
"Mas, kapan libur? Aku ada check ke dokter minggu ini," ujar Wening di pagi hari.
Hari ini terlihat lebih bugar setelah kemarin-kemarin sempat mabuk parah. Balada hamil muda yang menyisakan banyak drama. Membuat perempuan itu repot dengan mood dirinya yang kadang tiba-tiba bahagia, tetapi juga bisa sedih dalam sekejab.
"Kalau buat chek up aku sempetin, emangnya kapan sayang?"
"Minggu ini, aku ngikutin jadwal kamu Mas, aku mau ditemani," pinta perempuan itu terlihat manja.
"Oke baiklah, besok aku sempetin waktunya. Mana mungkin aku lalai masalah seperti ini."
"Kamu bisa aja, aku hanya pengennya dekat-dekat sama kamu aja Mas, kamu nggak nyaman ya?" ujar perempuan itu banyak rewelnya.
"Nyaman kok, kalau istri orang baru nggak nyaman. Istri sendiri loh ini, rezeki namanya."
"Beneran, kok kamu suka mrengut kalau aku minta aneh-aneh. Kaya nggak ikhlas," cibir Wening mendadak baperan.
"Mana ada kek gitu, tegur aku sayang kalau aku dirasa kurang membuatmu tidak nyaman."
"Nggak gitu sih, mungkin aku nyebelin semenjak hamil, nggak tahu kenapa aku pengennya deketan kamu terus. Berasa kena pelet," ucap Wening kadang merasa heran.
"Iya, bayi kita pemikatnya, maka jangan heran kalau mendadak kamu jatuh cinta banget sama ayah bayinya."
"Gitu banget, ah ... kesel," curhat Wening suka merasa aneh.
"Aku berangkat dulu, sayang, pulang ngampus langsung ke rumah," pamit Seno beranjak. Lalu mencium keningnya sebelum melangkah keluar.
Wening sendiri sudah mulai akrab dengan kehamilannya yang hampir empat bulan. Masih mual muntah, namun sudah tidak separah bulan kemarin.
Perempuan itu pun mulai aktif kembali kuliah. Walau kadang moodian. Hanya Seno lagi-lagi yang jadi penawarnya. Pria itu benar-benar menjadi suami siaga. Siap mengantarkan ke mana pun selagi ada waktu luang. Kadang memang sengaja jalan demi mengembalikan rasa bahagia sang istri yang sudah sumpek dengan pekerjaan seabrek.
__ADS_1
"Sus, biar aku yang suapin Emir, mumpung tubuhku lagi aman," pinta perempuan itu lebih suka menghabiskan waktu dengan putranya yang tumbuh semakin pintar saja. Mengingat beberapa bulan lagi punya adik, tentu waktu yang ada akan terbagi. Walau kasih sayang yang diberikan mungkin akan sama.
"Siap Buk," jawab Nancy mengiyakan.
Perempuan itu menyempatkan bersama Emir dulu sebelum berangkat kuliah yang kebetulan berangkat siang.
"Ayo makan yang banyak boy, biar bisa nyusulin papa ke kantor," celetuk Wening merasa senang. Ia membuat obrolan sembari menyuapinya dengan telaten.
Usai mengurusi Emir, Wening siap berangkat ke kampus. Perubahan tubuhnya yang sudah sedikit membuncit membuat perempuan itu harus pandai memilih pakaian. Wening berangkat dengan supir yang mengantarnya.
"Pak, nanti jemput tepat waktu ya, saya cuma ada kelas satu."
"Siap Non," jawab Pak Eko yang memilih menunggu saja dari pada bolak balik takut macet dan menyebabkan telat.
Usai dari kampus perempuan itu meminta diantar ke kantor. Sembari menenteng makan siang yang sengaja ia belikan di luar. Seno yang siang itu kedatangan istrinya pun langsung mengurungkan niatnya makan di luar.
"Pengen bilang enggak tapi iya, mau kesel juga tapi nggak bisa. Kenapa bisa gitu coba, ngeselin kan kamu."
"Hahaha ... itu namanya berkah papa soleh, anak aku banget kayaknya. Ngomong-ngomong bawa apa nih," ujar Seno melongok nasi kotak berlogo makanan sehat dalam kemasan.
"Makan siang Mas, belum makan kan?"
"Kebetulan tadi mau keluar, makasih udah dibawain. Sini makan bareng!" seru Seno mulai membuka kotak dengan menulis ayam kalasan.
"Suapin Mas," pinta perempuan itu dengan manja.
Seno pun membagi sekotak makanan itu untuk berdua, dan malah kebanyakan bumil yang lebih banyak menghabiskan.
"Mas, masih lama nggak?"
__ADS_1
"Lumayan, habis ini mau meeting juga, kenapa emang?"
"Duh ... lama ya, mana pengen jalan, healing ke mana gitu, mall nggak pa-pa deh," pinta perempuan itu selalu nyelneh di jam kerja.
"Kemarin udah banyak libur, kamu pengen healing ke mana?" tanya Seno memastikan. Kantor sedang banyak pekerjaan membuat Wening merasa kurang perhatian.
"Ke mana aja, ayo kita jalan, sekalian ajak Emir, ke mana ya enaknya."
Pria itu menghela napas panjang, sudah membuat janji dan terpaksa Wening harus menunggu sampai pulang nanti. Anehnya perempuan itu merasa tidak bosan, bahkan rela menunggu hampir dua jam lamanya demi bisa pulang bareng dan jalan sama calon ayah.
"Duh ... yang setia nungguin Mas bojo tersayang, enggak capek apa?" ledek Seno kembali ke ruangannya mendapati istrinya tengah sibuk sendiri. Usut punya usut tengah sibuk berbelanja on line yang membuatnya begitu betah.
"Mas, aku nggak jadi ke mall, tapi udah habis banyak, tolong transfer ke rekeningku," ujar perempuan itu dengan santainya.
"Oke sayang, berapa?"
"11 juta, aku ada beli mainan, baju hamil, baju pergi aku dan Emir, terus sama perabot lainnya. Eh iya, lagi pingin tas yang ini, mau ambil sekalian tapi takut kamu marah, aku bilang dulu, boleh?"
"Emang berapa?"
"Nih!" tunjuk Wening mengarahkan ponselnya.
"Empat ribu lima ratus tiga puluh dolar? Harus banget sekarang?"
"Kapan-kapan juga nggak pa-pa, aku boros ya?" Wening sedikit tak enak hati.
"Enggak pa-pa sih, kan aku kerja buat kamu, boleh kok," jawab Seno mengiyakan. Membuat senyum di wajah ayunya langsung merekah.
"Duh ... suamiku baik banget sih, makin sayang deh aku," puji perempuan itu dengan wajah sumringah.
__ADS_1