Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 55


__ADS_3

Masih speechless dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Benar-benar baru untuk Wening yang membuatnya bingung, malu dan geli sendiri. Pria dewasa ternyata emang semeresahkan itu.


Seno sendiri baru saja mandi dengan wajah sumringah sembari mengeringkan rambutnya. Menatap perempuan yang nampak malu-malu menggemaskan itu.


"Kenapa diem aja, mau nonton lagi," seloroh pria itu tersenyum penuh arti.


"Apaan sih," jawabnya dengan wajah kembali memanas. Berusaha menghindari suaminya yang terus menggodanya.


"Dek, sekarang jelasin sejelas mungkin. Kenapa kamu ngomong gitu ke Afnan, katanya nggak kenal cuma pernah ketemu aja, kok perdebatan kalian seperti sudah akrab saja."


"Akrab dari mananya, orang lagi kesel juga," jawab Wening kembali sewot.


"Oke, bisa jelasin kenapa kesel? Kenapa juga Afnan harus tanggung jawab, maksudnya apa?" tanya Seno penuh selidik.


"Mas janji dulu jangan marah."


"Soal?" tanya Seno masih belum paham.


"Apa pun yang bakal aku ceritain nggak boleh marah."


"Tergantung, kalau salah ya marah. Apalagi ngelanggar, udah pasti dobel hukuman."


"Kaya tadi?" tanya Wening tak percaya.


"Lebih lah, bodo amat mau kamu nolak juga maksa."


"Ikh ... nggak jadi cerita kalau gitu, enak di kamu nggak enak di aku."


"Kata siapa? Kamu juga nikmatin kok," ujarnya yakin.


"Dasar mesum!" cibir gadis itu membuang muka malu.


"Biarin, yang dimesumin juga halal, apanya yang salah."


"Otak kamu yang salah, ngajarin gini amat. Pingin getok kepalanya kok ya sayang. Mbohlah meresahkan!"


"Eh, eh, kok ngambek, emang gitu konsepnya. Janji deh nggak bakalan marah, cepet jelasin!" ujarnya tak sabar.

__ADS_1


"Janji dulu nggak marah!"


"Iya janji!" jawabnya yakin.


"Beneran ya, kalau marah aku mau balik ke rumah ibu, dan mau kuliah di Jogja."


"Aku seret pulang!" jawab pria itu dengan entengnya.


"Mas, cinta nggak sama aku?"


"Iya, cepet jelasin Dek!"


"Jawabnya nggak ikhlas banget." Wening kembali mrengut.


"Astaghfirullah ... harus banget diungkapin. Udah dijawab, emangnya peringai aku masih kurang buat nunjukin kalau aku peduli, sayang, berusaha buat kamu nyaman."


"Kurang maksimal, kayaknya berat gitu bilang aku cinta kamu!"


"Aku juga cinta kamu," jawab Seno tersenyum.


"Kamu barusan nembak aku loh Dek, berani bener."


"Iya, iya, Wening Sayang, tolong jelasin!" tekan Seno gemas.


"Jadi waktu itu aku nemuin foto Mbak Rara di buku Yuda. Karena saking keponya aku ngintilin. Hehehe."


"Dasar centil," potong Seno cepat.


"Eh, enggak lah. Kalau ngatain nggak jadi cerita."


"Dek, jangan bikin naik darah, habis entar kamu aku gemesin."


"Iya, iya ... nakal banget ya ampun ....!" Wening begidik ngeri membayangkan hampir muntah akibat ulah suaminya yang sedikit memaksa. Walaupun akhirnya berhasil membuat pria itu tersenyum puas, tentu saja itu kerja keras yang bahkan tidak bisa hilang dari otaknya saat ini.


"Lanjut ya?" ujarnya menceritakan dengan detail kecurigaan gadis itu pada Afnan berdasarkan informasi dari Yuda yang masih ambigu."


"Please ... jangan marah, sebaiknya jangan nuduh dulu, orang Mbak Rara juga nggak mau terus terang, entar salah paham, bahaya, timbulnya fitnah!"

__ADS_1


"Oke, kamu nggak perlu khawatir, nanti bakalan aku temuin langsung si Afnan."


"Mas kok emosi, atau jangan-jangan masih cinta ya sama Mbak Rara!" tuduh Wening giliran meminta penjelasan suaminya.


Seno terdiam, tidak menyangka ekspresi wajahnya langsung diartikan berbeda oleh istrinya. Bahkan berspekulasi sendiri yang pasti menyebabkan salah paham.


Tentu saja Seno kesal kalau itu benar-benar faktanya. Entah siapa yang memulai, sebuah pengkhianatan atau kesalahan yang disengaja. Mengingat keduanya partner kerja dalam satu kantor.


"Mas, are you oke?" tanya Wening harap-harap cemas.


"Aku butuh sendiri, keluar sebentar ya?" ujar pria itu tanpa menjelaskan.


"Tuh kan marah, kayaknya emang masih cinta. Kaya gitu kok mau ngasih harapan ke aku, bikin kesel aja. Mending juga aku pulang, percuma ditinggalin di hotel sendirian. Dasar om-om modus nggak berperasaan!" gam Wening benar-benar salah mengartikan.


Seno mungkin terlalu shock dan merasa kecewa. Walaupun sudah tidak ada rasa yang tertinggal, tetap merasa sakit kalau pada akhirnya tahu sahabatnya sendiri yang menyebabkan kehancuran pernikahannya.


"Kok kamu berkemas, mau ke mana?" tanya Seno balik ke kamar. Sadar telah melakukan satu kesalahan dengan meninggalkan istrinya begitu saja tanpa kejelasan perasaannya.


"Pulang ke rumah ibu, Mas, besok kalau mau pulang hati-hati! Aku sudah memutuskan—"


"Memutuskan apa? Suka banget bikin asumsi sendiri. Kita pulang bareng!" ralat Seno mempertegas dan jelas.


"Om Afnan itu sudah punya istri, kecil kemungkinan untuk bertanggung jawab sementara Mbak Rara butuh suami dan ayah dari bayinya. Kamu masih cinta, dan Mbak Rara juga masih cinta, kayaknya aku emang cuma sebagai istri pengganti dan saatnya aku tahu diri," ucapnya yang membuat Seno tercengang.


"Kamu ngomong apa sih, apa pun alasannya, biar Afnan yang bertanggung jawab kalau memang dia. Aku udah nggak ada perasaan apa-apa," jawabnya yakin.


"Itu masih peduli, gelagat kamu menunjukkan kalau kamu masih begitu peduli."


"Anggap saja itu peduli terhadap kakak ipar. Tidak lebih, kalau aku mau bertanggung jawab, kenapa tidak dari dulu aja, nggak harus libatin kamu, 'kan? jadi jelas, aku udah nggak cinta, kalau sisa sayang dan peduli mungkin masih ada, kasihan hamil besar gitu nggak ada suaminya."


"Tuh kan, kamu kalau udah kasihan besoknya bisa-bisa dinikahin!"


"Astaghfirullah ... mana boleh nikahin adik kakak Wening Sayang. Aku nggak akan nikah lagi sama siapa-siapa, paham!"


"Belum, kamu nggak jelas!"


"Apanya yang kurang jelas, udah, jangan debat, biar nanti kita cari tahu kebenarannya sama-sama. Kita bantu kakak kamu buat ngaku, supaya jelas dan kita bisa bawa laki-laki itu untuk bertanggung jawab."

__ADS_1


"Nah ... ini baru waras, jangan membuatku tak percaya!"


"Astaghfirullah ... aku sehat! Waras, tapi bisa gila beneran kalau kamu nggak paham-paham dan ngambekan kaya gini!"


__ADS_2