
Pelan, namun pasti, pria itu menyusuri lekuk tubuh istrinya hingga menyeluruh. Menggigit lembut hingga tanda kemerahan itu berkelip memenuhi tubuhnya yang mulus. Sampai pada akhirnya, perempuan itu begitu mendamba dan merasakan begitu menginginkan.
Gadis itu bergetar, saat pria itu mulai menyapa lebih dalam. Mengulitinya tanpa sisa, hingga tak ada sekat sedikit pun di antara keduanya. Saling mengisi dan memberi kehangatan di bawah selimutnya.
Perempuan itu bergerak gelisah, serasa semua terpusat padanya. Saat sesuatu yang paling asing mulai bertandang pada inti tubuhnya. Perempuan itu menjerit tertahan, merasakan sensasi yang paling baru dalam dirinya menembus dinding pembatas di antara keduanya hingga menjadi satu begitu sempurna.
"Sakiit ... Mas ...." rintih perempuan itu mencengkram kuat bedcovernya. Napasnya memburu resah, hingga pria itu menjeda aktivitasnya sejenak.
Wening terus bergerak gelisah, merasakan sakit yang luar biasa pada pusat tubuhnya. Saat pria itu semakin dalam menembus cakrawala cinta miliknya.
Seno menenangkan, meraih cengkraman tangannya hingga keduanya bertaut, beradu dalam satu genggaman. Pria itu membimbing istrinya perlahan, meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Kembali memagut bibirnya dengan lembut, seirama gerakan naik turun yang dimainkan pria itu hingga membuat gadisnya melenguh panjang.
"Iya, aku pelan sayang," jawab pria itu berusaha membuatnya nyaman. Masih begitu pemula, jadi keduanya pun sama-sama belajar. Walaupun tidak bisa dipungkiri sebagian telah pria itu pelajari, nyatanya praktiknya luar biasa jauh lebih ehem dari segalanya.
Istrinya begitu menggairahkan, hingga dalam sekejap saja mampu membuatnya menjadi candu. Pria itu kembali memberikan sentuhan sayang dengan indera perasanya. Memainkan sisi sensitif istrinya yang terasa manis lagi memabukkan. Sembari membuat gerakan dan memainkannya dengan penuh minat.
Setitik bening di sudut matanya lolos dengan penuh keharuan. Seno mengelap dengan jemarinya penuh kelembutan. Sadar, bahwa perempuan di bawah tubuhnya kini telah utuh menjadi miliknya seorang. Tidak ada yang diragukan, semuanya tanpa batas. Menyatu dalam keindahan surga cinta yang siap mereka bangun bersama.
Hentakan kecil yang diberikan pria itu mampu membuat Wening merasa terbuai ke angan. Antara setengah sakit, dan rasa nikmat itu bercampur tak karuan.
"Enggh ... pelan Mas," gumam perempuan itu mulai sedikit merasa nyaman. Walau baru saja merasa mengarungi sensasi yang panas menggelitik manja.
__ADS_1
Seno pun mengikuti keinginannya, tak ingin jor-joran di hari pertama. Sadar betul, tidak mudah bagi perempuan untuk melepas hari pertama.
"Apa seperti ini lebih baik? Aku sangat pelan, sayang," bisik pria itu sembari menggigit kecil cuping telinganya.
Wening hanya mengangguk samar, netranya terpejam menikmati setiap hujaman cinta yang diberikan pada tubuhnya. Mulutnya terus mengeluarkan suara erotis yang mampu membuat pria itu semakin menggila. Hingga keduanya terasa meledak bersama. Merasakan sensasi paling luar biasa dalam hidupnya.
Pria itu memungkasi dengan banyak kecupan mendarat di pipinya sembari menggumamkan terima kasih. Malam ini keduanya melalui begitu sempurna.
"Sakit?" tanya pria itu sambil mengelap peluh istrinya yang membasahi kening.
"Dikit," jawabnya malu-malu. Menyembunyikan wajahnya ke samping.
"Nggak pa-pa kok, di awal saja, nanti juga bakalan terbiasa. Malah makin sering makin nikmat dan nyaman," ucap pria itu sembari menciumi bahunya yang polos. Seakan belum puas dengan seasons pertama.
"Perasaan kamu gimana?" bisik Seno lembut. Mengusak mahkotanya dalam cumbuan.
"Bahagia tapi takut," jawab Wening jujur.
"Takut kenapa, Sayang?" tanya Seno mendekapnya manja.
"Takut hamil, harusnya setelah kita baikan aku di KB dulu," ujarnya baru tersadar.
__ADS_1
"Owh ... itu, kalau aku boleh egois, aku ingin kamu tidak menundanya. Aku seneng kalau kamu hamil, buah cinta kita akan tumbuh di sini," ucap Seno sembari mengelus perut istrinya yang masih rata.
"Aku pengen selesain kuliah dulu, baru hamil," jawab Wening penuh pertimbangan.
"Nanti kita bahas ini lagi ya, kita bicarakan baik-baik maunya gimana, demi kenyamanan bersama dan keberlangsungan rumah tangga kita. Termasuk tempat tinggal kamu.
"Iya Mas, aku haus," ucapnya merasa tenggorokannya butuh air. Setelah berolahraga malam yang cukup menguras energi dan membuatnya berasa pegel di sana sini. Capek dan sebagian berasa remuk. Benar-benar melelahkan dan melenakan.
Seno mengambil minuman kemasan yang sempat ia beli sembari perjalanan pulang. Seakan menyiapkan dengan detail perkara semalam yang sudah ditunggu-tunggunya beberapa purnama. Sampai perempuan itu lulus di jenjang menengah atas akhir. Hingga kini tepatnya malam ini keduanya benar-benar melunasinnya tanpa sisa.
Wening terduduk sambil menahan selimut untuk menutupi dadanya. Satu tangannya meraih minuman dalam kemasan. Pria itu mengamati wajahnya sambil terduduk diam. Membenahi mahkotanya yang tergerai menghalangi pipi ke belakang pundaknya.
"Makasih, udah jadi istri yang sesungguhnya," ucap Seno tersenyum bahagia. Seluruh jiwa raganya tengah merasa bersyukur atas apa yang baru saja mereka lalui.
"Terima kasih juga udah sabar sampai Wening lulus, maaf kalau aku belum bisa mengimbangimu."
"Mau dulu aja aku udah seneng banget, belajar sambil jalan, nanti pinter sendirinya. Rasanya pasti lebih—"
"Diem Mas, jangan dibahas, lebih baik kita istirahat sudah larut."
"Aku belum ngantuk sayang, bagaimana kalau kita ulangi sekali lagi. Mau?"
__ADS_1
"Hehehe, sepertinya besok saja Mas, masih begitu terasa ngilu dan sakit."
"Pelan-pelan aja, Sayang, kali ini pasti lebih—kita coba sekali lagi ya?" pintanya lembut. Kembali membuai dan membimbing istrinya agar menurut, hingga perempuan itu tak bisa menolak sedikit pun. Saat lagi-lagi cumbuan dan sentuhan demi sentuhan nakal pria itu menguasai tubuhnya.