
"Tumben ngomongnya bener, emang biasanya nggak baik?" sahut Seno menggeleng tak setuju.
"Baik sih, tapi hari ini baik banget, ngomong-ngomong kapan pulang?"
"Belum jam pulang, tidak boleh nepotisme, tunggu bentar ya, masih sabar kan?"
"Enggak, males tahu nunggunya capek seharian," keluh perempuan itu mendrama.
"Maaf deh, bentar lagi."
Seno menurunkan tubuhnya menjadikan lutut sebagai tumpuan. Lalu mencium perut istrinya sembari bercakap-cakap layaknya komunikasi bahasa tingkat tinggi.
"Dedek sabar ya, kan papa lagi kerja. Biar mamud senang bisa dimanja terus," cakap pria itu sembari mencium perutnya.
"Beneran masih lama? Aku pulang dulu deh," ujar Wening merasa bosan.
"Oke, sebentar lagi," kata pria itu berkemas.
Seno menuntun istrinya lalu berjalan cepat menuju lift.
"Mas, aku nggak mau langsung pulang. Kita pacaran dulu yuk!" ajak perempuan itu yang seketika membuat Seno tersenyum. Tetapi memang benar, mereka memang tidak punya kenangan apa pun karena bahkan pernikahannya pun dadakan.
Mengawali perkenalan pertama dengan cek cok dan saling mengolok. Bahkan tak jarang menyebabkan huru hara. Merasa lucu jika mengingatnya. Tetapi memang benar adanya.
"Memangnya mau ke mana?" tanya Seno tak bisa menolak.
"Bagaimana kalau kita nonton, jalan sore, terus kulineran, sepertinya menarik," usul perempuan itu antusias.
"Pengen nolak, tapi sayang, ya udah demi istri tercinta, apa sih yang nggak buat kamu."
"Duh ... sweetnya ngalahin gula kiloan, jadi kita pacaran ya."
Pria itu terkekeh gemas mendengar pernyataan istrinya. Walau sebenarnya lelah, namun demi membuat hatinya bahagia, tentu Seno tak tega apalagi Wening sudah menunggunya sedari siang.
Keduanya menuju bioskop, kebetulan hari ini tengah lauching film dengan genre yang paling pas dengan seleranya. Membuat ibu hamil itu begitu antusias.
"Mas, aku tunggu di sini, kamu beli tiket masuk sekalian cemilannya."
Pria itu menurut, demi apa pria yang dulu galak dan arogan itu begitu bucin terhadap istrinya. Ternyata cinta memang seajaib itu. Bisa merubah hati yang keras, bahkan lumer ngalahin coklat manis dalam gigitan.
"Ayo sayang, full!" ucap pria itu menenteng kresek penuh cemilan.
"Mas, Emir lagi apa ya, aku kangen," ucap perempuan itu setelah mengambil duduk.
__ADS_1
"Mungkin lagi main, kalau nggak tidur, kalau nggak lagi nangis," jawab pria itu dengan kemungkinan yang mungkin terjadi.
"Baru masuk, jangan bilang mau pulang loh ini," ancam Seno memperingatkan.
"Dih ... siapa yang mau pulang, filmnya seru, 'Pengantin Pengganti CEO Arogan' aku mau nonton sampai habis."
"Iya, cowoknya nyebelin banget, masa sama istrinya galak gitu," kata Seno berisik sekali.
"Kaya kamu Mas, galak!"
"Eh, kok ngatain?"
"Emang bener kan, jangan berisik nonton tuh matanya, mulutnya diem."
"Mas, tuh orang kok pada mesum, anak muda jaman sekarang nggak tahu tempat amat." Wening merasa risih melihat di sebelahnya tengah bertukar saliva di kegelapan lampu bioskop.
"Bukan urusan kita, kamu pengen?" tanya Seno tersenyum.
"Apaan sih, tapi iya," jawab Wening nyengir.
"Mau di sini?" tawar pria itu santai.
"Eh, jangan ngadi-ngadi, mana enak cuma ciuman doang, nanti saja di rumah, bisa lebih kan?"
"Ish ... cium doang juga."
"Nggak mau, ciuman mah kurang hot buat pasangan halal. Menjauh dariku Mas!"
Keduanya menonton sampai selesai walau penuh dengan drama. Hingga sampai rumah, nyatanya tak terealisasi sama sekali sebab perempuan itu mengeluh lelah.
"Sini Mas, pijitin kakiku pegel semua," keluh Wening setelah bebersih dan menuju ranjang.
"Yang mana, sini?" Pria itu dengan telaten dan penuh kelembutan memijit istrinya yang cukup rewel. Hingga tertidur dan Seno pun ikut tertidur menjemput pagi.
"Mas, kamu hari ini nggak boleh berangkat, udah janji nganter aku ke dokter," ucap perempuan itu begitu terjaga.
"Ingat kok, nanti aku kerja dari rumah. Semalam ninggalin aku tidur, padahal udah janji dimanis-manisin," protes Seno menekuk mukanya.
"Duh ... aku ketiduran Mas, kenapa nggak bangunin?" ujar Wening cuek.
"Sekarang boleh?" pinta pria itu mencoba peruntungan di pagi hari.
"Maaf Mas, Anda belum beruntung, mana nyaman gituan pagi hari. Nanti malam ya?" janji perempuan itu tanpa kepastian.
__ADS_1
Hari ini Seno memang menyempatkan waktunya untuk mengantar istrinya chek up ke dokter. Keduanya sangat bersemangat setelah membuat janji terlebih dahulu.
"Mas, semoga hari ini dedeknya bisa diajak kompromi ya, mau bagi tahu jenis kelaminnya," ujar Wening antusias.
Pasalnya, beberapa kali USG janin di dalam perut dengan posisi menyembunyikan identitasnya.
"Ya semoga beruntung, atau mungkin bisa jadi masih malu. Dia mau memberi kejutan pada kita," jawab Seno sekenanya.
"Ish ... aku kesulitan mencari pernak pernik perlengkapan bayinya kalau belum jelas."
"Kenapa jadi pusing, bisa dibeli setelah lahir juga," jawab Seno enteng.
"Aku bukan kamu yang sukanya apa-apa dadakan." Keduanya malah debat kecil di dalam mobil.
"Yang penting kan beres, iya nggak?"
"Nggak ah, males ngomong sama kamu." Wening merajuk, keluar dari mobil lebih dulu sebelum Seno membukakan pintu.
"Eh, kok ngambek, apa salah dan dosaku," gumam pria itu berjalan cepat mensejajarkan tubuhnya. Meraih tangannya dalam genggaman.
"Jalannya jangan cepet-cepet, kasihan bayinya sama ibunya," tegur pria itu perhatian.
Wening menatapnya datar, duduk menunggu giliran setelah mendaftar. Pasangan pasutri itu sama-sama terdiam menanti dipanggil.
"Kusuma Pawening!" seru seorang suster menginterupsi.
Wening langsung beranjak dari tempat duduk tanpa mengajak suaminya. Seno mengekor saja tanpa bicara.
"Ibu Wening, silahkan timbang dulu Bu!"
Wening menurut, melakukan pengukuran berat badan, tensi, dan juga lingkar perut.
Dokter membubuhi coretan hasil pemeriksaan di buku KIA. Kedua pasangan itu baru berdamai setelah USG anak mereka usai dan ternyata belum juga menampakkan jenis kelaminnya.
"Sepertinya dia sangat pemalu," kata Seno sok tahu.
"Mungkin, jadi nggak sabar pengen cepet lahir, rumah kita akan sangat ramai dengan dua bayi ditambah kamu."
"Kayaknya sekarang kamu yang lebih rewel deh, ngambekan, dan ngeyelan."
"Aku ngeselin ya Mas?" tanya perempuan itu mrengut.
"Nggak kok, walau kadang dikit sih, tapi semoga aku sabar, love you."
__ADS_1
Perempuan itu langsung tersenyum mendengar pernyataan recehnya.