Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 76


__ADS_3

Seno tersenyum sambil meraih tubuh ramping istrinya. Membawa ke kamar mandi, lalu menurunkan dengan hati-hati.


"Udah, sana keluar, aku mau mandi," usir Wening tersenyum santai.


"Udah kadung di sini, nggak pengen dibantuin apa?" tawar pria itu senyum-senyum sembari menggarung tengkuknya salah tingkah.


"Kamu udah mandi Mas, jangan ngadi-ngadi, dan aku lagi nggak mood, beneran capek, jadi—solusi paling tepat kamu keluar!" usir Wening tersenyum. Paham betul dengan tatapan mata suaminya yang nakal.


Pria itu malah terkekeh, tanpa ragu mendekati istrinya yang menjerit lantaran Seno sedikit menariknya.


"Mas, jangan mesum! Akh ... geli!" Wening memekik sambil terkekeh saat Seno benar-benar nakal menerjang tubuhnya.


"Mas, bukannya udah mandi, nanti telat ke kantor, nggak capek apa gituan mulu."


"Kamunya mancing-mancing, nggak, ayo dong sayang. Sini aku bantuin," ujar pria itu tersenyum jail sambil merusuh.


"Ya ampun ... Mas!"


Pria itu tidak menjawab lagi, langsung membungkam mulutnya yang cerewet dengan bibirnya. *****@* lembut penuh gairah. Sesungguhnya Wening merasa lelah, namun apa daya, sepertinya percuma juga menolak, suaminya terus menerjang tubuhnya, memberikan sentuhan-sentuhan nakal yang membuatnya menggila.


"Aku nggak mau, di sini tidak nyaman," tolak perempuan itu memberi jarak. Berusaha menghindari tatapan dan sentuhan suaminya yang semakin liar.


Seno pun paham akan ketidaknyamanan istrinya yang memang masih awam. Dengan langkah perlahan kembali menggendong istrinya menuju ranjang dengan bibir mereka saling bertaut tanpa minat melepaskan.


Pertemuan tubuh mereka pun tak bisa dielak lagi. Keduanya melakukan petualangan manis dengan versi yang sedikit berbeda di pagi yang penuh limpahan kasih sayang ini. Setelah berhasil membuat gadisnya tak berdaya, Seno menggendongnya ke kamar mandi. Kali ini beneran untuk mandi, bahkan Seno membantu istrinya yang terlihat menahan rasa tidak nyaman di bagian sensitifnya.


"Sakit?" tanya pria itu demi melihat ekspresi wajahnya yang tak biasa.


"Kamu sih, pagi gini rusuh, nggak nyaman banget, sumpah ngilu, sedikit perih. Ah ... sesuatu," jawab Wening menggigit bibir bawahnya.


"Jangan gitu bibirnya, kamu mancing-mancing mulu."

__ADS_1


"Eh, astaghfirullah ... siapa yang mancing, terlalu kamu, Mas!" Wening menggeleng tak percaya.


Setelah mandi bareng yang cukup lama. Wening dan Seno saling membantu memilih pakaian. Perempuan itu masih memakai handuk sebatas dada dengan handuk kecil menggulung rambutnya. Lebih dulu melayani suaminya dengan membantu mengancingkan kemejanya.


Tatapan netranya yang pekat menatap penuh cinta. Membuat Wening sedikit grogi sambil mengancing satu persatu.


"Duh ... manis banget sih kaya gini, coba dari kemarin, kita pasti udah punya anak. Hehe."


"Mana bisa, aku kan masih sekolah. Udah, tinggal masang dasi," ujar perempuan itu memilih yang paling pas."


"Dek, kamu pakai baju dulu, nanti masuk angin, bikin salah fokus. Entar nggak jadi ngantor."


"Eh, iya, oke, siap Mas!" jawab perempuan itu langsung bergegas mengambil pakaiannya sendiri.


"Mau ke mana? Ganti di sini aja 'kan bisa, udah hafal luar dalam juga."


"Malu Mas," jawabnya sembari melesat. Entahlah, walaupun sudah buka-bukaan luar dalam, bagi Wening tetap kurang percaya diri bila harus berganti di depan suami. Berasa diperhatikan lebih dalam, yang endingnya bikin mati gaya.


"Dek, ini belum," ujar Seno masih sepertinya tadi, dasinya belum terpasang, sengaja menunggu sentuhan manja nan perhatian istrinya.


"Tadi ngapain aja, sini mendekat," ujar perempuan itu sedikit berjinjit memasang dasi dengan benar.


"Done! Rapih, ganteng, dan mesum!"


"Bonus, karena udah manis banget sambil ngatain." Seno menyambar bibirnya dalam satu kecupan.


"Dek, liburan yuk, biar banyak waktu berdua saja."


"Ke mana? Lagi repot gini emang bisa. Nunggu libur semester minimal."


"Masih lama, kapan ya bisa ngajak jalan yang beneran berdua gitu."

__ADS_1


"Kapan-kapan, jalani dulu aja yang penting tetap bareng," jawab perempuan itu sembari merapihkan mahkotanya.


"Sini aku bantuin nyisir," ujar pria itu saling membantu dan memanjakan pasangannya.


"Pengen aja ke mana gitu, nanti malam dinner, gimana?"


"Ah ... ide bagus, kamu so sweet sekali. Aku mau Mas," jawab Wening antusias.


"Oke, nanti malam ya," ucap pria itu memastikan.


Setelah rapi, keduanya keluar dari kamar. Menuruni anak tangga saling bergandengan.


"Kenapa senyum-senyum gitu sih, ada yang aneh?" tanya Wening melihat gelagat suaminya yang berseri-seri.


"Nggak, aku ngerasa bahagia aja, kita kaya lagi pacaran. Makasih udah bikin hariku indah."


"Emang lagi pacaran, 'kan? Pacaran versi halal," jawab Wening tersenyum.


Langkah kakinya menyusuri dapur, sengaja membuat kopi untuk Mas bojo tersayang. Usai sarapan, langsung bertolak dengan kesibukan masing-masing. Wening, diantar Wahyu menyerahkan surat pindah dan dokumen penting yang diminta oleh pihak kampus. Beruntung tidak harus mengulang berdasarkan transkrip nilai yang sudah berjalan.


"Semangat, Noning! Di rumah baru, di lingkungan baru!" ucap Wahyu setelah pamit.


Perempuan itu menatap sekeliling. Memastikan dengan benar gedung yang akan menjadi kelasnya selama semester ini. Walau harus beradaptasi lagi, setidaknya hal yang baru dijalani ini, membuat hatinya tenang. Beberapa teman nampak kaget dan merasa asing dengan kehadiran sosok Wening yang tetiba memasuki kelas mereka. Sebagian mengira senior mereka yang sengaja masuk untuk mengikuti materi karena ngefans sama dosennya. Sungguh ngadi-ngadi!


"Eh, kaya kenal!" ucap seorang mengamati Wening dari atas sampai bawah.


"Rajas!" pekik perempuan itu antusias


"Wening!"


"Ya ampun ... beneran kamu!"

__ADS_1


__ADS_2