
Gadis itu terdiam sedih masuk ke kamarnya lagi. Mendadak ia seperti di penjara. Harus mengikuti semua aturan yang ada dan tidak boleh ke mana-mana. Mungkin kemarin Wening masih punya cukup hiburan lantaran sekolah dan sibuk belajar. Tetapi sekarang ia hanya di rumah saja menunggu hasil ujian, tentu tidak ada kegiatan menjadi sangat membosankan.
Hari-harinya hanya bolak-balik buku bacaan untuk persiapan masuk perguruan, tapi yang namanya di rumah aja itu tetep bosen. Jujur, ia merindukan kebebasan seperti dulu, di mana pulang sekolah tidak harus tepat waktu, main ke sana kemari pun tidak ada yang melarang asal sore sudah pulang ke rumah. Sungguh Wening rindu suasana kampung yang benar-benar mengeksplor dirinya.
Seketika gadis itu merasa sedih, apalagi belakangan ini telepon orang rumah sering sekali tak terhubung. Mbak Rara juga bagai menghilang di telan bumi. Chatnya tidak pernah dibalas, teleponnya tidak pernah diangkat. Apa salah Wening?
Perempuan itu menarik selimutnya dengan kasar. Menyusut air matanya yang menggenang. Sendiri tiada berkawan, hanya hiburan lewat ponsel pintarnya atau laptop saja yang kadang membuatnya sedikit lebih berwarna.
Sembari rebahan sengaja memainkan ponselnya, di grub nampak ramai. Beberapa teman memberikan ucapan selamat untuk Yuda. Rupanya pria dingin itu lolos SNMPTN. Dia memang pintar, walau sedikit menyebalkan.
Jemarinya tergerak mengucapkan sesuatu. Hanya sekedar rasa bangga terhadap teman, bahkan dirinya termasuk mendaftar SNM, dan hasilnya pun zonk.
"Congrats, Yud."
Hampir lima menit pria itu memberi balasan.
"Thanks, Ning. Never ever give up. See you there."
Wening tak membalas lagi, kalau teman-teman yang lainnya tengah sibuk memilih perguruan tinggi terbaik, mengapa ia malah bingung melewati hari. Yang kadang tidak bisa diinginkan sendiri.
Sementara Seno baru pulang kerja agak malam. Pria itu akhir ini cukup sibuk.
"Bi, Wening udah makan?" tanya Seno pada asisten rumah tangganya. Pria itu baru pulang lembur.
"Tidak keluar dari tadi sore, Tuan, sudah saya ketuk pintunya tapi tidak ada sahutan. Sepertinya tidur," ujar Mbok Inah sopan.
"Owh oke, makasih Bi."
"Siap Tuan, Tuan mau makan atau ngopi mungkin?"
"Saya udah makan di kantor tadi, nggak usah Bi, nanti aku bikin sendiri aja," ujarnya seraya melangkah menuju undakan tangga.
Ada rasa kasihan karena beberapa hari mengabaikan istrinya. Lebih tepatnya ia sengaja lembur demi menyelesaikan waktunya dengan cepat. Pria itu sudah berencana ingin mengambil cuti agak lama sekalian liburan saat mengantar istrinya nanti.
Seno malam ini begitu gelisah, ia bahkan tidak bisa tidur. Biasanya ia akan melihat pekerjaannya untuk mengalihkan pikirannya. Tetapi kali ini sepertinya otaknya sudah terlalu lelah. Ia butuh ketenangan. Mendadak ia begitu rindu suasana hangat, apalagi hampir sebulan ini mereka tidur terpisah. Hanya berbicara seperlunya saja, hubungan macam apa ini?
Diam-diam pria itu menyelundup masuk ke kamarnya. Wening nampak sudah tertidur, di atas meja belajar cukup berantakan dengan beberapa lembaran kertas jadwal belajar yang sengaja ia buat sendiri di kertas A3.
Seno menatap kartu tanda peserta SBMPTN dengan masygul, sepertinya istrinya telah mengikuti pendaftaran lanjutan. Kemudian menaruhnya kembali ke tempat semula, dekat laptopnya.
__ADS_1
"Maaf, udah merenggut waktu remaja kamu," bisik pria itu ikut merebah di sampingnya.
Suasana yang begitu ia rindukan, refleks mencium keningnya. Sedikit khilaf turun ke pipi dan berakhir ke bibirnya, hingga membuat perempuan itu sedikit terusik. Tidak sampai terbangun juga, membuat pria itu kembali mendekapnya dengan sayang.
Pagi harinya Wening cukup kaget saat membuka matanya menemukan suaminya tertidur di sampingnya. Ini sudah lumayan siang kenapa pria itu belum juga bangun, apakah tidak mau kerja. Dengan sedikit bingung, Wening membangunkan suaminya.
"Mas, bangun? Nggak kerja apa?" tanya perempuan itu seraya menggoyang bahunya.
"Udah pagi ya," ujar Seno terjaga.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Wening tak mengerti.
"Ada yang salah? Saat suami istri tidur seranjang?" tanya pria itu dingin.
"Nggak sih, kamu nggak ngantor?"
"Nggak, kamu siap-siap ya, aku udah pesan tiket pesawat buat nanti jam sepuluh," ujarnya santai. Berlalu begitu saja keluar kamar menuju kamarnya.
"Eh, maksudnya ini aku dibolehin pulang kah?" batin Wening bertanya-tanya. Seketika ia bersorak senang langsung melesat ke kamar mandi.
Seno tersenyum sendiri mendengar pekikan istrinya dari balik pintu.
Dasar bocil! batin pria itu menggeleng dengan senyuman.
"Udah selesai belum prepare-nya? Langsung turun aku tunggu di bawah."
"Bentar, lagi ngemas baju dikit lagi," ujarnya sibuk sendiri. Tidak ada ngomong apa pun tiba-tiba langsung oke saja, sungguh bikin termor saja, memang suaminya itu penuh dengan kejutan.
"Nggak usah banyak-banyak, Dek, aku cuma libur sebentar, masih terbagi di dua tempat," ujarnya memperingatkan.
"Berapa hari?" tanya Wening memastikan. Ia tentu tidak mau cepat-cepat pulang.
"Satu minggu, tapi di tempat kamu tiga hari," ujar pria itu sudah mengatur waktunya sedemikian cermat.
Rasa semangat kembali sirna, tiga hari saja, yang benar saja. Ia sudah berbulan-bulan menanti ini dan cuma dikasih waktu tiga hari? Sungguh membuatnya kembali tidak bersemangat. Sayangnya tidak berani protes, sudah diizinkan saja membuatnya begitu bahagia luar biasa.
Eh tunggu-tunggu!
"Mas ikut?" tanya Wening memperjelas.
__ADS_1
"Menurut kamu, aku membiarkan kamu pulang sendiri? Apa kata orang tuamu nanti."
"Makasih, walau cuma sebentar."
"Kenapa? Memangnya minta berapa hari?" tanya pria itu sedikit kesal.
Wening terdiam, perdebatan sampai di sini atau semua akan gagal pulang lantaran ngamuk lagi.
"Duh ... senengnya yang mau mudik, jangan lupa pulang bawa ponakan ya?" seloroh Wahyu tersenyum. Tentu saja membuat Wening bingung.
Keponakan? Apa maksudnya?
Wahyu membuka bagasi mobilnya membantu mengemas koper. Siap berangkat dengan seabrek tugas kantor yang dilimpahkan padanya tentunya selama pria itu absen.
"Rencana mau lanjutin ke mana Noning?" tanya Wahyu mengisi perjalanan mereka ke Bandara. Memecah keheningan yang sedari tadi tercipta.
"Daftar tiga sih, ambil yang lolos pastinya. Hehe."
"Wah ... banyak bener, mana aja?" tanya Wahyu yang juga mewakili rasa penasaran Seno tentunya.
"Jakun, Ganapati, sama Jogja sih kalau keterima," jawab Wening yang seketika membuat Seno tentu tidak tenang.
"Wah ... keren semua, semoga lolos ya," ucap Wahyu menyemangati.
"Aamiin," jawab Wening yakin.
"Kamu kenapa memilih dua pilihan di luar kota? Bagaimana kalau yang lolos yang jauh?" tanya Seno kembali kesal.
"Baru juga daftar Mas, belum tentu juga keterima."
"Tapi secara tidak sadar kamu tuh siap dengan dua kemungkinan itu!" Seno meninggikan suaranya.
"Kalau lolos aku nggak ambil," jawabnya kembali bertegangan.
.
Tbc
Gaes sambil nunggu novel ini up mampir ke karya temenku yuk!
__ADS_1
Kepoin ya