
Wening meronta kesal, mencoba meloloskan diri dari cengkraman suaminya yang makin kuat.
"Sa-kit ... Mas!" desis gadis itu mencoba melepaskan diri. Terlihat jelas gambar jari tangan membekas di lengannya.
Seno tentu tidak berniat menyakiti istrinya. Pria itu langsung melepaskan dengan rahang mengeras menahan kesal. Sepertinya pria itu butuh kejelasan, atau benar-benar akan menumpahkan kekesalannya lantaran kecewa dan tentunya sakit hati bercampur cemburu buta.
Wening langsung melesat kembali ke kamarnya begitu cengkraman itu terlepas. Sementara Seno mengacak rambutnya frustrasi. Kesal bukan main menghadapi gadis berstatus istrinya yang susah diatur.
Mungkin kemarin Wening masih bisa tahan dan ingin memulai mencoba berdamai dengan keadaan, tapi semangatnya hari ini telah sirna berganti dengan angan. Dari awal kedatangannya yang tak pernah diharapkan, semakin yakin melangkah pergi hari ini juga.
Gadis itu mengusap buliran bening di pipinya dengan kasar. Lalu beranjak menyambar tas sekolahnya. Ia mengisi jadwal untuk besok, seragam, dan juga satu baju ganti. Wening sudah tidak tahan lagi, minggat adalah solusi di pikirannya saat ini.
Seno menyusul ke kamarnya, melihat istrinya mengemas baju ke tas membuatnya semakin murka dan salah arti.
"Mau ke mana? Seharian pergi belum puas! Atau mau ngikutin pria itu lagi!" bentaknya semakin emosi.
"Mau cari tempat di mana aku dihargai!" jawabnya jengkel sekali.
"Berapa harga dirimu? Nggak sadar diri dari mana kamu berasal, kamu pikir keluar dari rumah ini menjadi kamu lebih baik?"
Wening yang hampir beranjak tersenyum sinis, mengumpat dalam hati. Lalu tetap melenggang tak peduli. Bodo amat dengan suaminya, dengan pernikahannya, ia terlanjur luka dikata-katain.
"Aku akan buat perhitungan kalau kamu sampai berani melangkah keluar!" ancam Seno benar-benar murka.
Wening tidak peduli, terlanjur sakit hati. Ia tetap melangkah pergi, bahkan seandainya tidak jadi membina rumah tangga pun Wening sedari awal tidak menaruh harapan, ia cukup sadar diri dan mengerti.
"Ning!"
"Ning!"
Seno berlari menarik tas punggungnya hingga gadis itu oleng hampir terjatuh. Lalu melempar tas itu asal hingga ke sudut tembok, membuat Wening menatap marah.
"Masuk! Terakhir kali aku masih bisa sabar, atau kamu mau aku paksa!" geram pria itu menekan sabar.
Wening terdiam menyorotnya dengan kesal. Apa maunya pria ini, kenapa apa pun harus menuruti keinginannya. Jiwa mudanya jelas memberontak.
__ADS_1
"Om jahat! Jahat! Aku benci!" kesal Wening berlari kembali ke kamarnya. Gadis itu membanting pintu, mengunci lalu menangis sesenggukan di sana. Rasanya ingin pulang ke rumah ibu, ia tak tahan hidup dalam bayangan suaminya yang terlalu mendominasi.
"Akh ....!" jerit Seno kesal sendiri. Seketika ia seperti dipermainkan dan lebih parahnya ia tak paham cara menyikapi.
Pria itu masuk ke kamarnya dengan perasaan marah, kesal, dan kalau sudah begini sulit untuk Seno menenangkan diri. Pria itu pun menghubungi Wahyu untuk menjemputnya.
"Ada apa Boss?" sapa pria setahun lebih muda di sebrang sana.
"Jemput sekarang! Aku butuh keluar," titah Seno terdengar ketus seperti sedang marah.
"Siap Boss!" jawab Wahyu bergegas.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, asistennya itu sudah di depan rumahnya.
"Ke mana Boss?"
"Yang penting jalan, males di rumah," jawabnya sewot.
"Istri Anda ditinggal?" tanya pria itu lagi sepertinya bosan hidup.
"Emang barang suruh bawa-bawa!" sahutnya ketus.
"Nggak! Dan jangan tanya lagi!" sentaknya galak.
"Owh oke, siap Boss!"
Mobil melaju membelah kota Jakarta, hari sudah malam dan ini terhitung sudah putaran yang ketiga. Membuat Wahyu merasa harus menghentikan tingkah konyolnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Seno sengit.
"Maaf Boss, ini sudah putaran mau ke empat kali di area sini. Sebenarnya Boss mau ke mana? Sepertinya galau berat?" tanya Wahyu tak tahan lagi.
"Ke bar saja lah, aku malas pulang," ujarnya penuh solusi.
Sudah lama Seno tidak mencicipi minuman anti halal itu. Terakhir setelah pernikahannya dengan Rara gagal dan diganti Wening. Mengingat gadis itu membuatnya bertambah sakit kepala dan kesal saja.
__ADS_1
Wahyu yang hanya mendapat perintah langsung melajukan mobilnya ke suatu bar. Pria itu melampiaskan kekesalannya dengan bermabuk ria. Setelah puas hingga sempoyongan tak tahu arah. Wahyu segera mengajaknya pulang, ia bertugas menjaga bosnya dari perempuan-perempuan binal yang sengaja menggodanya.
Hampir pukul dua belas malam mobil Seno sampai di halaman rumahnya. Pria itu memapah atasannya untuk dipulangkan. Suara bel yang berbunyi tak juga membuat Wening beranjak dari kamar. Wahyu mencari cara untuk masuk, karena ternyata pintu itu terkunci dari luar. Seno sengaja menguncinya sebelum berangkat. Setelah merogoh saku celana bosnya, pria itu menemukan kunci terselip di sana.
Wahyu memapah hingga ke lantai atas. Mengetuk pintu berkali-kali ke kamar Wening tak ada sahutan. Membuatnya hampir putus asa.
"Ning, ini Boss mabuk, coba buka pintunya sebentar, tolong kerja samanya!" seru Wahyu bersabar diri walau sedikit kesal juga lantaran lama tak ada sahutan.
Wening yang memang belum tidur dan malas keluar mengabaikan cukup lama. Sampai akhirnya memutuskan turun dari ranjang mendengar suara Wahyu hampir putus asa.
"Om, kenapa repot-repot bawa ke kamar Wening. Kamar Mas Seno di sebelah," ujarnya menatap datar.
"Kalian—pisah kamar?" tanya Wahyu tak percaya. Wening mengangguk datar.
"Tolong bantu bukain dong, biar aku memapah suamimu."
"Apa Mas Seno selalu mabuk begini setiap kali merasa ada masalah?"
"Hanya yang menurutnya berat saja, boss bukan orang yang suka menghabiskan waktu di luar tanpa faedah. Sepertinya ia punya masalah besar? Kalian berantem?"
Wening mengangguk jujur, gadis itu memang polos sekali. Walaupun tidak berniat membicarakan dengan Wahyu, tetapi ia mengaku kalau terjadi pertengkaran di antara keduanya.
"Saya pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telepon saja, titip boss Seno, Ning," pamit Wahyu setelah merebahkan bosnya di kasur.
Wening menatap datar dari atas sampai ke bawah. Penampilan Seno yang teramat berantakan disertai bau alkohol yang begitu menyengat. Ia masih begitu kesal dan tidak mau peduli, namun hati kecilnya merasa terpanggil untuk mengurusi.
"Ish ... dasar om suami nyebelin, tukang ngatur, otoriter, galak, arogan, dan sekarang malah mabuk! Apa bagusnya kamu!" dumel gadis itu seraya mengurusinya. Melepas sepatunya, lalu mengganti pakaiannya sebisanya. Mengelap wajahnya yang lusuh nan berantakan.
"Aku masih kesel ya, benci juga, jadi anggap saja ini tidak berarti apa-apa. Kalau bangun nanti anggap saja kita orang lain, aku terlanjur sakit hati!" gumam Wening terus mengomel.
Setelah merasa sudah selesai mengurusi kang suami arogannya, Wening menyelimuti dengan nyaman. Ia hampir beranjak ketika sebuah tangan menariknya hingga membuat gadis itu terjerembab ke dalam pelukan.
.
Tbc
__ADS_1
Gaes sambil nunggu novel ini up mampir ke cerita teman aku yuk!