
Seno menyuapi istrinya dengan telaten. Walaupun perempuan itu nampak malu-malu di bawah tatapan kedua mertuanya. .Nampaknya Seno cuek aja bahkan tak segan mengekspresikan rasa sayangnya di depan mereka.
Definisi dari bahagia berselimut syukur, senyum itu bahkan tak pernah luntur menatap keduanya. Rasanya seperti mimpi, tetapi nyata, mereka telah menjadi keluarga kecil dengan dua anak yang menggemaskan dan siap mewarnai rumah pastinya.
"Jangan gini Mas, ada mama sama papa, duduknya geseran dikit, terus aku mau makan sendiri, tanganku nggak sakit," tolak Wening merasa canggung. Suaminya over perhatian, dan sangat pengertian. Sayangnya Wening yang mupeng sendiri.
"Nggak pa-pa, mereka ngerti kok, lagian perhatian sama istri apanya yang salah." Pria itu tersenyum kalem menatapnya.
"Nggak ada yang salah, cuma aku mau makan sendiri, berasa anak kecil disuapin," ujar Wening manyun.
"Emang masih kecil, 'kan? Belum genap dua puluh tahun, tapi anaknya udah dua. Hehehe, mamamud subur," ledek Seno yang tentu membuat ibu baru itu tersenyum.
"Ish ... itu kamu yang terlalu aktif, tega banget sih bikin anak gadis orang tak berdaya," jawab Wening menggeleng pelan.
Seno malah tertawa mendengar jawaban istrinya, bahagianya papa baru menyongsong hari esok.
"Udah kenyang, Mas," tolak Wening menerima suapan suaminya.
"Dikit lagi, biar makin strong kasih ASI buat Zela," bujuk Seno menyebut nama putri mereka. Azaalea Khaliqa Ardiguna adalah nama anak kedua mereka.
"Jadi kangen Emir, lagi apa ya, dari kemarin sampai belum lihat." Mendadak Wening mengingat putra kecil mereka yang ditinggal di rumah bersama susternya.
"Tidur mungkin, nanti vidio call setelah makan," ujar Seno yang akhirnya menghabiskan beberapa suapan sisa istrinya.
Belum merasa kenyang, dan karena belum makan juga, Seno giliran mengambil nasi dalam mika yang tadi sempat dibeli. Pria itu memang mengabaikan makan dari siang gegara panik menghadapi istrinya mau lahiran.
__ADS_1
"Aku makan dulu ya, kamu masih mau lagi nggak?" tawar Seno sembari membuka bungkusan.
"Makan yang banyak, biar kuat gendong Emir dan Zela," seloroh Wening tersenyum.
"Satu lagi, bundanya minta gendong juga, minta disayang-sayang," jawab Seno benar adanya.
"Ngalah dulu, takutnya kamu mepet-mepet mulu." Wening menatap waspada.
"Padahal kemarin baru aja request gaya elegant, mumpung belum puasa, belum keturutan malah adeknya udah nongol. Lama ya puasanya," ucap pria itu dramatis.
Giliran Wening yang dibuat tersenyum dengan perkataan suaminya.
"Sabar dong Mas, belum apa-apa udah menyedihkan gitu, kecil dua bulan mah, apalagi papamud sibuk kerja, bentar aja sampai."
"Alhamdulillah ... moga beneran ya, sabarnya ditambah, rezekinya makin melimpah. sayangnya makin luas," ucap Wening tulus.
"Makasih sayang," jawabnya dengan rasa syukur.
Setelah dirawat di rumah sakit selama dua hari, Wening boleh langsung pulang karena sehat, bayinya juga sehat. Perempuan itu juga sudah sangat rindu dengan putra kecilnya yang baru bisa belajar jalan.
Kebahagian Wening bertambah kala sampai rumah mendapati ibu dan bapaknya dari kampung sudah sampai di rumah. Rencananya mau langsung ke rumah sakit, namun, lantaran Wening malah sudah diizinkan pulang, akhirnya Bu Ana dan Pak Tomo menunggu di rumah menyambut kepulangan putrinya sekaligus surprise tentunya.
"Ibuk!" pekik Wening berbinar bahagia mendapati Bu Ana ada di rumahnya tengah menggendong Emir.
"Sehat, Bu? Kok bisa udah sampai aja?"
__ADS_1
"Baru sampai tadi sekitar dua jam yang lalu, rencana mau langsung ke rumah sakit, tapi kata Seno udah boleh pulang, ya sudah nungguin di rumah aja. Kamu sehat sayang?" Ibu dan anak itu saling memeluk rindu setelah menyalim takzim punggung tangannya.
"Alhamdulillah Bu, semuanya dimudahkan. Emir, ikut embah ya?"
"Syukur alhamdulillah, mana Zela?"
Bu Ana mengamati bayi mungil dalam gendongan besannya di mobil belakangnya.
"Alhamdulillah ... senang sekali dikabari udah lahiran, sehat-sehat ya Cu," ucap Bu Ana membuai Zela.
"Sehat Bu besan?" Bu Yasmin dan Bu Ana saling sapa, begitu pun dengan Pak Tomo dan Pak Ardi. Rasanya bahagia sekali dikerubuti cucu, apalagi kini Emir sedang tahap latihan jalan yang membuat orang lain yang melihatnya merasa gemas.
"Kamu istirahat saja, ibu dan bapak udah disiapin kamar juga biar mereka rehat dulu, kasihan baru sampai," ujar Seno yang mendampingi istrinya masuk kamar.
"Iya Mas, makasih banyak kejutannya, aku tersanjung, nggak nyangka banget kamu seperhatian ini sama orang tua aku."
"Orang tua kamu orang tua aku juga, jangan sungkan gitu,
aku keluar bentar ya? Jika butuh sesuatu jangan ragu panggil suamimu."
"Ya pasti panggil kamu lah Mas, masa panggil suami orang," seloroh Wening sebelum beranjak.
"Bisa aja kamu, Dek, bener sih, nggak mungkin juga panggil suami tetangga, aku pasti murka. Hehe."
Seno kembali beramah tamah dengan keluarga kecil lainnya dari Bu Yasmin.
__ADS_1