Pengantin Pengganti CEO Arogan

Pengantin Pengganti CEO Arogan
Bab 66


__ADS_3

"Hatiku cuma satu, tidak ingin aku bagi untuk orang yang tidak mau berkomitmen. Pulanglah Mas, aku butuh waktu istirahat, kamu tidak sadar, keberadaan kamu cukup menggangguku," usir Wening ketus. Tak peduli mulut pria itu semanis madu, dan selembut kapas, hatinya terlampaui kecewa membawa luka yang tersisa.


"Bagaimana bisa aku pulang, sementara separuh jiwaku tertinggal di sini. Jelaskan padaku, butuh berapa lama lagi untuk membuat hatimu mau berdamai."


Wening serasa ingin muntah mendengar puitisnya pria itu. Hello ... kemarin ke mana saat gadis itu menunggu kepastian seorang diri. Udah capek-capek nangis, susah-susah move on, sekarang datang dengan entengnya meminta maaf, sungguh Anda percaya diri sekali.


"Aku lelah, celotehan kamu membuatku semakin lelah. Bisakah pembicaraan kita tunda besok saja, ini sudah terlalu larut."


"Oke, aku paham kalau kamu capek. Tepi aku juga lelas jadi biarkan aku menginap di sini," kata pria itu enggan beranjak. Membuat Wening langsung menyorot galak.


"Jangan aneh-aneh deh, semua orang di kost ini tuh tahunya aku single. Jadi, jangan harap aku akan berbaik hati mengizinkan Mas nginep di sini."


"Sayangnya kamu memang harus berbelas kasihan padaku untuk malam ini," jawab pria itu tak mau tahu.


"Tolong Mas, jangan mempersulit hidupku, aku bakal laporin ibu kost kalau kamu nggak keluar dari sini."


Seno malah tertawa tidak jelas mendengar celotehan istrinya yang super sekali. Dia tentunya cukup santai dengan statusnya yang masih sah suami istri.


"Laporin aja Dek, sekalian aku kenalan nanti sama ibu kostnya, kalau aku suamimu."

__ADS_1


"Ngeselin banget sih jadi cowok, pulang nggak?"


"Nggak mau, please ... jangan marah-marah melulu, nggak capek apa berantem mulu," ujarnya mendekat.


"Justru karena capek, makanya pingin udahan," jawab Wening dingin.


"Kamu ingin tapi aku enggak, tolong pikirkan lagi, jangan sampai keputusan yang sudah diambil akan kita sesali."


Seno mendekat, menatap matanya yang bening. Berusaha menemukan jawaban atas perasaannya. Mulut bisa saja berbohong, tetapi hati tak bisa mengkhianati.


"Kalau memang butuh bicara, besok bisa kembali lagi. Sekarang pulanglah!" Sesungguhnya untuk hari ini Wening terlampaui lelah. Lelah body dan lelah hati.


Masalahnya, Wening sungguh tidak nyaman ditungguin pria yang masih sah menjadi suaminya itu. Ia terlalu takut untuk terluka kembali. Lelah hayati menghadapi suaminya yang bak abegeh labil. Sebentar posesif, sebentar lagi nggak nganggep sama sekali, bahkan mungkin tidak mencintainya.


Sungguh malam ini menguras emosi jiwa dan tenanga. Marah pun tak ada guna, saat pria itu malah duduk santai tanpa merasa berdosa.


Wening akhirnya memilih mengabaikan saja pria itu seorang diri. Terserah saja, tidak usah ditanya atau bahkan anggap saja tidak ada di ruangan itu.


Waktu semakin larut saja, habis untuk berdebat tanpa arti. Membuat gadis itu memutuskan untuk mlipir ke kamar mandi. Membersihkan diri setelah seharian berkutat dengan banyaknya kegiatan. Tidak mandi, hanya bersih diri sebelum beranjak ke ranjang.

__ADS_1


Saat perempuan itu membuka pintu kamar mandi, terlihat pria itu sudah melepas celana panjangnya dan kemejanya. Menyisakan kaus polos dan celana pendek pada tubuhnya.


"Ayo istirahat Dek, ini sudah hampir pagi," ujarnya seolah tidak terjadi apa pun.


Wening melirik sengit plus resah. Bagaimana ceritanya pria itu tiba-tiba menginap, sungguh ini tidak baik apalagi seranjang. Sama sekali bukan solusi di saat perempuan itu bahkan ingin benar-benar mengakhiri. Kalau begini, takut hatinya goyah, memberikan kesempatan lagi yang akhirnya malah kembali terluka seorang diri.


"Kamu tidur di mana? Aku tidak mau seranjang," tolak Wening jujur.


"Apanya yang salah, kita hanya berpisah sementara, bukan lepas ikatan. Mari kita mediasi mandiri?"


"Maksudnya?" tanya perempuan itu sungguh tidak mudeng.


"Mengenai gugatan itu, yang kamu layangkan padaku. Entah itu dengan sengaja atau karena khilaf semata, semoga hanya khilaf lantaran sedang emosi. Aku mohon, besok cabut pengajuannya."


"Aku sengaja kok, dengan sadar bahkan tidak khilaf sama sekali. Aku lelah Mas, hidup dalam bayang-bayang perasaan kamu yang belum tuntas dengan cinta lamamu."


"Oke, aku salah udah mendiamkan kamu beberapa hari. Aku minta maaf, sungguh tidak terbesit dalam benak aku ingin mengakhiri hubungan ini. Bagiku cerita aku dan kakakmu sudah berakhir, sisanya hanya sebatas kakak ipar untukku. Tidak lebih, dan juga tidak kurang. Perasaan aku sepenuhnya milikmu, walaupun kamu tidak percaya sekalipun. Demi Allah aku berusaha untuk mempertahankan rumah tangga ini. Aku hanya merasa kecewa saat takdir seakan mempermainkan diriku. Namun, aku sekarang sadar, hikmah dari semua ini mempertemukan perasaan aku denganmu, yang awalnya masih abu-abu, menjadi begitu jelas. Bahwa aku benar-benar mencintaimu."


"Dek, aku minta maaf atas sikapku kemarin, aku hanya sedikit kaget, tapi sekarang cepat aku benahi perasaanku, tanpa ragu sedikit pun. Maafkanlah aku, mari kita mulai dari awal lagi, aku yakin, kamu juga sudah mulai mencintaiku," ujarnya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa.

__ADS_1


__ADS_2