
Gamang, namun harus tetap memilih salah satunya. Wening pikir, Seno tidak akan mempermasalahkan jarak di antara mereka. Sayangnya pria itu berubah pikiran, dan sekarang meminta Wening harus kembali. Sejuta angan yang membumbung terpaksa harus tersisih.
Wening sadar, perjuangan ini tidaklah mudah. Namun, ia juga sadar rumah tangganya begitu penting. Hingga restu suami harus ia kantongi dengan pasti.
Seno menghapus buliran bening yang membasahi pipi Wening, sembari terus menggumamkan kata maaf. Dirinya tidak punya pilihan lain, tak pula bisa berjauhan tanpanya.
Setelah merasa tenang, dengan alasan yang paling logis. Wening dan Seno beserta asistennya datang ke kampus. Tentu saja untuk mengurus dokumen kepindahan.
Perempuan itu menuju BAAK atau Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan dengan ditemani suaminya untuk dibuatkan surat pindah. Serta kewajiban memenuhi administrasi yang tentunya tidak menjadi masalah untuk Seno. Selain itu juga untuk dibuatkan surat-surat lain yang diminta oleh kampus tujuan. Tentu saja memudahkan dan mempercepat proses kepindahan ke kampus baru.
Usai dari kampus, bertolak ke bimbel, pamit dan izin keluar tentunya. Tak lupa mengucapkan terima kasih banyak dengan rekan sesama pendidik yang tergabung di sana. Terakhir, resign di kafe, yang tentunya masih disayangkan Mbak Marta lantaran belum ada ganti. Namun, karena Wening harus pindah dan kembali ke Jakarta, perempuan itu pun akhirnya mengiyakan.
Tak lupa salam perpisahan itu Wening sematkan untuk rekan barista yang ada di sana. Sedikit banyak telah membersamai hampir dua bulan ini, dan pasti banyak hal yang sudah mereka lewati.
Seharian mengurus ini itu, lelah hayati membuatnya rehat sejenak. Seno malah yang sangat berantusias mengemas barang-barang Wening ke koper.
Usai mengemas dan memasukkan ke mobil, Wening diantar suaminya pamit pada ibu kost dan menyerahkan kunci kamar. Setelahnya benar-benar say good bye Bandung dan Ganesha yang akan menjadi kenangan. Sungguh dalam posisi yang rumit, tetapi itulah sebuah pilihan. Di mana harus memilih salah satu di antaranya.
"Yu, mampir ke resto bentar ya, istriku sedari tadi belum makan," interuksi Seno setelah mobil membelah jalanan. Dari Bandung sudah petang, sengaja langsung pulang karena besok harus sudah berangkat kerja.
Sedari pagi, Wening bahkan mengabaikan sarapan. Hanya makan siomay di kantin kampus, serta ngemil beberapa cemilan. Tidak juga merasa lapar, saat hatinya tengah dirundung galau, rasa lapar itu serasa menghilang.
__ADS_1
"Ayo sayang, makan dulu!" titah pria itu turun dari mobil. Seno dan Wahyu memesan makanan yang sama, Wening yang awalnya enggan pun akhirnya makan dengan lahap mengingat perutnya tidak keisi sedari pagi dengan makanan yang berkarbohidrat.
Usai menghabiskan isi piringnya, langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang. Selama perjalanan pulang, Seno merasa bersyukur dan bahagia tentunya bisa terus sama-sama lagi setiap hari, saat, dan waktu tanpa adanya LDR yang menyiksa batin.
"Ngantuk ya, tidur aja, sini!" titah pria itu membimbing istrinya agar merebah ke pangkuannya. Menjadikan paha suaminya sebagai bantalan. Perempuan itu benar-benar terlelap dengan begitu nyaman.
Cukup malam sampai di kediamannya. Wening yang masih tertidur pun, langsung digendong oleh Seno untuk dibaringkan di kamarnya. Wahyu membantu membawakan koper, memastikan semuanya aman. Baru pulang dan akan kembali besok pagi untuk menjemput ke kantor.
"Selamat datang kembali di kamarmu yang sesungguhnya, Dek, rumah kita berdua," ucap Seno begitu istrinya membuka matanya. Wening terjaga saat Seno hendak membaringkan ke tempat tidur.
"Udah sampai ya? Jam berapa? Aku tidurnya lama berarti," ujar perempuan itu meneliti jam di ponselnya. Pantas saja langsung tertidur, semalam bahkan kurang tidur, ditambah capek dan sedikit stress mendadak galau banyak pikiran.
"Udah, istirahat dulu aja, pasti capek, 'kan?" ujar Seno perhatian.
"Biar aku ambilin saja, diem di kamar," cegah Seno tahu betul kalau istrinya lelah.
Saat Seno kembali ke kamar dengan segelas air putih di tangannya. Wening baru saja selesai menukar pakaiannya setelah sebelumnya bersih-bersih terlebih dahulu.
"Ini sayang, minumnya!" interupsi Seno sembari menaruh di atas nakas.
Wening berjalan ke arahnya, duduk di bibir ranjang lalu meraih gelas itu. Minum dengan tenang, di bawah pandangan sepasang mata yang terus memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Kenapa Mas, haus juga?" tanya Wening bingung.
Seno menggeleng, "Enggak, bahagia aja berasa kaya mimpi, sekarang kamu udah pulang, dan kita akan sama-sama terus," ucap Seno penuh kelegaan.
Kemarin bahkan terlihat begitu kacau. Namun, pagi ini secerah harapan mentari yang selalu menghangatkan dan memberikan cahayanya untuk keberlangsungan seluruh muka bumi.
Bibirnya yang sedikit tipis berisi itu ketarik membuat lengkungan. Begitu bersemangat, apalagi saat pagi hari ada yang diajak becandaan bersama.
"Morning Sayang, apa hari ini lebih baik?" tanya pria itu sembari mengendus-endus rusuh. Padahal pria itu baru saja mandi dengan rambut masih sedikit basah.
"Mager, aku capek banget," jawab Wening kembali menarik selimutnya.
"Kamu nggak mandi? Aku siapin airnya ya, urusan kepindahan kamu nanti biar Wahyu yang urus, kamu terima beres dan masuk saja."
"Apa nggak kebalik, harusnya aku yang nyiapin air buat kamu, maaf Mas, aku kesiangan."
"No no no, aku bakalan ngelakuin apa pun buat kamu bahagia, dan ngerasa nyaman. Karena membujukmu pulang sungguh tidak mudah, bahkan matanya masih sembab ginj."
"Promise?"
"Yes, l promise!" jawabnya yakin. Hingga membuat Wening tersenyum.
__ADS_1
"Gendong!" rengek perempuan itu melentangkan kedua tangannya agak lurus ke depan. Seno dengan senang hati membawa tubuh istrinya ke kamar mandi.