Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 113


__ADS_3

"Sus, titip anak-anak ya tidur di kamar Emir aja, aku pulang tapi nggak tahu jam berapa," pesan Wening sebelum berangkat.


"Siap, Buk," jawab Suster Nancy patuh.


Perempuan itu sudah memberikan full ASI dan pastinya stok susu di kulkas. Cukup aman untuk semalam, perempuan itu juga membawa alat pompanya sekalian, takut-takut harus segera dikeluarkan jika sudah beberapa jam kemudian. Cari aman walau sedikit ribet, tentu saja demi kesejahteraan bersama.


"Udah, berangkat ya?" ujar Seno cek dan ricek yang akan dibawa.


"Udah, let's go!" jawab Wening yakin.


Keduanya masuk mobil langsung bergegas ke penginapan yang tentunya sudah dipesan dulu beberapa jam yang lalu. Kamar spesial untuk malam istimewa, di mana terasa ada yang berbeda dari malam sebelumnya.


"Berasa aneh nggak sih, kaya pengantin baru nyari tempat aman. Wkwkwk." Wening ngakak sendiri sembari berjalan bergandengan tangan bersama suaminya di lorong hotel.


"Emang baru, perdana setelah melahirkan. Jadi, mari kita nikmati malam ini layaknya pengantin baru."


"Kok aku kaya ada takut-takutnya ya, sumpah Mas aku deg degan," ucap Wening jujur sekali.


"Aku lebih deg degan, takut kamu nangis lagi, moga malam ini nggak ya, aman."


Keduanya masuk kamar dengan hati jedag jedug dan senyum sumringah menghiasi wajahnya. Seno benar-benar memesan layanan kamar spesial dengan banyaknya taburan mawar di atas ranjang seperti pengantin baru.


"Wah ... kamarnya beneran gini, sweet banget kamu Mas," ucap Wening merasa takjub. Tersenyum menatapnya dengan sedikit grogi.

__ADS_1


"Gimana? Suka? Harus dong buat yang tersayang emang harus bikin kamu nyaman," ujar pria itu super romantis.


"Aku kamar mandi dulu ya, bersih-bersih dulu," ujar Wening beranjak.


"Jangan lama-lama, aku juga mau bersih-bersih. Sebelum kita memulai. Hehe." Pria itu nyengir sendiri.


Wening menukar pakaiannya dengan lingerie kimono yang cukup seksi dan tentu saja menggoda iman. Perempuan itu makin deg degan saja bertemu suami setelah mempercantik diri plus dengan wangi-wangian.


Suara derit pintu yang terbuka langsung mencuri atensi pria yang kini tengah menatapnya tanpa berkedip. Pria itu langsung tersenyum menggoda.


"Wao ... lima menit cukup buat aku bersih-bersih, tunggu sayang," ucap pria itu melesat ke kamar mandi.


Kilat, tetapi sudah bersih-bersih, dan Seno langsung merangkak ke kasur menyusul istrinya yang sudah menunggu siap menyambutnya.


"Udah boleh dibuka, sini cium dulu," kata pria itu yang sukses membuat Wening ngakak.


"Ini versi apaan, kita bahkan udah hatam, kok lain ya sekarang, sumpah Mas aku grogi, jangan main terkam aja. Gimana kalau kita ngobrol dulu."


"Oke baiklah, apa yang membuat kamu gugup? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, punyaku udah jinak dan kamu pawangnya. Jadi ... tenangkan dirimu sayang."


"Kok aku kepikiran anak-anak ya, astaghfirullah ... macam mana ini." Seno yang hampir memulai berhenti sejenak, lalu menatapnya lekat.


"Mau telpon dulu, atau gimana?"

__ADS_1


"Nggak Mas, maaf, maaf, ini waktu malammu, seharusnya aku berkonsentrasi," ucap Wening mendahului.


Perempuan itu membuka kaus suaminya lebih dulu, hingga membuat Seno sumringah berapa watt.


"Baca doa dulu, biar makin berkah jemput pahalanya," ucap pria itu menggumamkan doa lalu mengecup keningnya.


Tak ingin menunda waktu lagi, keduanya pun mempertemukan napas mereka. Saling menyapa, beradu dalam lembutnya pergumulan papila mereka. Saling merespon penuh minat.


Wening cukup menikmatinya setiap jengkal napas diiringi sentuhan jemari nakal sang pria. Hingga mampu membuatnya serasa melayang diratukan dalam peraduan tempat yang paling syahdu.


"Eh, eh, Mas, stop, kok sakit sih," keluh Wening teramat jujur. Membuat Seno menjeda keasyikannya.


"Aku udah pelan, dan cukup hati-hati, pakai kecepatan berapa?"


"Paling pemula, berasa kaya pertama, salah kali ini dokter jahitnya ya." Perempuan itu nyalah-nyalahin orang.


"Tempo hari waktu kontrol sama KB udah oke, 'kan? Mungkin ini rezeki coba mantan perawan jilid dua. Tahan, tahan ... aku akan melakukannya dengan lembut."


"Oke, rileks ... please ...." batin Wening sembari menjerit resah.


Seno yang merasa istrinya kurang nyaman, tidak serta merta memaksa, pria itu mencoba alternatif lain dengan membuat rangsangan lebih gila. Hingga membuat istrinya terlena dan merasa lebih siap. Dengan sedikit usaha, kerja keras dan doa, akhirnya malam perdana pun bisa dilewati dengan jeritan manja nan rintihan nikmat mengudara di antara deru napas keduanya.


"Dek, are you oke? Bisa nambah kecepatan?" bisik pria itu setengah serius. Namun, cukup santai dan sedikit candaan.

__ADS_1


"Hmm ... lanjutkan Mas," gumam perempuan itu nampak pasrah menerima hujaman cinta darinya.


__ADS_2