di tengah malam perempuan itu terjaga dan merasa ada sesuatu yang beda. Tubuh nakednya berjalan pelan menyambar pakaian yang teronggok di karpet bulu. Segera memakainya dan berjalan keluar menuju kamar putranya.
Terlihat Suster Nancy ketiduran di sampingnya. Membuat Wening membangunkan dan menyuruhnya pindah saja karena Emir hendak dibawa ke kamarnya.
Perempuan itu memboyong Emir untuk tidur bersama satu ruangan, dengan menempatkan bayi mungil itu di dalam box bayi.
Keesokan paginya, Seno terjaga lebih dulu. Wening masih terlelap di bawah gelungan selimutnya yang hangat. Pria itu lebih dulu menyapa istrinya dengan memberikan kecupan selamat pagi, lalu beranjak ke kamar mandi.
"Mas, udah bangun? Maaf aku kesiangan, jadi tidak sempat menyiapkan pakaian untukmu," sesal perempuan itu sembari memeluknya dari belakang. Seno tengah sibuk merapihkan rambutnya di depan cermin.
"Nggak pa-pa, kamu pasti lelah, mandi sayang, kamu masuk jam berapa?"
"Agak siang, jam setengah sembilan. Ngomong-ngomong kenapa Emir udah nggak ada di box?" tanya perempuan itu menempel dengan manja. Rasanya pagi ini begitu melelahkan setelah semalam dua ronde permainan.
"Tadi rewel, mungkin pagi risih harus ganti dan mandi juga, jadi aku suruh suster buat mandiin sekalian sama menjemur Emir."
"Tolong pasangin dasinya, Sayang!" pinta pria itu bersiap-siap.
Wening dengan patuh sedikit berjinjit meraih kerah kemejanya. Dalam kesempatan ini Seno kembali mengecup bibir istrinya yang bahkan belum mandi.
"Mas, mesum, ikh!" protes Wening mrengut. Sementara Seno senyum-senyum gaje.
"Itu leher kamu merah-merah banyak banget, nanti pas kuliah jangan sampai salah kostum!" peringat Seno senyum melihat maha karya dirinya.
"Kamu mah suka gini, mana banyak banget ya ampun ...." keluh Wening melihat dirinya di kaca.
"Nggak pa-pa, salah siapa ngegemesin banget jadi orang, ya mana tahan," ujar pria itu santai.
Wening hanya menatap pasrah seraya menggeleng tak percaya. Sementara Seno kembali menarik pinggangnya untuk mendekat.
"Nanti siang mau dong dikunjungi ke kantor, kita lunch bareng, gimana?"
__ADS_1
"Tumben?"
"Pengen aja, kayaknya asyik quality time berdua."