
Mendadak Wening menjadi galau, ia tidak tahu harus mengambil sikap seperti apa. Ditambah lelah, dan ngantuk, rasanya tidak berselera untuk terus berdebat.
"Kita bahas besok Mas, aku capek mau istirahat," ujarnya mengambil tempat lalu berbaring.
"Istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu, ini juga sudah terlalu larut," ujarnya ikut merebah di ranjang yang sama.
"Jangan mendekat, aku tidak mengizinkanmu menempati ranjang!" usirnya ketus.
Seno terdiam, menatap wajah istrinya yang cemberut dan nampak terkantuk-kantuk. Membuatnya sedikit mengalah lalu tiduran di bawah beralaskan karpet karakter yang tersedia. Dingin, tentu saja, Bandung tidak seperti Jakarta yang terik. Membuat Seno nampak kedinginan. Namun, ilmu kejam sepertinya tengah Wening kibarkan, hingga membuat gadis itu mengabaikan saja tanpa belas kasihan.
Perempuan itu sudah merebah, membungkus tubuhnya dengan selimut. Dia sengaja memunggungi suaminya yang mungkin sekarang juga sudah tertidur. Diam-diam Wening penasaran dan kesulitan untuk menemukan kantuknya, apakah benar seorang CEO mau tidur di lantai karpet?
"Nih! Pakai selimut, bantalnya juga, ngerepotin banget jadi cowok. Dibilangin pergi, uangmu banyak untuk menyewa hotel yang nyaman, cari masalah mulu!" omel Wening menggeruru seraya melempar selimut ke tubuh suaminya.
Dalam hati Seno tersenyum, walau bernada ketus dan marah, nyatanya gadis itu masih mempunyai rasa kasihan dan tidak membiarkan kedinginan seorang diri.
"Makasih," jawab pria itu dengan senyuman. Pria itu menarik selimut hingga sebatas dagu, lalu mencoba terlelah walau beralaskan karpet yang jauh dari kata nyaman.
Rasanya gadis itu baru saja terlelap saat terjaga di pagi hari menemukan matahari sudah meninggi. Hari sabtu libur kuliah, namun ia berangkat ke kafe lebih awal.
Saat membuka mata, menemukan suaminya sudah terbangun lebih dulu, tengah duduk di bibir ranjang sembari mengamatinya, membuat gadis itu jelas kaget luar biasa.
"Pagi Dek?" sapa Seno tersenyum sumringah.
"Kok masih di sini?" tanya Wening sambil mengucek matanya. Langsung terduduk begitu saja.
"Kan emang di sini dari semalam," jawabnya santai.
Gadis itu turun dari ranjang, langsung bergegas ke kamar mandi. Mengabaikan Seno yang sedari tadi terdiam mengamatinya dengan pasti.
Usai membersihkan diri, gadis itu bersiap seakan ingin pergi. Membuat Seno bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Mau ke mana? Katanya libur? Obrolan semalam belum selesai, Dek," ujar Seno tak tahan terus berseteru.
"Pulanglah Mas, aku sudah memaafkan dirimu, tapi maaf, kalau untuk kembali aku tidak bisa," ucap Wening jelas dan cukup gamblang.
Seno berusaha menahan diri untuk menguasai hatinya. Sudah melangkah sejauh ini, tidak akan menyerah hanya karena satu penolakan untuknya.
"Aku hanya ingin pulang bersamamu, tolong beri aku kesempatan untuk memulai kembali," mohon pria itu terus mengekor istrinya yang nampak tengah sibuk merias diri.
Wening terdengar menghela napas panjang, lalu menatapnya serius.
"Pendidikan aku di sini, sekalipun kamu memohon, aku tidak akan kembali."
"Bukan itu, aku bisa menerima walau itu berat, cuma untuk hubungan kita, sekiranya tetap berjalan sebagaimana mestinya."
"Sebaiknya Mas memikirkan ulang, karena keputusanku tidak akan berubah. Apa kamu sanggup untuk berkomitmen dengan karakter dan waktu yang terpisah?"
"Sanggup, tolong beri aku kesempatan kedua."
Jujur, Wening masih sakit hati perihal diamnya Seno kemarin. Saat dia harus berangkat seorang diri ke Bandung pun, suaminya seakan diam seribu bahasa. Walaupun kata Om Wahyu menyuruhnya mengantar, nyatanya salam perpisahan pun tega ia abaikan.
"Bagian mana yang belum yakin, aku harus ngelakuin apalagi supaya kamu yakin?" tanya Seno sendu.
"Kemarin aku sabar, diam karena sengaja memberikan kamu ruang, begitupun denganku, sudah cukup sampai hari ini, aku ingin kita berdamai. Apa harus melibatkan orang tua baru kamu yakin dan percaya?" tekan Seno di ambang putus asa.
"Dek, mau ke mana? Aku belum selesai ngomong."
"Mau cari sarapan, ngapain sih ngikutin mulu, orang cuma ke warung sebrang juga."
"Nggak kabur, 'kan? Aku ikut," ujar pria itu mengekor istrinya berjalan.
"Ish ... ngapain? Depan, sebrang jalan. Tunggu di kostlah!" omel Wening sebal. Hidupnya serasa tidak tenang saat pria itu terus membuntutinya dalam setiap aktifitasnya.
__ADS_1
"Oke, jangan lama-lama. Jangan berencana kabur juga," ujar Seno ketar-ketir.
Wening mengabaikan ucapan suaminya lalu berjalan begitu saja. Wening membeli dua bungkus nasi rames tempat langganannya. Kembali setelah melakukan pembayaran. Gadis itu masuk ke ruangannya dengan Seno yang terlihat masih stay di sana tengah menghubungi seseorang. Sepertinya Wahyu, mungkin saja soal pekerjaan.
"Nggak bisa ditunda dulu, aku belum bisa pulang, nggak tahu kapan, tolong handle kamu dulu," ucap Seno terdengar menahan kesal tengah bertelepon.
"Nanti aku telepon lagi, tolong kirim berkasnya biar aku pelajari," pesan pria itu lalu menutup panggilan.
"Kalau sibuk, kenapa nggak pulang, di sini juga nggak ngapa-ngapain," ujar Wening sembari menyodorkan satu bungkus nasi ke hadapan suaminya.
"Ada masa depan aku di sini, tolong jangan mematahkan harapanku, segitunya kamu marah? Aku mengorbankan banyak hal, semoga kamu ngerti," ucap pria itu menatap lekat netranya. Tangan kanannya meraih pergelangan tangan istrinya tanpa mengambil kresek yang berisi bungkusan nasi di dalamnya.
"Sarapan," ujarnya mencoba melepaskan cekalan tangannya yang begitu erat.
"Aku nggak lapar, aku butuh kamu," jawab pria itu terdengar serius dengan sorot mata tajam.
"Mas, ngapain, lepas!" tepis Wening sedikit kasar.
Seno yang gemas langsung menariknya hingga perempuan itu menubruk tubuhnya. Membiarkan kresek di tangannya terjatuh begitu saja.
"Mas!" tekan Wening dengan sorot mata gelisah. Ditatap suaminya begitu dekat membuat perempuan itu mati gaya. Keduanya terdiam beberapa saat, menyisakan ruang hampa dalam keheningan.
Saat Seno hendak menyentuh bibirnya, Wening menolak dengan menolehkan wajahnya. Membuat pria itu terpejam menahan diri.
"Aku akan pulang hari ini, tolong beri aku kepastian," bisik pria itu dengan nada bergetar.
"Pulanglah, aku tidak akan menahanmu," jawab perempuan itu begitu tenang. Berusaha menahan diri untuk tetap tegar dengan keputusannya.
Pria itu meninggalkan kamar setelah menyematkan jejak sayang di keningnya. Perasaan keduanya begitu kacau.
"Aku akan kembali lusa, semoga hatimu sudah bisa menerima. Ada masalah di kantor yang membutuhkan penanganan segera," ucap Seno menyayangkan.
__ADS_1
Rasanya begitu berat meninggalkan Wening seorang diri. Galau antara pekerjaannya atau tetap bertahan membujuk istrinya yang masih alot.