Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 98


__ADS_3

"Kita langsung pulang ya Mas, kasihan Emir udah lama ditinggal," ujar Wening ingin segera sampai.


"Udah di luar, sekalian cari makan aja, Pak Eko juga udah lapar kan Pak?" tanya pria itu memastikan istri dan supirnya.


"Hehe ... terserah Non Wening saja Tuan," jawab Pak Eko canggung.


"Oke deh cari makan dulu nggak pa-pa." Wening akhirnya mengiyakan usul suaminya. Walaupun rasanya sudah ingin sampai dan kepikiran bayinya di rumah. Hatinya begitu lega setelah menyerahkan amanat Kak Rara. Namun, sepertinya ia kecapean karena mendadak sedikit pusing dan tak enak badan.


"Mau makan apa, Sayang?" tanya Seno memberi pilihan.


"Terserah kamu aja Mas, aku ngikut," jawab perempuan itu sedikit tak berselera makan.


Mereka menikmati makan malam di sebuah resto. Mulai sedari memesan, sampai pulang, Wening terlihat lelah. Bahkan perempuan itu sampai ketiduran di mobil waktu perjalanan pulang hingga mengharuskan Seno menggendongnya ke kamar.


Pria itu membaringkan kekasih halalnya secara perlahan. Tidak ingin mengusik tidurnya.


"Pindah sayang, ke ranjang yang nyaman," ujar Seno menenangkan.


"Aku ngantuk banget dan lelah, bisa tolong atasi Emir malam ini."


"Hmm ... tidurlah, aku akan menjaganya untukmu." Seno mengecup kening istrinya sesaat, lalu melepas sepatunya yang masih memenjara kakinya sedari tadi.


"Mas, tolong ambilin toner yang buat bersihin wajah, aku malas ke kamar mandi," pinta Wening setengah terpejam.


Seno menurut, sepertinya memang benar istrinya kecapean. Tidak biasanya Wening sampai tidak seperhatian ini dengan kulit wajahnya.


Berhubung istrinya sudah lelap, bahkan tak konek sama sekali, Seno bertindak membantunya. Pria itu membersihkan wajahnya dengan kapas secara perlahan.


Usai melakukan itu semua, pria itu beranjak menuju wardrobe mengambil ganti. Lebih tepatnya piyama kepunyaan istrinya bermaksud hendak menggantinya.


"Dek, ganti baju dulu, ini pasti nggak nyaman," ujar Seno mulai melepas satu persatu kain penutup tubuh istrinya itu.


"Mas, ngapain? Aku capek, ngantuk, jangan perkosa aku?" gumam Wening setengah sadar.

__ADS_1


"Mau aku perkosa sebenarnya, siapa sih yang tahan sama body montokmu, tapi berhubung malam ini aku lagi baik, aku meloloskan dirimu. Tidak untuk besok," jawab Seno sembari mengganti pakaian istrinya.


Wening nampaknya cukup pasrah, dalam samar ia merasa hangat kembali. Hingga menemukan mimpinya dan seperti begitu nyaman.


Sementara Seno, usai melakukan keriwehan istrinya, pria itu baru beranjak membersihkan diri dan berganti pakaian. Berhubung sudah diwanti istrinya untuk membawa Emir, Seno pun beranjak ke luar ke kamar sebelah.


Sebelumnya pria itu mengetuk pintunya terlebih dahulu, memastikan di dalamnya ada Nancy atau tidak. Ternyata suster yang menjaga Emir masih di kamarnya tengah menunggui bayi tuannya.


"Sus, Emir sudah tidur?" tanya pria itu tidak jelas menatapnya.


"Sudah Tuan, apa harus dipindahkan?" tanya Nancy memastikan.


"Biar aku saja, kamu balik saja ke kamar," ujar Seno belum beranjak dari depan pintu.


Pria itu memberi ruang untuk Nancy keluar, baru dirinya masuk mengambil Emir. Sebenarnya Seno jarang sekali mengobrol dengan susternya atau perempuan mana pun bila memang tidak penting-penting amat.


Pria itu memindah Emir ke dalam kamarnya. Lalu kembali ke ranjang bersiap menjemput mimpi sambil mendekap istrinya dalam pelukan.


Dini hari, Baby Emir terjaga, seperti biasa bayi itu akan meminta susu karena merasa lapar dan haus. Wening yang mendengar, sementara Seno bahkan terlelap begitu saja tak terusik sama sekali.


"Mas," rengek perempuan itu tidak mengantuk. Merusuh suaminya yang tengah terlelap begitu damai.


"Apa Dek? Emir rewel?" tanya Seno sambil merem. Enggan membuka matanya walaupun istrinya mengganggunya.


"Bukan Emir, tapi aku," jawab Wening sedikit nakal menelusupkan tangannya ke dalam baju suaminya.


"Mas, aku nggak bisa tidur, kenapa semalam nggak ngajak aku," bisik Wening nakal sekali.


"Hmm ... katanya nggak mau, capek, ngantuk, ya udah aku ngalah," jawab Seno sedikit terusik dengan tangan istrinya yang gratilan hingga membuat Seno melek sempurna.


"Kamu nakal, jangan gini kalau nggak mau disentuh," ucap Seno gemas mencekal tangannya.


"Siapa bilang nggak mau, aku pengen," pinta perempuan itu menempatkan kepalanya di dada bidangnya sebagai bantalan.

__ADS_1


"Hah! Beneran? Tumben minta duluan," ucap Seno merasa takjub. Mata yang berat terasa ringan.


"Cepet bangun!"


"Ke mana? Di sini kan?" Pria itu bangkit duduk.


"Bukanlah, mana ada, aku pingin seblak," pinta perempuan itu membuat Seno melongo, meruntuhkan angan dan persendiannya.


"Malam-malam ngajak ribut? Yang benar saja, jangan bikin aku gemes," kesal Seno menekuk wajahnya.


"Nggak mau ya, ya udah deh nggak pa-pa, aku nanti bikin sendiri aja," jawab Wening beranjak. Wajahnya mrengut maksimal, istrinya jelas merajuk.


"Sabar, sabar," gumam Seno mengelus dadanya dramatis.


Pria itu turun dari ranjang lalu mengikuti istrinya menuju dapur.


"Maaf sayang, aku kan nggak bisa masak, apalagi buat seblak, gimana ceritanya," bisik pria itu sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Minggir ah males, suami orang perasaan pada romantis, kenapa kamu nggak, minimal temani gitu, kamu mah apa langsung nggak mau aja. Sana menjauh, tidur aja terus tidur."


"Beneran aku balik ke kamar ya?" ancam pria itu menguji perkataan wanita yang biasanya antara mulut dan hatinya tidak sinkron sama sekali.


"Balik sana balik, nggak usah peduliin aku, ngeselin banget jadi cowok!" sewot Wening mendadak uring-uringan dini hari. Waktu yang tak lazim untuk dirinya berdebat.


Sebenarnya kenapa perempuan itu aneh sekali, apa yang terjadi.


"Ngapain balik, sana menjauh!" usir Wening sengit.


"Ambilin jaket, dingin, butuh kehangatan, ini pakai dulu. Aku temenin dari sini ya," ujar pria itu tak sampai hati mengabaikan kelakuan istrinya yang mendadak aneh.


"Mas, males," ujar perempuan itu menghampiri Seno lalu meminta pangku.


"Kamu kenapa sih? Aneh banget, aku bantuin racik bumbunya, beneran nggak tahu."

__ADS_1


"Nggak jadi, udah nggak pingin, mau tidur aja, ngantuk. Gendong aku sampai kamar."


Seno menautkan alisnya bingung, tetapi itulah Wening, mau heran tetapi istrinya. Membuatnya melatih sabar agar tetap waras dan tidak terjadi huru hara.


__ADS_2