
Seno memikirkan cara untuk membuat jadwal pertemuan dengan Afnan di Jakarta. Hari ini pria itu sudah harus pulang mengingat pekerjaannya sudah menunggu. Wahyu yang sore itu bertugas menjemputnya di Bandara pun nampak sumringah menyambut atasannya.
"Selamat datang kembali Pak dan Noning di Jakarta!" ucap Wahyu lalu membantu memasukan koper ke bagasi mobilnya.
"Hallo Om Wahyu, kangen nggak sama aku!" seru Wening yang membuat Seno mendelik tak percaya.
"Mau bilang iya takut pawangnya ngamukan. Hehe," jawab Wahyu setengah bercanda.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sampai di rumah mereka yang sudah hampir seminggu ini ditinggalkan.
"Yu, kamu atur schedule aku gimana pun caranya, kalau bisa buat juga istrinya datang. Nanti aku bakalan ajak Wening," ucap pria itu sebelum turun.
"Siap Boss, kurasa makan malam dengan trik penawaran kerja sama akan cocok, dengan menyambung tali silaturahmi bersama keluarga."
"Boleh juga ide kamu, sekalian kasih tahu biar bocah sok keren itu nggak lagi deketin Wening. Sekali menyelam, dua tiga pulau terlampaui," ujar Seno merasa penuh strategi.
"Kita mainkan saja, apa yang mereka tanam harus mereka panen, bukan?"
Seno masuk ke rumahnya menyusul Wening yang sudah lebih dulu melesat.
"Barang Wening langsung taruh di kamar utama saja," titah Seno sembari berjalan.
"Sudah baikan, 'kah? Nggak ada acara pisah ranjang lagi?"
Seno mendelik tajam menyorot asistennya yang selalu cerewet di setiap kesempatan itu.
"Memangnya kapan aku berantem? Kita selalu romantis, apalagi di kampung, dia sangat penurut dan manis," jawabnya sembari mengingat kejadian-kejadian yang tanpa sengaja membuat kenangan indah di antara keduanya.
"Syukurlah, roman-romannya cukup sejahtera!" ujar Wahyu mengerling.
"Nggak jelas kamu, cepetan gih bawa ke atas," titahnya tak sabaran.
"Kalau udah selesai, pulang sana!"
__ADS_1
"Dengan senang hati," jawabnya selalu cengengesan.
Seno masuk ke kamarnya, sepertinya Wening kembali ke kamarnya dulu lantaran di ruangan itu tidak ada. Benar saja, saat Seno masuk, Wening tengah beraktivitas di kamar mandi.
Pria itu sengaja menunggunya sembari meneliti ponselnya. Menyender santai di tembok dekat pintu kamar mandi.
"Mas, kurang kerjaan banget nungguin di sini? Kenapa?"
Seno tidak menjawab, memperhatikan istrinya tanpa berkedip. Gadis delapan belas tahun itu terlihat begitu seksi.
"Mas! Melamun lagi, ngapain di situ?"
"Nungguin kamu, Dek, duh ... bikin mupeng," ujar pria itu mengusap tengkuknya salah tingkah.
Semenjak Seno mengospek istrinya, Wening tidak lagi kagetan, bahkan sedikit biasa saja saat pria itu menikmati tubuh setengah polosnya yang berbalut handuk.
"Keluar sana, aku mau ganti," usir Wening dingin.
"Belum sembuh ya?" tanya pria itu cengengesan.
"Dih ... galak banget, perasaan di Jogja tuh manis banget."
"Mandi Mas!" salaknya melirik datar.
"Siapin airnya, mandiin juga boleh," guraunya penuh harap.
"Aku ganti dulu," ujar perempuan itu masuk ke kamar mandi lagi setelah menarik baju tidur dari lipatan lemari.
Seno membuka kausnya sembari berjalan ke kamarnya. Melepas begitu saja lalu duduk di bibir ranjang menanti istrinya.
"Dek!" teriak pria itu tak sabaran. "Lama banget sih, ngapain aja?" pekik Seno dari luar kamarnya.
"Ya ampun ... kenapa harus teriak-teriak sih, sabar kalau mau apa-apa diurusin tuh, aku baru kelar nyisir rambut juga," keluh Wening tergesa.
__ADS_1
Perempuan itu langsung menuju kamar mandi, menyiapkan air sesuai suhu yang diinginkan. Tiba-tiba pria itu masuk dengan percaya diri mengunci pintunya.
"Eh, eh, ngapain?" kata perempuan itu menatap waspada.
"Sebelum mandi pemanasan dulu, ayo!" ujar pria itu tersenyum tanpa kompromi.
"Mas, jangan ngadi-ngadi deh, aku lagi nggak mood becanda, please ... capek dan lagi udah mandi," tolak perempuan itu melarikan diri.
Seno menariknya, lalu menahan kekasih halalnya agar tidak keluar. Sumpah demi apa, mempunyai suami dewasa semeresahkan ini.
"Dek, bantuin?"
"Nggak mau," tolaknya cepat.
"Kalau nggak mau aku kurung di kamar mandi aja ya, ayo dong, pinter istriku yang cantik."
"Nggak cantik nggak pa-pa, masih banyak yang suka kok, nggak harus banget kaya gini." Wening menggeleng resah, nampaknya Seno tak begitu peduli, ia mengambil tangan istrinya untuk menuntaskan kepuasan dirinya. Membuat perempuan itu pasrah dengan tingkah kemesuman suaminya.
"Makasih," jawabnya menatap puas bonus senyuman. Wening tidak menyahut, keluar kamar mandi lebih dulu setelah bersih-bersih. Disusul Seno yang mandi cukup dengan durasi kurang dari delapan belas menit saja.
"Mulai malam ini tidur di kamar sini, Dek, nggak ada acara pisah kamar segala."
"Hmm," jawab gadis itu penurut.
Semenjak pulang dari Jogja, keduanya terlihat makin harmonis dan akrab saja. Seno langsung sibuk ngantor dua hari ini, sementara Wening tidak banyak kegiatan selain mempersiapkan ujian untuk masuk kuliah. Sembari menunggu hasil kelulusan tentunya.
"Dek, pakai ini, kurang dari setengah jam kamu harus sudah rapih," ujar pria itu sembari menyodorkan paper bag ke tangannya.
"Apa ini?" tanya gadis itu sembari mengintip isinya yang ternyata gaun malam nan indah.
"Mas, kenapa harus pakai ini, kita ada acara ke mana?"
"Acara jamuan makan malam, kamu harus tampil beda sebagai istri dari Seno Ardiguna."
__ADS_1
"Ada-ada saja, heran sama nih orang, seneng banget gitu apa-apa dadakan. Yakali setengah jam, kalau harus all out, 'kan harusnya ngabari dari pagi biar nyalon dulu. Emang dasar nggak jelas, nasibmu Ning punya bojo dadakan. Otaknya juga instan, semoga cintanya nggak karbitan, langgeng sampai maut memisahkan!"