Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 40


__ADS_3

Pagi-pagi ada yang cemberut tidak jelas, rupanya hampir semalaman Seno tidak bisa tidur. Bahkan ia harus keramas malam-malam.


"Om, dari tadi diem terus, sariawan?" tanya Wening dengan polosnya.


"Nggak mood ngomong, lagi ngambek," jawab Seno seperti bocah.


"Eh, la kok bisa, sama Wening?" tanya gadis itu lagi tanpa dosa.


"Tahu, aku ngantuk, jangan ganggu!" ujarnya galak. Kembali berjalan menuju kamarnya setelah setelah sarapan.


"Ngantuk? Salah siapa begadang," gumam Wening tak ambil pusing.


Rasanya seperti menemukan kebebasan yang hakiki. Weekend tanpa melakukan sesuatu jelas gabut, karena suaminya bahkan tidak mau diganggu sama sekali dan malah tidur seharian, Wening pun berinisiatif membuat kegiatan sendiri. Ia menghubungi Vivi rekan tetangga bangkunya di kelas.


Ngomong-ngomong kemarin nggak masuk, ada kabar apa di sekolahan ya? Wening mencoba masuk ke room chat kelas yang ternyata sepi. Iseng scroll membaca SW teman-teman yang tersimpan dalam kontaknya.


"Apa kabar Yuda ya, ngilang tak berhilal," gumam gadis itu hampir tak percaya ternyata melihat kontak temannya itu terblokir dari ponselnya.


"Astaga! Pantesan ngilang di telan bumi, ini pasti kerjaannya Om suami ngeselin. Bisa-bisanya blokir nomor Yuda," gumam Wening tak habis pikir.


Gadis itu mencoba berkomunikasi kembali setelah sekian lama tak saling berdua lewat dunia maya. Dunia nyata Yuda dari kemarin kembali ketus bagai air es kutub utara.


"Ngapain telepon? Kemarin ngilang, sekarang baik-baikin. Nggak punya hati!" jawab Yuda di sebrang telepon mengeluarkan uneg dalam hatinya.


"Sorry, khilaf, semoga cuma sekali. Hehehe."


"Gabut, hari minggu ngapain?"


"Nggak ngapa-ngapain, lagi nunggu balasan dari Vivi."

__ADS_1


"Aku jemput mau? Jalan yuk ada film baru."


"Eh, tadi sewot sekarang ngajak jalan. Aku pamit dulu ya sama yang punya wewenang," ujar Wening kembali menjalankan misi yang tertunda.


Usai bertelepon ria Wening tengah mencari cara untuk mendapatkan izin dari paduka suami. Kira-kira alasan apa yang paling tepat untuk keluar dari rumah yang seakan memenjara dirinya.


Gadis itu memasuki kamar suaminya yang nampak lengang. Jelas saja, Seno masih tertidur, sepertinya pria itu benar-benar mengantuk.


"Mas, Wening izin keluar sebentar boleh?" pamit gadis itu seraya menggoyang bahu suaminya agar terbangun.


"Apa sih Dek, aku ngantuk, kamu bikin kesel semalam," gumam Seno setengah sadar. Kembali terlelap tanpa mau tahu apa pun.


"Ish ... siapa yang bikin kesel, emang aku ngapain? Perasaan tidur," gumam Wening sungguh tidak mengerti.


"Mas, aku janji deh nanti nggak bikin kesel. Hari ini keluar bentar ya?" pamit Wening kembali membangunkan suaminya.


"Ke mana? Nggak boleh keluar, di rumah anteng, tidur sini!" ujarnya menarik istrinya dalam dekapan.


"Beneran sebentar, iya deh boleh, sekalian beliin rokok ya?" pintanya mendadak manis.


"Oke, ditunggu pesanannya. Duit mana, duit?"


"Ambil di dompet," ujar Seno menunjuk nakas.


Yes! Merdeka! Haha.


Wening tersenyum sumringah setelah mengambil beberapa uang lembaran merah milik suaminya tentunya dengan izin yang punya.


"Pergi dulu Om, istirahat saja, nanti pasti dibeliin titipannya," ujar gadis itu pamit dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Benar-benar keluar dengan napas lega. Seperti menghirup aroma kebebasan hari ini setelah hampir dua puluh empat jam lebih terpenjara di istana suami.


Gadis itu baru saja keluar dari gerbang utama tetiba menemukan sebuah motor dengan sipemilik jangkung yang mengendarainya.


"Ayo Ning cepetan naik, panas!" Pria itu membuka kaca helmnya.


"Yuda, kok kamu udah di sini aja, dibilangin tunggu aja di tempat pertemuan, ngapain sampai ke sini?" Jelas Wening tidak setuju, apalagi kenapa Yuda bisa sampai tahu rumahnya. Sungguh huru hara menanti di depan mata.


"Ngomelnya nanti aja, ini helmnya pakai," ujar pria itu tanpa basa-basi.


Ingin marah tapi memang tidak tepat, pergi secepatnya adalah solusi terbaik saat ini.


"Kita mau ke mana?" tanya Wening sedikit tak tenang. Niatnya tidak ingin membohongi suami senekat ini, tetapi Yuda malah benar-benar menjemputnya.


"Kamu maunya ke mana? Aku ngikut aja."


"Haus, beli minum dulu dong," ujarnya sambil berpikir. Mereka turun di depan mini market. Diam-diam Wening sekalian membelikan pesanan suaminya.


"Beli apa? Kok rokok sih! Eh, ini sama kaya selera aku," ujarnya berbinar.


"Eh, bukan buat kamu. Lagian kecil-kecil ngerokok!"


"Siapa yang kecil, aku udah delapan belas tahun. Udah punya SIM, KTP, nikah juga udah bisa setelah lulus."


"Becandanya jauh bener Pak, eh serius nanya, foto yang pernah terselip di buku kamu itu siapa ya?"


Mendadak air muka Yuda berubah, pria itu terdiam sesaat.


"Bukan kamu nggak usah geer!"

__ADS_1


"Ish ... tahu, aku nggak secantik itu. Dia siapa? Kamu kenal? Sedekat apa?"


__ADS_2