
Setelah perjalanan udara kurang lebih satu setengah jam, mereka sampai di Jogja. Tepatnya di sebuah desa, keduanya memakai taksi untuk sampai di kediaman orang tua Wening. Suasana yang masih begitu hijau, dengan deretan persawahan kanan kiri. Membuat gadis itu tersenyum menatap ilalang di pinggiran jalan.
"Kamu udah ngabarin orang rumah?"
"Sudah, tapi sedari tadi nggak dibalas, bahkan WA aku masih centang satu. Mas bilangnya mepet banget, jadi maaf kalau ibu sama bapak nggak persiapan apa pun."
"Bukan gitu maksud aku, ini bener nggak tempatnya, nanti salah rumah," ujar pria itu kurang yakin.
Rumah sederhana dengan bangunan tetap berlantai keramik. Mungkin tidak lebih dari ukuran kamar pria itu.
Wening tahu, mungkin Seno merasa tidak nyaman di lingkungan yang baru ditemui. Berbeda dengan Wening yang tidak begitu peduli, tempat bisa kompromi yang penting bersih.
"Assalamu'alaikum ....!" Suara salam keduanya disertai ketukan pintu. Membuat dua orang itu harus menunggu karena belum ada sahutan.
"Ibu mana ya kok lama?" tanya Wening mulai resah.
Nampak dari arah belakang seorang ibu baru saja pulang dari kebun. Tersenyum kaget melihat kedatangan putrinya yang sama sekali tak terduga.
"Wening!" panggil Bu Ana dengan wajah terkejut dan bahagia.
"Ibu, Wening pulang," ujarnya berhambur dalam pelukan.
"Ibu dari mana? Bapak mana, Bu, Mbak Rara?"
"Ibu dari ladang, bapak masih belum pulang. Kenapa pulang nggak ngabarin?"
"Maaf Bu, mendadak," jawab Wening masih memeluknya.
"Ibu kotor, mandi dulu, kamu masuk, ajak suamimu masuk," ujar Bu Ana menyambut menantunya.
"Assalamu'alaikum Bu ... maaf baru bisa datang sekarang," ujarnya sopan, seketika membuat Wening menatap lega. Takut pria itu akan bersikap ketus juga dengan orang tuanya.
"Waalaikumsalam ... ayo masuk, maaf nak Seno, tempatnya kaya gini, jauh dari kata nyaman," ujarnya sungkan.
Wening masuk dengan Seno membawa kopernya. Bu Ana langsung ke belakang bersih-bersih, mendadak sibuk.
"Aku buatin minum dulu ya," pamit Wening menyusul ibunya ke belakang.
__ADS_1
Seno hanya mengangguk sebagai respon, duduk di sofa usang dengan tubuh kegerahan pastinya.
"Buk, aku bikin minum ya? Mbak Rara ke mana?" tanya Wening tidak menemukan kakaknya.
"Belum pulang, kerja nggak jauh kok dari sini, di butik sebrang."
"Udah hamil besar tetep kerja ya Bu?" tanyanya tak percaya.
"Kemauan dia sendiri, nanti aku kabari, bagaimana keadaan kamu di sana? Ujian kamu?"
"Udah selesai dari kemarin Buk, belum pengumuman, sebentar lagi mau ujian masuk kuliah. Do'ain ya Bu diberi kelancaran," pintanya sungguh-sungguh.
"Aamiin ... pasti. Ibu cari sesuatu dulu di warung depan, kasihan nggak ada apa -apa."
"Eh ya, ini kamar nganggur, kamu nanti istirahat di sini, barang bawaan bisa masukin aja."
"Iya Bu, terima kasih," ujarnya sambil mengamati perabot yang ada di rumah. Tak jauh beda dengan rumah yang dulu, cuma ini agak kecil saja, tapi tetep alhamdulillah kedua orang tuanya masih tinggal di rumah yang bisa ditempati. Tidak terlalu buruk untuk Wening yang memang sebelumnya terbiasa hidup di lingkungan kampung.
"Aku mau kamar mandi, di mana?" Seno menyusul masuk.
"Kamu kenapa?"
Wening membawa dua gelas teh dingin ke meja, setelahnya menarik koper ke kamar yang tadi ditunjuk ibu. Sedikit bingung saat mendapati ranjang yang begitu minim, bisa dipastikan muat untuk satu orang, tetapi kalau untuk dua orang, mungkin terlalu sempit.
Seno kembali ke ruang tamu, sementara Wening menyiapkan tempat istirahat. Mengganti sprei dengan yang bersih mengambil dari lemari. Serta membuka jendela yang tadinya ditutup rapat.
"Mas, itu kamarnya udah aku bersihin, barang kali pingin istirahat dulu," ujar Wening perhatian.
"Pengen mandi, gerah," ujarnya lagi-lagi kepanasan.
"Ya mandi aja," jawabnya seraya kembali ke kamar.
Seno langsung membuka kemejanya begitu sampai di bilik mungil yang cukup sederhana. Membuat Wening yang tengah mengeluarkan ganti dari koper langsung protes menatapnya.
"Jangan dibuka di sini, kamar mandinya kan di luar, ada ibu sama Mbak Rara loh," protesnya kembali memakaikan baju ke tubuhnya. Seno hanya terdiam diperlakukan sama istrinya seperti itu.
"Ribet banget," gerutu pria itu ngedumel tapi menurut.
__ADS_1
"Ini gantinya dibawa sekalian, nanti langsung ganti di dalam kamar mandi," pesan gadis itu lagi seraya menyampirkan handuk ke pundaknya.
"Udah sana, sok mandi, di sini adanya air bak, jadi jangan rewel," ujar Wening mewanti-wanti.
"Cerewet," jawab pria itu keluar dari kamar. Seno langsung ke kamar mandi yang terletak di sebelah dapur.
Saat Wening hendak beranjak, ibu nampak pulang diikuti bapak di belakangnya membawa seabrek belanjaan.
"Bu, belanjanya banyak banget. Pak, sehat, Wening kangen," ujar gadis itu menyalim takzim ayahnya.
"Alhamdulillah ... Nak, seneng banget kamu datang. Suamimu mana?"
"Lagi mandi Pak, Bapak mau pakai kamar mandi?"
"Gampang nanti saja, Bapak masih mau bantu ibu nyiapin ini," ujarnya menunjuk kelapa yang terdampar di lantai dapur belum dikupas.
Sepertinya ibu masak banyak dan enak menyambut menantunya yang dari kota. Perempuan yang tak lagi muda itu bersemangat sekali memasak. Sementara Seno sudah selesai mandi dan langsung menyapa ayah mertuanya. Setelahnya kembali ke depan cari angin serta terlihat memiring-miringkan ponselnya, sepertinya cari sinyal.
"Ning, kamu temani suami kamu saja Nak, ajak ngobrol atau apa biar nggak sendirian, biar ini ibu yang masak," ujar Bu Ana pengertian.
"Tapi ini banyak banget Bu, jadi ngrepotin, mana Wening nggak bawa oleh-oleh apa pun, Mas Seno mendadak banget ngabarinya, tahu-tahu udah pesen tiket."
"Nggak pa-pa, Ibu nggak butuh oleh-oleh kamu mau pulang aja Ibu udah seneng," jawabnya cukup mengharukan.
"Aku ke depan bentar ya Bu, lihat Mas Seno," ujarnya sambil menenteng air kelapa.
"Mas, mau nggak? Seger loh panas-panas gini?" tawar Wening menyodorkan segelas air kelapa.
"Apaan kok bening keruh gitu," ujarnya bingung.
"Air kelapa Mas, seger ini, kalau nggak mau ya udah, aku minum sendiri," ujar gadis itu kembali masuk. Meletakkan di atas meja begitu saja, siapa tahu suaminya berubah pikiran dan tertarik untuk mencobanya.
Seno ikut masuk dengan wajah murung, sepertinya ia susah menghubungi orang rumah.
"Di sini sinyal langka, nanti ganti kartu buat sementara biar internetnya lancar," ujar Wening memberi ide.
Pria itu nampak diam mendudukkan diri di sofa, tangannya terulur begitu saja meraih gelas air kelapa yang tadi Wening tawarkan, pria itu meminumnya dengan lahap, membuat gadis itu tersenyum geli.
__ADS_1
"Katanya nggak mau, kok dihabisin," celetuk gadis itu hingga membuat Seno tersedak. Sontak membuat Wening mendekat lalu menenangkan.
"Sorry, pelan-pelan saja Mas," ujarnya seraya mengelap mulut pria itu dengan tangannya. Membuat keduanya begitu dekat.