Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 102


__ADS_3

"Sayang, maaf, aku terpaksa membangunkanmu, di luar ada Afnan dan istrinya mau bawa Emir jalan-jalan. Aku udah bilang jenguk aja, tapi orangnya ngeyel, gimana ini?" Seno nampak galau.


"Apa Mas? Maksudnya Emir mau dibawa?" tanya Wening menyakinkan. Tubuh yang lemas dan mager ia paksa untuk duduk lalu dengan tegas mengatakan keberatan.


"Nggak boleh, kalau mau jenguk, ya jenguk aja, ngapain bocah bayi dibawa-bawa. Aku nggak percaya, lagian tuh orang mau ngeyel juga bodo amat, sekarang aja gini, kemarin ke mana. Nggak pokoknya, nggak boleh!" tolak Wening lantang.


Wening yang notabene tengah dalam kondisi kurang fit, benar-benar dibuat emosi. Iya kalau amanah, lalu dikembalikan. Kalau malah dibawa kabur bagaimana? Dalamnya hati tak ada yang tahu, dan waspada itu perlu. Apalagi almarhum Mbak Rara sudah memberi amanat itu pada keluarga kecilnya. Tentu saja Wening merasa takut dan keberatan.


"Oke, oke, Sayang, aku paham harus ngomong apa. Jangan khawatir aku tidak akan melepas Emir. Kalau jenguk aja boleh, tetapi kalau dibawa-bawa big no!"


Setelah menemui istrinya di kamarnya, Seno kembali ke ruang tamu. Di mana kedua tamunya tengah menunggu. Tak jauh dari sana, ada Emir dalam pengasuhan Nancy. Kalau sekedar menjenguk bayi embul yang saat ini bahkan tengah tertidur di boxnya, tentu tidak masalah. Namun, tidak untuk membawanya.


"Maaf, Nan, istriku tidak mengizinkan kalian membawanya. Jenguk saja di sini, silahkan datang berkunjung selagi mau, tapi tidak untuk membawanya. Masih bayi juga, iarlah tumbuh dengan nyaman dan tenang.


Afnan nampak menghela napas dalam. Kesal, sudah pasti, cuma ngajak keluar saja tidak boleh. Padahal ia ingin sekali rumahnya diwarnai dengan suara tangisan bayi.


"Kenapa kalian keras kepala sekali, kami hanya ingin membawa sebentar, merasakan indahnya jadi orang tua."


"Kenapa tidak ikhtiar dengan cara yang sedikit berbeda, siapa tahu cocok dan hasilnya kamu mempunyai anak sendiri," saran Seno memberikan sedikit masukan.


Sebenarnya bukan urusan pria itu juga. Tetapi, dari pada terus merecoki keluarga kecilnya yang jelas membuatnya tidak nyaman. Seno memberikan saran yang luar biasa.

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Jaman sudah canggih Bro, kenapa tidak mencoba dengan bayi tabung," saran Seno apa salahnya dicoba.


Seperti mendapat sedikit pencerahan, mereka pun akhirnya menerima penolakan itu dan memikirkan saran yang luar biasa dari sahabatnya. Yang jelas, saat mengetahui Wening atau istri Seno sedang hamil, dia dibuat iri mengingat ada Emir juga di tengah-tengah mereka. Betapa Seno begitu beruntung di mata Afnan. Mempunyai dua anak dalam waktu dekat, dan itu adalah impian keluarga Afnan yang sudah menikah cukup lama.


"Tamunya udah pulang? Pokoknya kalau jenguk nggak pa-pa, tapi kalau dibawa nggak boleh. Enak aja mau nabur aja, giliran susah ke mana? Udah lucu gitu mau ngeyel, dasar cowok ngeselin!" omel Wening emosi. Mencurahkan kekesalan hatinya pada suaminya.


"Udah, jangan marah-marah, nanti yang ada kamu malah nggak enak badannya nggak nyaman."


"Aku emosi Mas, Of Afnan tuh bener-bener bikin ketar ketir. Ah, kesel! Mana Emir, tolong panggilin Nancy ke sini. Aku jadi kangen," ujarnya merasa sudah lebih baik.


Seno beranjak dari kamar mengambil Emir dalam pengasuhan baby sitter. Bocah bayi itu tengah lucu-lucunya. Sudah mau belajar makan, walaupun sedikit repot, namun jelas ada rasa bahagia yang menempati ruang khusus di relung terdalamnya.


"Mas, pengen rujak," interupsi Wening mendadak menginginkan yang seger-seger.


"Oke sayang, aku pesenin ya, ditunggu beberapa menit."


"Eh, bikin sendiri, minta tolong Mbok Ijah beli bahannya. Nanti kamu yang buat di rumah."


"Owh gitu, Oke baiklah Nyonya Seno, tunggu ya sayang."

__ADS_1


Seno menghampiri Mbok Ijah yang tengah menyetrika pakaian disambi ngobrol dengan Nancy. Akhirnya mendapat tugas baru setelah dititip uang dari bosnya itu.


"Mbok, tolong beliin buah-buahan bahan rujak, istriku ngidam," titah Seno lalu kembali ke kamarnya.


"Siap Tuan," jawab Mbok Ijah bergegas. Meninggalkan sejenak acara menggosok baju-baju tuannya demi amanat baru untuk bumil muda.


"Eh, Dek, kok seksi banget, mau mandi?" tanya Seno mendapati istrinya berpenampilan kurang bahan di dalam kamar.


"Pengen aja pakai piyama ini, toh cuma di kamar doang, maaf ya Mas kalau bikin kamu mupeng. Tapi semalam kan udah, jadi tak ada reka ulang untuk siang ini. Hehe."


"Ish ... kamu paling bisa bikin tongkat saktiku bereaksi. Udah tahu suamimu ini gampang kesetrum, kamu suka bikin umpan."


"Enggak Mas, aku kan lagi males keluar kamar, ya solusi paling nyaman gaun piyama seksi."


Wening sedikit terhibur dengan adanya Emir. Seno sambil sesekali mengawasi anak dan istrinya mengalihkan perhatiannya dengan bersibuk ria di depan laptop. Membuka kiriman dari Wahyu yang belum sempat dicek ulang.


"Mas, kok Mbok lama ya, emang ke pasarnya nggak minta anterin Pak Eko apa?"


"Tadi udah Sayang, ditunggu sebentar, sabar!"


"Udah pengen banget," keluh perempuan itu merengek rusuh pada suaminya.

__ADS_1


Seno menutup laptopnya, lalu meraih tubuh istrinya agar terduduk di pangkuannya. Tangannya terulur membenahi mahkota istrinya yang menghalangi wajah.


"Cantik banget istriku yang lagi hamil, apa sekarang udah nggak mual?" puji Seno membuai kekasih halalnya dalam pangkuan.


__ADS_2